Pencarian populer

Erdogan untuk Kemenangannya: Turki Ajari Demokrasi kepada Dunia

Presiden Turki, Tayyip Erdogan. (Foto: Kayhan Ozer/Presidential Palace/Handout via Reuters)
Recep Tayyip Erdogan memenangkan pemilu presiden Turki dalam satu putaran pada penghitungan suara Minggu (24/6). Dalam pidato usai kemenangannya, Erdogan mengatakan bahwa pemilu Turki akan menjadi pelajaran demokrasi bagi dunia.
ADVERTISEMENT
"Saya diberikan kepercayaan oleh bangsa dengan tugas dan kewajiban sebagai presiden. Turki telah memberikan pelajaran demokrasi pada dunia," kata Erdogan di hadapan ribuan pendukungnya di ibu kota Ankara, usai dinyatakan sebagai pemenang, pada Senin dini hari (25/6).
Pelajaran demokrasi yang dimaksud Erdogan adalah banyaknya partisipasi warga Turki dalam pemilu presiden dan parlemen, yaitu mencapai 88 persen dari hampir 6 juta pemilih. Bandingkan dengan pemilu Amerika Serikat pada 2016 yang hanya sekitar 61 persen.
Erdogan memenangi pemilu Presiden Turki dengan total raihan 52,5 persen suara dalam penghitungan suara yang telah mencapai 99 persen. Sementara saingan utamanya Muharrem Ince, dari Partai Rakyat Republik (CHP) memperoleh suara sebesar 31,7 persen suara.
Tayyip Erdogan bersama isterinya. (Foto: Reuters/Umit Bektas)
Dalam pidato kemenangannya, Erdogan menyatakan komitmennya yang tidak tergoyahkan untuk memerangi terorisme, terutama di wilayah perbatasan Suriah yang dikuasai milisi Kurdi. Selain itu, Erdogan juga menyatakan akan meningkatkan prestise Turki di mata dunia.
ADVERTISEMENT
"Turki tidak punya banyak waktu, kita tahu itu. Bendera kita akan berkibar lebih bebas, perdamaian untuk semua rakyat akan ditingkatkan," kata Erdogan lagi.
"Satu bangsa, satu bendera, satu negara," kata dia lagi.
Dengan kemenangan lebih dari 50 persen, Erdogan akan memangku jabatan presiden tanpa harus melanjutkan ke pemilu putaran kedua. Erdogan juga mengumumkan kemenangan partainya, AKP, yang berkoalisi dengan Partai Gerakan Nasionalis (MHP).
AKP mendapatkan 293 kursi sementara MHP 50 kursi dari total 600 kursi di parlemen. Dengan jumlah perolehan kursi ini, koalisi Erdogan mendapatkan suara mayoritas di parlemen.
Presiden Turki, Tayyip Erdogan. (Foto: Kayhan Ozer/Presidential Palace/Handout via Reuters)
Erdogan akan memimpin Turki dengan sistem pemerintahan baru yang disepakati pada referendum April 2017. Sistem negara parlementer Turki akan berubah menjadi presidensial.
ADVERTISEMENT
Di bawah sistem baru nanti, posisi perdana menteri akan dihapuskan dan diganti oleh wakil presiden. Nantinya presiden memiliki kekuasaan yang lebih besar, termasuk menentukan anggaran negara tahunan dan menetapkan status darurat sipil yang selama ini dipegang oleh kabinet dan parlemen.
Erdogan tidak pernah kalah dalam setiap pemilu dalam 15 tahun memimpin. Dia memperingatkan agar tidak ada kelompok yang meragukan hasil dalam pemilu kali ini.
"Saya berharap tidak ada orang yang ingin merusak demokrasi negara kami dengan meragukan sistem pemilu dan hasilnya untuk menutupi kegagalan mereka," kata Erdogan.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan dan Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.80