kumparan
10 Nov 2018 11:30 WIB

Gagap Senjata, Pemuda Surabaya Justru Mati di Tangan Sendiri

Peringatan Hari Pahlawan. (Foto: Dok. gahetna.nl)
Memasuki akhir tahun 1944, kedudukan Jepang di Indonesia semakin terdesak. Hal itu tak lain karena kegagalan-kegagalan yang mendera mereka dalam Perang Pasifik.
ADVERTISEMENT
Terpojoknya Jepang membuat tuntutan kemerdekaan bergema di Indonesia. Benar saja, memasuki masa vacuum of power, Indonesia berhasil memproklamirkan dirinya sebagai sebuah bangsa yang merdeka.
Tentara Jepang melucuti dirinya sendiri. Di Surabaya, salah satu markas besar tentara Nippon, mundur ke Malang sembari menunggu dipulangkan oleh tentara Sekutu.
Jepang pun pergi ke Malang setelah membuka gudang senjatanya di Surabaya untuk pemuda Surabaya lewat komandan angkatan laut Jepang, Laksamana Shibata. Dari gudang itu para pemuda dengan bebasnya bisa menggunakan senjata-senjata perang canggih seperti tank tempur dan senjata api.
“Sehingga tidak heran waktu itu kekuatan militer republik di Surabaya itu paling kuat. Bahkan nanti pakai gerbong-gerbong kereta senjata itu dikirim ke Jawa Tengah, ke Jawa Barat. Kita punya tank, tank-tank ringan itu. Kita punya meriam-meriam dari Jepang,” kata sejarawan Universitas Indonesia, Didik Pradjoko, saat bertemu kumparan, Kamis (8/11).
Sejarawan UI, Didik Pradjoko (Foto: Nesia Qurrota A'yuni/kumparan)
Tetapi, kebaikan Jepang itu nyatanya malah menjadi bumerang bagi para pemuda Indonesia. Pemuda dari usia belasan tahun hingga puluhan semua “berlari” mengambil senjata tersebut. Namun, ada sebagian dari mereka yang baru pertama kali melihat senjata sehingga tak tahu bagaimana cara memakainya.
ADVERTISEMENT
“Senjata anti-tank itu ditembakkan untuk menghancurkan gedung. Ada posisi pasukan Inggris yang dijadikan sasaran ternyata jebol saja. Gedungnya itu bolong, malah tidak meledak. Mereka bingung ini senjata apaan. Ternyata mereka baru tahu itu senjata anti-tank. Jadi harus ditembakkan ke benda logam keras baru dia meledak,” Didik mencontohkan.
Peringatan Hari Pahlawan. (Foto: Dok. gahetna.nl)
Ketidaktahuan tersebut nyatanya juga menyebabkan jatuhnya korban jiwa. “Misalnya main-main, tembak nih, tembak dor, mati,” sebut Didik.
Korban salah tembak karena penggunaan senjata yang ceroboh tidak hanya satu atau dua orang. Para korban berjatuhan sebelum berjibaku dengan tentara Sekutu. Kondisi itu membuat komando Badan Keamanan Rakyat (BKR) turun tangan dan mengadakan kursus penggunaan senjata kepada para pejuang Surabaya.
“Kalau yang PETA, Heiho, sudah terlatih (menggunakan senjata), tapi ini kan massa yang bukan Heiho, bukan PETA, bukan Seinendan, Keibodan (barisan militer yang dibentuk pada masa pendudukan Jepang),” terang Didik.
ADVERTISEMENT
Dengan kursus penggunaan senjata, jumlah korban yang mati akibat kecerobohan sendiri bisa dikurangi. Hingga pada akhirnya senjata warisan Jepang itu didaulat menjadi teman perang para pejuang Surabaya.
Dari akhir Oktober hingga akhir November Surabaya bergejolak. Para pemuda tak sudi tanah kelahirannya kembali dikoyak oleh orang Eropa, kali ini adalah Inggris.
Namun, Inggris ternyata tak tinggal diam kala terus digempur arek-arek Suroboyo. Di bawah komando Jenderal AWS Mallaby, Inggris mempercanggih senjatanya yang beberapa disuplai dari sekutunya, Amerika Serikat.
Meski pada kenyataannya Mallaby, sang denyut utama, berhasil ditumpas pemuda Surabaya, korban dari masyarakat pribumi jauh lebih banyak. Tetapi, heroisme para pemuda Surabaya terus berlangsung. Mereka tetap berperang di tengah terjangan mesiu-mesiu panas Inggris.
ADVERTISEMENT
---------------------------------------
Simak story menarik lainnya mengenai Pertempuran Surabaya dalam topik 10 November 1945 .
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan