Eros Djarot: Kalau Ketum Partai Seleranya Jelek, Marsnya Pasti Jelek
9 November 2018 12:54 WIB
0
0
Seharusnya Eros Djarot sudah tahu kami datang ke rumahnya untuk membicarakan mars partai. Namun, saat ia menangkis pertanyaan kami dan memaksa bahwa membicarakan himne adalah jauh lebih penting, kami tak punya pilihan.
“Himne dulu. Kenapa himne? Ada satu momen di mana setiap pertemuan besar itu himne diputar. Kenapa?”
Retoris tentu saja. Sepengetahuan kami, mars juga dimainkan dalam setiap pertemuan besar organisasi. Belum sempat kami menyanggahnya, Eros bacut melepas kokang dan menarik pelatuk.
Menurutnya, himne amat penting untuk “...mengikat pertalian jiwa, menyatukan semangat, menyatukan spirit.” Himne, menurutnya, penting bagi anggota untuk mengasosiasikan diri dengan raison d'être partai yang seharusnya terkandung dalam lirik himne.
“Bahwa kita bersepakat ada di sini, bersama-sama berjuang. Jadi, the soul of the party--jiwa, semangat, dan tujuan partai semua terekam di situ, di liriknya,” kata Eros. Kumisnya kini tak setebal sediakala. Namun, pikir serta komentarnya nyalang dan tetap penuh selera humor (Anda akan paham maksud kami, ehm, nanti).
Betul, Pak Eros. Setuju. Amat sangat setuju. Tapi kami kan sedang menyusun laporan soal mars partai.
“Mars itu penyemangat. Dia lebih cenderung memberi semangat juang, mengingatkan kembali gerak, mengingatkan kembali tujuan. Ini tujuan kita lho, jangan lupa. Itu mars biasanya,” ujarnya.
Sosok Eros Djarot jelas punya setiap kompetensi yang dibutuhkan untuk berbicara soal mars partai. Ia, bersama almarhum Chrisye dan Yockie Suryoprayogo, menggodok tiga album laris: Resesi (1981), Metropolitan (1984), dan Nona (1984). Selain itu, Eros juga menjadi music director album Badai Pasti Berlalu (1978); album yang ditahbiskan majalah Rolling Stone Indonesia sebagai album Indonesia terbaik sepanjang masa.
Namun, selain dikenal sebagai musisi cum penulis lagu cum sutradara (ia menyutradarai beberapa film, termasuk Tjoet Nja’ Dhien yang merebut delapan penghargaan di Piala Citra 1988), Eros juga pernah aktif sebagai politisi di beberapa partai di Indonesia.
Bermula sebagai pengurus Partai Demokrasi Indonesia (PDI), Eros kemudian bergabung sebagai kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) hingga 2002. Setelahnya, ia sempat membuat Partai Nasionalis Bung Karno yang kemudian berganti nama menjadi Partai Nasional Banteng Kerakyatan (PNBK) Indonesia.
Dari situ, di ruang kerja kediamannya di daerah Bintaro beberapa hari lalu, Eros berbicara banyak dengan kumparan tentang keberadaan mars di partai politik di Indonesia. Selain membedah musikalitas mars (dan himne, ia kerap menyebut salah satu buat keduanya), Eros juga bicara tentang Kopassus yang baris-berbaris, komunitas Aneka Safari, dan kritik buat temannya, Tommy Soeharto.
Fungsi mars, Mas Eros sebut, untuk konsolidasi internal. Seberapa signifikan bagus tidaknya sebuah mars bagi partai?
Celakanya kan gini, biasanya di Indonesia partai itu ditentukan oleh ketua umumnya. Kalau ketua umumnya seleranya jelek, ya pasti himnenya jelek. Ada yang (terlalu) panjang, kalau istilah Jawanya ngodro-odro. Banyak itu.
Yang sekarang kayak ada nepotisme lah juga ada itu berlaku. Bisa juga yang bikin kalangan dekat. Bisa anaknya, adiknya, kawan dekatnya, atau anggotanya yang bisa-bisa dikit. Jadi bukan cari yang profesional.
Di zaman tahun 50-an, di awal-awal pembentukan partai, mereka mengupayakan, mereka yang betul di bidangnya secara profesional. Mereka menghubungi (kalangan profesional) untuk bagaimana menciptakan mars-mars itu.
Sehingga banyak lagu mars atau himne sekarang saya bilang, ‘Wow, kok gini ya.” Tapi itu pilihan. Biasanya ketua umum sangat dominan, itu di Indonesia lo ya.
Jadi, koheren dengan proses internalisasi partai atau nggak ada hubungannya sama sekali?
Ya begini sih. Partai itu kan ditentukan oleh siapa yang memimpin. Intelektualitas, kedalaman, ditentukan oleh orang-orang itu. Sehingga lagu ini pun pada saat diiyakan itu kan melalui keputusan para pimpinan partai yang memiliki estetika, etikanya ada, logikanya ada, sense of judging-nya, baik dan tidaknya. Itu juga ditentukan oleh mereka.
Sehingga, kualitas pemimpin partai akan menentukan juga kualitas lagunya.
Oke. Masuk ulasan satu demi satu. Mulai dari PDI Perjuangan.
Dahulu PDIP pada masa saya ya masih seperti lagu PNI. Cuma diganti PDI. Namun, akhir-akhir ini kan sudah berubah semua. Sekarang itu ada yang komplain ke saya, ‘Kok lagu himnenya kayak lagu kebangsaan Rusia?’ Bukan saya yang bikin, tanyakan saja kepada yang buat.
Padahal satu hal yang perlu diberikan catatan-catatan ya, beberapa bar punya kesamaan. Kalau cuma satu bar (frase musik dalam sebuah lagu yang terdiri dari beberapa beat) mungkin nggak masalah ya. Tapi satu setengah sampai empat bar itu sudah terlalu jauh. Hal seperti itu mungkin kritik kepada PDIP sekarang. Tapi menurut saya liriknya bagus ya. Cukup representatif.

Yang saya tunggu-tunggu, ‘Kok nggak ada marhaenisme?’ Kok nggak ada ya? Mungkin masih takut ya. Walaupun sebetulnya, waktu masih di PDIP, kepada Mbak Mega (Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri) saya yang paling ngotot untuk memasukkan marhaenisme, karena itu substansinya.
Tapi justru dihilangkan sama teman-teman yang justru pendatang baru. Dan beberapa orang itu lah yang sebenarnya nggak ngerti makna substansi marhaenisme, karena diasosiasikan marhaenisme itu komunis, marxis. Jadi kalau orang nggak ngerti begitu kan susah. Nggak ngerti tapi membuat keputusan.
Oke deh. Sekarang Gerindra. Kabarnya yang bikin Prabowo?
Kesan saya yang pertama, kayak Kopassus baris-berbaris. Ya untuk sebuah himne... ini mars atau himne? Ini mars ya? Mars cocoklah. Berarti ini lagu kebangsaannya.
Ya penyemangatan. Seperti, ‘Di sanalah aku berdiri jadi pandu ibuku.’ Itu kan tergambar semua. Itu mungkin dari sisi penyemangatan. Tapi bagaimana pengendapan. Ada depth. Di sini yang menurut saya kurang depth-nya.

Tapi kalau musik mungkin yang paling serius ya. Saya setuju sama Addie. Orkestrasi gitu. Paling serius rasanya itu. Tapi mungkin Prabowo seorang militer jadi memang nafas itu memang sangat tampak.
Kalau soal penyemangatan saya rasa baguslah ya. Memang ini masalah kedalaman itu. Jadi orang untuk mengendap masuk ke tulang sumsum itu, mungkin baru batas kulit dan daging.
Kalau Berkarya?
Bagaimana ya. Pesan saya sama Tommy (Hutomo Mandala Putra), kan Tommy juga teman saya, ‘Tom, buat apa sih duit lu, banyak kan? Bikin lah pakai orkestra yang bagus.’ Kalau saya dengar ini, maaf ya, kayak lagu pop. Lebih cocok mewakili komunitas Aneka Safari (acara musik TVRI tahun 1980-an).

Jadi, ya maaf saja, saya harus jujur. Sayang, Partai Berkarya itu punya masa depan yang bagus. Saya lihat Titiek (Siti Hediati Hariyadi) orang semangat juga, dedikasinya bagus. Tommy juga punya semangat. Tutut (Siti Hardijanti Rukmana) juga begitu. Saya kenal mereka semua, mereka orang-orang baik. Jadi sayang kalau lagunya cuma itu.
Kalau mau marah nggak apa-apa lah marah sama saya. Tapi kan ini kritik bagus. Saya ingin teman saya majulah. Dengan ada lagu-lagu seperti ini yang saya khawatirkan itu kesannya itu. Kesannya, nggak mengerti apa itu himne apa itu mars. Nggak ngerti. Ini kayak artis-artis safari. Jadi betul-betul kayak lagu pop aja. Ini kan sayang.
Begitu ya. Kalau PKB nih...
(Yang bikin) ini pasti bukan orang nahdliyin. Dari mulai nadanya, pilihan katanya, iramanya dan seterusnya. Saya nggak tahu nih apakah dia ini orang PKB atau sudah bergaul lama sama orang nahdliyin. Saya pikir kok kalau menurut saya terlalu memang garis sekuler dari masyarakat sekulernya sangat lebih kuat.
Dan juga musiknya terlalu... masa gak punya uang sih, gitu loh? Itu kan kayak gimana ya... Mungkin Cak Imin harus denger lagi. Cobalah direkam yang betul dengan komposisi yang lebih baik. Jangan mentang-mentang ini kaum nahdliyin, cukup dengan organ tunggal. Janganlah ya. Coba dibuat yang benar dan bagus, mungkin akan berbeda ya.
Dan juga coba direnungkan kembali. Waktu saat bikin ini coba lihat wajahnya Gus Dur, Kyai Azhari. Semua itu panggillah waktu bikin itu, pasti akan lain jadinya.
Mungkin keburu-buru waktu itu, mungkin ya untuk daftarin KPU, ‘Halah, jadi aja.’ Gus Dur kan orangnya saya kenal dia. ‘Wis ngene wae lah, sing penting wis dadi,’ (sudah begini sajalah, yang penting jadi) kan gitu. Tapi saya juga aneh kenapa Gus Dur meloloskan ini ya.

Ini karya Alfred Simanjuntak, yang bikin Bangun Pemudi Pemuda.
Dia agama apa itu?
Sepertinya Kristen.
Makanya saya bilang. Apakah dia ini deket sama komunitas nahdliyin gitu? Kalau saya lihat dari liriknya saja kan tidak ada sentuhan sedikit pun lah ke-NU-annya. Ke-nahdliyin-annya itu sama sekali nggak kerasa.
Saya nggak ngerti kalau orang Jombang gitu ya, wong Jombang yang betul-betul wong santri, suruh nyanyi lagu ini kayak nyanyi lagu pop dia takutnya. Seperti itu kesan saya.
Kita geser ke PKS. Menurut Anda?
Intronya kepanjangan. Lebih cocok untuk pembukaan iklan film atau apa. Kepanjangan pembukanya. Direkamnya hanya pakai organ tunggal semua ini.
Tapi saya bisa nangkep ini bau-baunya ini bau PKS. Note-nya itu ada yang me-represent mereka. Kan beda kayak Gerindra. Kayak PKB itu kan nggak ada sentuhan sama sekali. Kalau sentuhan itu ada saya terasa di PKS. Sayang sekali direkam terlalu sederhana.
Aneh juga ya himne diawali oleh humming (bersenandung) seperti tadi. Choir (paduan suara) bersama seperti tadi. Agak nggak lazim juga.
Tapi liriknya cukup Islami dan secara eksplisit menonjolkan identitas dia sebagai partai Islam. Sudah oke?
Ya nggak apa-apa. Kan saya bilang, yang paling penting himne atau mars itu--terutama himne--untuk mengetahui siapa kita. Siapa yang mendengar dan menyanyikannya tahu. ‘Oh, si komunitas ini.’ Sebagai anggotanya saya itu ini. Dengan lagu itu dia sudah mengasosiasikan diri kepada lagu itu sudah bisa. Karena memang pas. Kalau yang terlalu umum susah juga.

Cukup berkarakter ya?
Cukup memberikan gambaran siapa saya, siapa diri PKS. Yang susah itu kan memang dari warga partai nasionalis itu, memang tidak mudah karena semua lagunya hampir sama. Hanya di situ masalah kedalaman saja yang bisa kita ukur.
Tapi dari standard mutu rekaman, it was poorly recorded. Poorly recorded. Bagus nggaknya itu selera.
Seperti Berkarya tadi. Itu kayak orang santai banget itu, sambil mendayung perahu, pacaran, mungkin enak, tapi kalau sebuah membangunkan, menyemangati, untuk membuat orang meresapi itu masih belum sampai ke sana.
Nah, pendatang baru lagi nih. Partai Solidaritas Indonesia (PSI)...
Kalau ini… Hahaha. Kalau himne itu jarang ya suara satu dua tiga. Ini ada suara duanya, juga kayak lagu pop gitu. Gini deh, saya setuju sama Addie. Pantesan Addie geregetan kenapa sih nggak serius. Ini kan organ tunggal dibikinnya. Nggak ada akustiknya sama sekali. Nggampangke (menyepelekan), kalau istilah orang Jawa. Sayang.
Biasanya jarang dipecah ya suara satu dua. Mungkin ini yang milenial. Saya nggak ngerti, karena saya bukan milenial. Buat saya boleh kamu milenial tapi jangan merusak tatanan. Artinya jangan juga substansinya diobrak-abrik.

Emang kenapa kalau dipecah suara satu dua?
Iya, tapi coba Indonesia Raya ada suara satu duanya, itu kan mesti aneh. Mungkin yang lebih cocok itu kan satu di suara yang mono sama yang satu. Tapi mungkin ada yang dengan sopran, ada baritonnya, ada basnya, itu beda. Tapi tetap tidak dipecah suara satu dua.
Mungkin PSI pingin bikin yang lain, agak milenial. Saya nggak ikut-ikutan.
Salah nggak? Ya nggak ada yang salah dong. Semua itu nggak ada aturan yang baku ya. Tapi kayak gini deh. Ada pispot baru saking nggak tahunya buat tempat nasi. Baru lho, baru beli. Terus disuguhkan ke kita. Salah nggak? Ya enggak, orang tempat kok. Tapi orang yang tahu kan terbiasa.
Jadi, intinya gimana nih mars partai di Indonesia?
Setelah review semua, cita rasa sense of art para elite partai kita, yang tercermin dalam mars itu, apakah bisa dibilang mereka punya selera yang cukup oke atau sebenarnya mereka nggak punya selera?
Kalau dari sebatas yang saya dengar itu, ya mayoritasnya masih menganggap mars itu nggak penting, himne itu nggak penting. Lebih penting tuh ketua umum, sekjen.
Padahal, di situlah siapa kamu. Contohnya, orang bilang makanan gak penting, padahal you are what you eat begitu kan. Sama saja kayak ini.
------------------------ Simak selengkapnya Liputan Khusus kumparan: Siapa Peduli Mars Parpol?

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan, isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab redaksi. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2018 © PT Dynamo Media Network
Version: web: