Pencarian populer

Fadli Zon: Nuruzzaman Bukan Wasekjen dan Tidak Aktif di Partai

Fadli Zon (Foto: Intan Alfitry Novian/kumparan)

Waketum DPP Gerindra Fadli Zon akhirnya angkat bicara mengenai tudingan mantan Wasekjen Gerindra, Mohammad Nuruzzaman yang resmi mundur dari anggota partai. Nuruzzaman menyebut salah satu alasan utamanya mundur adalah cuitan Fadli yang menurutnya telah menyinggung KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya.

Fadli mengaku heran dengan surat terbuka Mohammad Nuruzzaman yang mengaku-ngaku sebagai pengurus DPP Gerindra. Karena menurutnya, selama ini Nuruzzaman praktis tak pernah aktif di partai. Namun, seingat Fadli, Nuruzzaman pernah menemaninya saat kunjungan ke Jawa Timur dan Majalengka.

"Setahu saya dia enggak pernah aktif. Dan setahu saya bukan Wasekjen ya. Ini enggak ada angin, enggak ada apa, enggak ada geluduk tiba-tiba saja. Kalau orang mau pindah ya silakan aja, sah-sah saja. Saya enggak pernah ada masalah sama dia," ujar Fadli kepada kumparan, Rabu (13/6).

Selain itu, Fadli mengklarifikasi bahwa dirinya tak menghina Gus Yahya saat berkunjung dan ceramah di Israel. Menurut Fadli, apa yang dilakukannya hanya kritikan terhadap sikap Gus Yahya yang memilih hadir dan berbicara di forum American Jewish Commite (AJC) di Yerusalem.

"Enggak ada tuh, menyebut nama saja tidak. Saya hanya mengkritik saja, saya salahkan soal itu. Di Gerindra tuh banyak kiai NU. Jadi saya hormat," ucapnya.

Gus Yahya di Israel (Foto: Youtube/AJCGlobal)

Bagaimana pun, kata Fadli, Gus Yahya adalah seorang pejabat negara dengan posisi anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres), yang seharusnya memahami politik luar negeri Indonesia. Dengan demikian, sebagai pejabat negara harus tunduk pada konstitusi dan UU No.37/1999 tentang Hubungan Luar Negeri, yang mendukung kemerdekaan Palestina.

"Pembelaan Gus Yahya yang mengklaim kunjungannya dalam kapasitas pribadi, jelas tak dapat diterima. Gus Yahya adalah penasihat Presiden, anggota Dewan Pertimbangan Presiden. Posisinya setingkat menteri yang berarti juga pejabat negara. Dan jabatan tersebut selalu melekat, tak bisa dipisahkan," pungkasnya.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Jumat,24/05/2019
Imsak04:26
Subuh04:36
Magrib17:47
Isya19:00
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.23