Pencarian populer

Grace Natalie: Kalau PSI Mati, Saya Golput Seumur Hidup

Ketua Umum PSI, Grace Natalie. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Hasil hitung cepat Pemilu Legislatif sejumlah lembaga survei menempatkan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) di salah satu posisi buncit. Partai yang dipimpin Grace Natalie ini hanya meraih sekitar 2 persen suara.

Data CSIS-Cyrus Network menunjukkan PSI meraih 1,90 persen suara. Sementara berdasarkan quick count Indo Barometer, PSI meraih 2,07 persen. Selanjutnya, Charta Politika memperlihatkan perolehan suara PSI 2,11 persen, dan 2,35 persen dalam hitung cepat LSI Denny JA.

Gagal lolos ke Senayan tak menyurutkan perjuangan PSI. Grace Natalie justru menyebut hal ini sebagai sebuah “keberhasilan.” Sebab mereka baru berjuang dua tahun sebagai partai baru, namun berhasil mengumpulkan 3 juta suara. PSI pun menguasai daerah pemilihan luar negeri. Padahal, mereka tak disokong modal besar.

Kini setelah PSI gagal lolos ke DPR RI, Grace memastikan partainya itu akan tetap hidup demi menyongsong pesta demokrasi 2024. Grace bahkan menyatakan, jika sampai PSI mati, ia akan golput di pileg seumur hidup.

Dalam masa kampanye yang panjang, bully menjadi sebuah 'rutinitas' yang harus dihadapi oleh Grace. Mulai dari teror ke telepon pribadinya hingga serangan ke akun medsosnya.

Bagaimana sukaduka sang Ketua Umum PSI selama masa kampanye, dan bagaimana rencananya ke depan untuk PSI? Berikut wawancara kumparan dengan Grace Natalie di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat, Senin (22/4):

Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Grace Natalie (tengah) pada acara Festival 11 Yogyakarta di Jogja Expo Center (JEC) Bantul, DIY, Senin (11/2). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Bagaimana perasaan Anda setelah kampanye kurang lebih 7 bulan?

Kalau sekarang sudah lega ya. Karena kita sudah berlari tanpa henti, sudah enggak ingat kapan terakhir kali tidur panjang. Setiap malam, setiap ketiduran di mana pun mimpinya PSI. Jadi sekarang baru bisa napas agak lega setelah maratonnya selesai. Sampai hari pencoblosan sebenarnya masih optimistis karena kita melihat perjuangan kami direspons positif oleh masyarakat.

Ya kita tidak tahu persisnya angka berapa, karena pemilih PSI itu kebanyakan rasional, kritis, berpendidikan. Orang orang ini kalau disurvei cenderung tertutup. Makanya kita tidak terlalu menjadikan survei-survei itu sebagai patokan.

Karena kalau kita lihat terjadi juga pada NasDem pada tahun 2014. Sebelum pemilu angka mereka 3 koma tapi pas pemilu nilainya loncat jadi 6. PKS juga gitu, dalam survei 2,9 loncat 6 koma.

Bagaimana Anda menilai perjuangan kader-kader PSI?

Buat saya sih kerja dari teman-teman ini tidak mengecewakan. Terbukti di luar negeri, jadi memang sasaran kita di kantong kantong yang pemilihnya itu rasional, kritis, dan berpendidikan. PSI direspons dengan baik. Di banyak kota besar di luar negeri PSI unggul. Kalau enggak nomor 1, nomor 2, hampir di seluruh kota kota besar bahkan nomor satu.

Kemudian di kota-kota besar yang pemilihnya rasional PSI masuk 5 besar. Di Jakarta 4 besar, di Semarang 3 besar. Dan kita masih menunggu di tempat lain seperti apa. Di Sulut kita juga dapat DPRD, NTT juga dapat, bahkan di Aceh diprediksi dapat.

Ketua Umum PSI, Grace Natalie. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Jadi menurut Anda, pencapaian di Pileg meski tak lolos presidential threshold itu prestasi?

Ini buat kami prestasi. Kenapa? Karena selama ini politik kita mengharuskan punya figur. Waktu itu PSI berdiri di awal, PSI bisa mendapat tempat di masyarakat karena tidak punya figur. Bahkan saya tidak bisa disebut figur. Kemudian kami tidak menggunakan money politics, kami tidak menggunakan politik sembako.

Kita juga tidak ingin orang memilih PSI karena dikasih sesuatu tapi karena agenda perjuangannya sesuai dengan masyarakat. Jadi kita berhasil mematahkan selama ini teori politik harus ada figur, harus bisa ngasih masyarakat sesuatu, harus menjanjikan sesuatu. Kan banyak nih serangan fajar, kita tidak pakai itu.

Dan betul dengan agenda yang tegas dan jelas dan terbukti ada basisnya, 3 juta orang yang mau milih PSI bukan karena timbal balik sesuatu. Kalau figur kan bisa hilang, faktor usia dan sebagainya.T api kalau orang percaya sama nilai, dia akan konsisten dan terus berkembang. Ini modal yang bagus.

Apa nilai PSI yang ditawarkan ke masyarakat selama kampanye?

Yang kita tawarkan dua, perjuangan melawan korupsi dan perjuangan melawan intoleransi. Korupsi itu kan agak luas tidak hanya sekadar merugikan negara dari segi ekonomi. Tapi kita kan juga ingin ada orang orang bagus yang duduk di dewan. Sekarang ini kan parpol parpol dikuasai kekuatan tertentu, kelompok tertentu, bahkan keluarga saja.

Yang menjadi PR juga, korupsi di parlemen. Anggota dewan kita kalau masuk, dia datang atau tidak kita enggak tahu. Mereka ngomong apa, isu apa enggak tahu. Yang ingin kita bawa transparansi di parlemen. Mereka kan kerja dibayar pakai uang negara, pekerja publik, masa mereka bekerja apa kita enggak tahu.

Kemudian naiknya politik identitas. Banyak politikus yang ingin jalan pintas untuk mendapatkan suara dengan menggunakan politik identitas dengan etnisitas agama. Sehingga mereka substansinya apa, programnya apa, enggak dapat. Cuma diajak memilih karena memainkan politik identitas.

Padahal kalau politik identitas mengeras, itu berarti sama saja kita sudah menebar bibit intoleransi. Kita memuat orang Indonesia yang beragama, terkotak-kotak, agamanya apa, etnisnya apa, memilih berdasarkan atribut-atribut primordial. Itu enggak bagus.

Ketua Umum PSI, Grace Natalie. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Bagaimana kondisi psikologis kader-kader PSI setelah tahu partai gagal lolos parliamentary threshold?

Ya wajarlah kalau ada yang sedih. Karena banyak di antara mereka yang meninggalkan pekerjaan. Dan pekerjaannya bagus bagus. Mereka keluar dari zona nyaman, mereka tidak punya pengalaman politik praktis. Mereka betul betul door to door setiap hari. Punya harapan besar yang ingin punya kontribusi untuk politik Indonesia.

Tentu ada sedihnya, karena kita sudah berjuang untuk politik Indonesia. Makanya kalau lihat sosialisasi kita sering kali kalau pun mereka dapilnya sama, mereka rival, tetapi di event yang sama, mereka sama sama.

Misalnya warga ngundang caleg A di dapil yang sama, caleg B di dapil 3. Mereka bareng-bareng tuh. Ikut beresin kursi, jadi MC (master of ceremony), itu biasa di PSI. Karena motivasinya enggak apa-apa belum pasti lolos, yang penting, dengan saya blusukan ikut menambah suara PSI. Karena kita tahu butuh 7 juta. Jadi mentalitas seperti ini banyak, makanya dari awal sikut-sikutan antarcaleg tidak kental. Karena cita cita kami untuk partai lebih besar.

Apa artinya 3 juta suara untuk Anda sebagai Ketua Umum PSI?

Tiga juta suara ini sangat berarti. Ini amanah yang harus kita jaga baik baik. Tiga juta pemilih rasional, kritis. Jadi kita optimistis mereka tetap bersama PSI pada tahun 2024. Sehingga sangat mungkin terjadi multiplikasi. Banyak juga yang men-support PSI, selamat ya mbak. Kita tetap konsisten pada perjuangan. Kalau 3 juta orang ini memilih karena sesuatu, mereka langsung hilang ke mana begitu pemilu selesai.

Pemilih 3 juta ini adalah yang mengerti perjuangan PSI. Mau memilih karena akal. Ini modal yang bagus buat kami.

Ketua Umum PSI Grace Natalie. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Seperti apa evaluasi internal setelah gagal ke Senayan?

Coba kita bandingkan dengan partai yang diam-diam saja. Jadi buat kami ini nilai nilai perjuangan yang ketika di mana pun kami berada, kami akan tetap melawan korupsi dan intoleransi. Justru publiknya yang harus diedukasi. Ini jadi ancaman serius dan nyata. Jadi kami enggak akan mundur. Publik yang harus tahu kalau kita main main di politik identitas maka yang akan dikorbankan persatuan dan kesatuan bangsa

Seberapa signifikan faktor Jokowi dalam perolehan suara PSI?

Pemilih PSI kan pendukung Jokowi. Jadi tetap ada dasar pengikatnya. Jadi buat pemilih, sama Jokowi dulu atau enggak nih. Terus baru partainya apa. Jadi itu filter awal, kan PSI juga berpolitik karena Pak Jokowi karena kami terinspirasi beliau.

Kemudian buat pemilih Pak Jokowi kemudian, oh partainya apa nih. Buat pemilih rasional mereka akan memilih yang bisa menyuarakan aspirasi mereka.

Tapi kalau kita bicara coattail effect, yang dapat hanya PDIP.

Apa saja suka-duka memimpin PSI?

Susahnya mungkin waktu buat keluarga otomatis sangat sangat terpotong. Dan semuanya kita lakukan. Jadi multi-job. Kampanye iya, kampanye nasional iya, kampanye di dapil iya, fundraising juga. Belum lagi TKN. Semua semuanya deh. Kita kalau bisa membelah diri, membelah diri deh. Ditambah lagi ketika PSI membawa gagasan berbeda banget, enggak ikut arus, tentu adalah kelompok masyarakat yang tidak biasa, kaget, mem-bully dan sebagainya.

Tapi beberapa bulan ini saya sudah belajarlah. Benar kalimat: What doesn’t kill you makes you stronger. Jadi saya sudah sampai dalam tahap kebal, mau di-bully gimana pun tetap bisa tidur dan makan enak.

Kalau kita enggak pernah menempa, kita enggak tahu kita sekuat apa. Dan saya mengalami penempaan yang luar biasa dalam waktu 2 tahun ini, yang gila gilaan. Dari yang sensitif sampai sekarang sudah kebal nih, mau dikataim apapun enggak mempan.

Contoh bully yang paling mengganggu Anda?

Ada yang sampai direct number, tentu ada yang di medsos juga. Di medsos itu tiap menit kali. Dan enggak apa-apa, saya malah suka bacain satu satu. Saya pengin tahu siapa sih yang komen. Oh ternyata akunnya bodong, buzzer. Bahkan kadang kadang saya jawabin juga kalau ada waktu, ngasih mereka edukasi.

Tapi saya tuh lebih tegar karena di belakang tim kita solid. Kalau saya sendirian saya akan capek, akan cepat capek. Dan akan cepat nyerah.Saya enggak marah, enggak nyesel juga. Malah makin mau ngelanjutin. Makin semangat apalagi melihat mesin mesinnya. Bagi kami, tolok ukur keberhasilan juga bahwa di tengah apatisme orang terhadap politik Indonesia, ada banyak sekali orang yang berkontribusi.

Jadi ini tanda tanda perjuangan kami direspons positif sama orang. Kalau enggak, enggak mungkin mereka seperti itu.

Ketua Umum PSI Grace Natalie (kiri) saat menghadiri konsolidasi politik dengan ratusan kader PSI di Medan. Foto: Rahmat Utomo/kumparan

Sempat melancarkan strategi iklan kampanye receh?

Ini kan KPU kan punya aturan yang berbeda dan hanya ada di Indonesia. Masa kampanye kan mulai September, tapi kita tidak boleh melakukan sosialisasi di media konvensional kecuali medsos. Jadi kalau PSI bicara visi misi program, kalau kita bikin kami menolak korupsi langsung pidana.

Jadi kan kita harus putar otak. Bagaimana kita mau memperkenalkan ke publik. Karena kami kan sebelumnya di medsos saja. Karena sumber daya juga terbatas. Kita sudah jalan kampanye, fundraising makin bagus, orang lebih respons baik. Akhirnya kita punya dana untuk beriklan. Harus mikir dengan dana terbatas, durasi yang terbatas banget, harus mikir gimana caranya membuat orang tertarik, memperhatikan, dan membicarakan iklan PSI. Jadi kita brainstorming, jadi enggak pake agency. Kita internal saja. Makanya keluar ide itu, visi misi enggak boleh, jadi kita sekalian aja bikin yang out of the box.

Setelah gagal lolos, apakah banyak caleg PSI yang mendapat tawaran pindah partai?

Ini teman-teman banyak sih yang nawarin karena memang anak anak bagus di PSI, pintar pintar. Punya skill komunikasi yang jauh lebih baik. Jadi banyak yang naksir sama anak PSI tapi gimana dong kan semua sudah jatuh cinta sama nilai nilai PSI.

Kenapa PSI dibuat dari awal, karena sebelumnya enggak ada partai yang memperjuangkan nilai nilai itu. Mereka pada mau main aman. Dan saya lihat anak anak masih tetap cinta, cinta mati, enggak mau pindah ke lain hati meski belum masuk Senayan.

Saya pribadi juga kalau sampai PSI enggak ada, saya akan golput seumur hidup, karena saya sudah tahu jeroan-jeroan partai lain seperti apa. -

Grace Natalie

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan