Gerindra soal Seni Bambu Dibongkar: Jangan Semua Ditimpakan ke Anies

18 Juli 2019 15:35 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Anies tinjau Seni Bambu di Bundaran HI, Rabu (15/8). Foto: Instagram/@aniesbaswedan
zoom-in-whitePerbesar
Anies tinjau Seni Bambu di Bundaran HI, Rabu (15/8). Foto: Instagram/@aniesbaswedan
ADVERTISEMENT
Gerindra DKI Jakarta angkat suara mengenai pembongkaran karya seni bambu di Bundaran HI. Wakil Ketua DPD Gerindra DKI, Syarif, meminta masyarakat tidak menyalahkan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengenai pembongkaran itu.
ADVERTISEMENT
“Kami meminta yang merencanakan itu bertanggung jawab, bertanggung jawab menjelaskan kepada publik. Jangan semua masalah ditimpakan kepada gubernur, ya kan,” kata Syarif kepada wartawan, Kamis, (18/7).
Namun, Syarif tidak membeberkan siapa pihak perencana yang diminta untuk bertanggung jawab. Sebab, karya seni bambu bernama 'Getah Getih' ini permintaan Anies kepada seniman Joko Avianto untuk membuatnya.
Wakil Ketua DPD Gerindra DKI Jakarta, Syarif. Foto: Moh Fajri/kumparan
Syarif juga tidak bisa bicara banyak mengenai bambu yang digunakan sehingga belum sampai setahun sudah harus dibongkar.
“Saya enggak mau komentari lebih detail soal seluk beluk, soal seninya, tapi saya komentari pertanggungjawaban keuangannya. Saya tidak bisa menilai pantas atau tidaknya karya seni ditaruh di situ, bahannya dari apa saya enggak punya kompetensi,” ujar Syarif.
Lokasi yang sebelumnya ada getah-getih kesenian bambu di Bundaran HI. Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan
Meski begitu, Syarif menegaskan tetap mengingatkan kepada Pemprov DKI agar menggunakan anggaran sesuai kebutuhan. Sehingga tidak ada yang mempermasalahkan mengenai anggaran dari program yang direncanakan.
ADVERTISEMENT
“Kalau bersumber APBD, saya punya kewajiban mengingatkan kepada pemerintah, harus bertanggung jawab yang mengusulkan rencana itu. Tapi kalau dari BUMD tergantung dari yang memberi ya ada keberatan, komplain enggak terhadap pembongkaran itu, kan gitu,” tutur Syarif.
Anggaran yang digunakan untuk membangun seni instalasi bambu tersebut mencapai Rp 550 juta. Sebagian pihak menilai, anggaran sebesar itu dianggap pemborosan apalagi belum sampai setahun seni bambu tersebut sudah dibongkar.