kumparan
9 Nov 2018 11:22 WIB

Gerindra Bandingkan Prabowo dan Jokowi soal Permintaan Maaf

Ferry Juliantono, Wakil Ketum Gerindra. (Foto: Marcia Audita/kumparan)
Wakil Ketua Umum Gerindra Ferry Juliantono menanggapi pernyataan Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf, Erick Thohir, yang menyebut permintaan maaf Prabowo dalam beberapa soal patut dipertanyakan.
ADVERTISEMENT
Ferry menilai justru Jokowi telah berbohong berkali-kali namun tidak meminta maaf kepada masyarakat soal janji kampanyenya.
"Yang parah itu kalau bohong berkali-kali, tapi diam saja," kata Ferry kepada kumparan, saat dihubungi, Jumat (9/11).
Ferry merinci kebohongan yang telah dilakukan Jokowi tersebut. Ferry menuturkan, seharusnya Erick Tohir sebagai Ketua Timses Jokowi introspeksi diri.
"Sementara Pak Joko Widodo beberapa kali pernyataannya soal (mobil) esmeka, pertumbuhan ekonomi meroket, soal guru honorer, enggak pernah merasa punya tanggung jawab terhadap omongannya," jelas Ferry.
Ferry meluruskan permintaan maaf yang dilakukan Prabowo beberapa pekan ini. Dalam kasus Ratna, Prabowo meminta maaf karena Ratna ternyata berbohong, sementara dalam kasus 'Tampang Boyolali', Prabowo meminta maaf karena konteksnya bersenda gurau.
ADVERTISEMENT
Ferry menegaskan bahwa Prabowo meminta maaf dengan berbesar hati. Ferry meminta Erick harusnya mempermasalahkan ucapan Bupati Boyolali yang dinilai tidak etis.
Ketua INASGOC, Erick Thohir menjadi pembicara dalam acara Milenial Fest di Jakarta, Minggu (28/10/2018). (Foto: Jamal Ramadhan/kumparan)
"Ini Erick Tohir malah anggap itu masalah, bukannya menanggapi pernyataan Bupati Boyolali yang omong kebon binatang. Ini yang salah dibenarkan yang benar disalahkan. Erick Tohir mulai ketularan gagal paham," pungkas Ferry.
Sebelumnya, dalam acara Anugerah Syariah Republika di Hotel JW Mariot Kuningan, Erick Tohir mengatakan permintaan maaf dari seseorang merupakan hal yang lumrah. Namun ia menyoroti seringnya Prabowo meminta maaf kepada publik.
"Ya, kalau seorang pemimpin melakukan sesuatu minta maaf itu hal yang lumrah. Tapi kalau berkali-kali, harus dipertanyakan," ucap Erick.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan