Pencarian populer

Guru Besar Statistik IPB: KPU Bisa Selesaikan Input C1 dalam 6 Hari

Ketua KPU Arief Budiman (kiri) dan Mahfud MD (kanan) di gedung KPU RI. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Guru Besar Ilmu Statistika Institut Pertanian Bogor (IPB) Asep Saifudin bersama mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD dan akademisi lainnya meninjau server Sistem Informasi Penghitungan Suara (Situng) KPU. Usai meninjau, Asep menilai seluruh alat yang dimiliki KPU sangat canggih dan modern.

"Hardware dan software yang ada di sini itu paling canggih dan modern, sehingga pencatatan itu bisa dengan cepat dilakukan dengan sistem yang baik," kata Asep di Kantor KPU RI, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (24/4).

Hingga saat ini, sudah sekitar 30 persen suara masuk dalam scan C1 di Situng KPU. Asep menilai perangkat canggih yang dimiliki KPU sangat memungkinkan proses input data bisa berjalan lebih cepat.

"Sistem yang ada dan hardware yang baik seperti ini, data yang masuk bisa sampai 10-20 persen. Tapi dalam sehari, sebenarnya bisa saja 20 persen data masuk. Jadi dalam waktu 5-6 hari KPU bisa selesai proses input data C1," jelas Asep.

Ketua KPU Arief Budiman (kiri) dan Mahfud MD (kanan) di gedung KPU RI. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Namun, Asep memahami ada beberapa faktor yang menyebabkan proses input data C1 menjadi tersendat. Meski demikian, Asep meyakini KPU mampu menyelesaikan proses input data C1 sebelum pengumuman 22 Mei nanti.

"Tapi karena ada tekanan-tekanan jadi delay, jadi baru 30 persen. Cuma saya pikir bisa mencapai 30 persen, harus kita syukuri karena pemilu ini berat, luas, bagaimana pelaksanaanya ketika masuk ke Jakarta jadi agak lambat," ucap Asep.

"Saya salut sama KPU, kerja siang-malam untuk itu, mari doakan mereka agar bisa berjalan dengan baik, jangan ada tekanan yang bikin mereka lelah. Saya senang melihat komisioner segar, mereka bekerja penuh keikhlasan, ada koreksi, kritik itu jadi masukan bagi mereka," tutup Asep.

Proses saat Situng KPU dilakukan. Foto: Efira Tamara/kumparan

Kedatangan Asep, sosiolog Imam Prasodjo, hingga psikolog Alissa Wahid merupakan perwakilan dari Gerakan Suluh Indonesia. Sebelumnya, Mahfud menjelaskan maksud kedatangannya kali ini ingin memastikan proses penghitungan dan rekapitulasi suara yang sedang berlangsung.

"Kami merasa risih juga merasa terganggu dengan perkembangan terakhir, di mana ada tudingan dan dugaan terjadi kecurangan-kecurangan yang bersifat terstruktur di KPU. Sebelum pemungutan suara kami datang menyatakan bahwa KPU profesional, sehingga ketika ada berita seperti ini kami terganggu ingin mengecek apa yang sebenarnya terjadi," kata Mahfud.

"Sampai pukul 17.15 WIB, TPS yang sudah entri data sudah mencapai 241.366 TPS dengan kesalahan entri itu 105 TPS, yang 15 itu 24 di antaranya laporan masyarakat. Selebihnya ditemukan KPU sendiri. Dari situ kekeliruan itu berarti hanya ada 0,0004 persen, berarti ada 1:2.500 TPS. Dari situ menjadi tak mungkin kalau mau ada rekayasa terstruktur. Kalau terstruktur mestinya berpersen-persen, enggak mungkin ada kesengajaan," jelas Mahfud.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.23