Pencarian populer

Hadapi Pasukan 'MLM' Prabowo di Jateng, PDIP Siapkan Pandu Juang

Bambang Wuryanto, sekretaris fraksi PDIP, di KPK. (Foto: Nugroho Sejati/kumparan)

Kubu Prabowo-Sandi akan menerapkan strategi ala multilevel marketing (MLM) untuk menggalang pemilih di Jawa Tengah. Strategi ini akan dieksekusi setelah markas Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi dipindah ke Jateng mulai Januari 2019.

Ketua Tim Kampanye Daerah (TKD) Jokowi-Ma'ruf Amin, Bambang Wuryanto, mengaku heran dengan strategi tersebut. Menurut dia, pertempuran sebenarnya adalah di lapangan, sehingga tidak penting di mana lokasi markas berada.

"Itu hanya ingin bikin isu karena pertempuran sebenarnya tak perlu markas. Markas untuk apa? Sekarang teknologi dan transportasi sudah tersedia dengan mudah," ujar pria yang akrab disapa Bambang Pacul ini ketika dihubungi, Senin (10/12).

"Apalagi kalau bicara pertempuran, strategi yang benar tidak akan pernah dibicarakan di luar, apalagi untuk konsumsi publik," lanjut dia.

Ketua DPD PDIP Jateng ini mengatakan, seluruh elemen timses Jokowi akan bahu membahu mempertahankan suara Jokowi di Jateng yang selama ini dikenal sebagai lumbung suara dan kandang banteng. Tak hanya PDIP, Bambang menuturkan komunitas NU kemudian kader PKB dan PPP akan all out mempertahankan suara.

Kondisi kantor DPP PDIP Jateng (Foto: Aria Pradana/kumparan)

Khusus PDIP, Bambang menjelaskan, partainya sudah memiliki pasukan tempur untuk menghadapi kubu Prabowo-Sandi. Pasukan yang sudah berpengalaman 'berperang' di ajang pileg, pilpres, hingga pilkada diberi nama Laskar Pandu Juang. Bambang mengibaratkan Pandu Juang seperti pasukan elite PDIP di Jateng yang bertugas mengamankan suara di berbagai wilayah.

Istilah kandang banteng bagi Jateng, tak bisa dipisahkan dari peran Laskar Pandu Juang. Di gelaran Pilpres 2014, Pandu Juang sudah bertempur bagi kemenangan telak Jokowi dan PDIP di Jateng.

"Mereka sudah dilatih melalui teori dan praktik tempur lapangan yang dikhususkan untuk pertempuran pileg dan pilpres. Pandu Juang memimpin pertempuran di tiap wilayah," katanya.

"Pandu juang ini mendampingi para Ketua DPC atau diletakkan di dapil kabupaten atau kota. Mereka ibarat perwira tempur," lanjut dia.

Presiden Jokowi di Rakernas PDIP di Sanur, Bali. (Foto: Dok. Biro Pers Setpres)

Tak hanya Pandu Juang, PDIP juga menyiapkan pasukan anak muda yang diberikan nama Komunitas Juang untuk menggalang suara di Jateng. Mereka relatif lebih junior dibandingkan Pandu Juang.

"Ibaratnya, Komunitas Juang ini level bintara dan tamtama sementara Pandu Juang itu perwira tempurnya," kata dia.

Dengan kekuatan gabungan antara PDIP, PPP, PKB dan NU, Bambang yakin bahwa pemindahan markas atau penetrasi kubu Prabowo-Sandi tidak akan mengancam suara Jokowi di Jateng. Mengenai strategi MLM yang akan dilancarkan kubu Prabowo, Bambang justru meragukan efektivitasnya.

Sebab, tidak mudah membujuk atau mengubah pemilih di Jateng yang sudah loyal.

"Memangnya pelaksanaan di lapangan gampang? Ini soal cara mempengaruhi orang, cara persuasi. Syarat persuasi itu, yang melakukan persuasi harus disukai oleh yang dipersuasi. Kedua, apakah dia mampu mengubah pendirian orang," ujarnya.

Apalagi, jumlah pemilih di Jateng yang mencapai 27 juta orang. "Dengan sistem MLM, dengan jumlah pemilih 27 juta, tenaganya harus berapa banyak?" tutup dia.

Suasana pembekalan relawan Prabowo-Sandi di Istora Senayan, Kamis (22/11). (Foto: Iqbal Firdaus/kumparan)

Sebelumnya, anggota Badan Pemenangan Prabowo-Sandi, Ferdinand Hutahean menjelaskan, pemindahan markas ke Jateng merupakan upaya untuk menyerang langsung ke jantung pertahanan lawan. Langkah ini merupakan strategi untuk memecah suara Jokowi.

Caranya, dengan sistem multilevel marketing atau MLM dilengkapi dengan kampanye door to door.

"Kami di Jateng terutama mendatangi masyarakat secara langsung, konsep door to door. Kami lakukan kami berkumpul bersama masyarakat kecil-kecil mungkin 300 orang 500 orang," kata Ferdinand di Sekretariat Nasional Prabowo-Sandi, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (9/12).

"Tapi akan sangat efektif karena kita akan menggerakkan mereka kemudian dengan pola MLM (multilevel marketing)," lanjutnya.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.32