Pencarian populer

Harapan Kim Jong-un dalam Pertemuan Bersejarah dengan Presiden Korsel

Pertemuan Kim Jong-un dan Moon Jae-in. (Foto: Reuters Tv)

Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un akhirnya duduk di satu meja dengan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in dalam pertemuan bersejarah yang berlangsung pada Jumat (27/4). Harapan-harapan kedua pemimpin membubung tinggi dalam pertemuan ini, dari perdamaian hingga reunifikasi.

Kim Jong-un menjadi pemimpin pertama Korut yang memasuki Korsel sejak berakhirnya Perang Korea pada 1953. Pertemuan dengan Moon dilangsungkan di desa Panmunjom dekat garis demarkasi yang dikenal dengan nama Zona Demiliterisasi (DMZ).

Dalam pernyataan pembukanya kepada Moon, di hadapan wartawan Kim Jong-un berharap diskusi akan berlangsung "jujur" dan membuahkan "hasil yang baik". Kim bahkan merasa heran, mengapa pertemuan yang baik seperti ini baru berlangsung sekarang.

"Saya berharap bisa menuliskan babak baru di antara kita, ini adalah titik awal bagi kita. Kami akan memulai awal yang baru. Butuh 11 tahun agar momen bersejarah ini tercipta. Saat berjalan ke sini, saya berpikir mengapa butuh waktu lama hingga terwujud," kata Kim di dalam Rumah Perdamaian di Panmunjom.

"Melalui pertemuan ini. Saya berharap kita tidak kembali ke waktu dulu lagi dan tidak mengimplementasikan apa yang kita sepakati tidak akan terjadi lagi," ujar Kim, dikutip dari Reuters, merujuk pada berbagai perjanjian sebelumnya yang kandas.

Pertemuan Kim Jong-un dan Moon Jae-in. (Foto: Korea Summit Press Pool/Pool via Reuters)

Dalam perundingan yang disambut baik Amerika Serikat ini, diharapkan dicapai komitmen denuklirisasi dan dihentikannya uji coba rudal balistik Korea Utara. Bahkan bukan tidak mungkin - walau kemungkinannya sangat kecil - reunifikasi. Hal ini disampaikan media Korut, KCNA, jelang pertemuan Kim.

"Pemimpin Tercinta (Kim) dengan hati yang terbuka akan berdiskusi dengan Moon Jae-in semua isu yang muncul dalam meningkatkan hubungan antar-Korea dan meraih perdamaian, kemakmuran, dan reunifikasi semenanjung Korea," tulis KCNA.

Moon juga mengutarakan harapan yang sama kepada Kim, sebelum mempersilakan jurnalis keluar ruangan dan pertemuan dilangsungkan secara tertutup.

"Saya berharap dunia melihat Musim Semi yang tersebar di seluruh Semenanjung Korea. Ada beban besar di pundak kita. Rakyat di seluruh dunia menaruh harapan besar," ujar Moon.

"Kunjungan Anda menjadikan garis demarkasi militer simbol perdamaian, bukan perpecahan. Saya berterima kasih atas keberanian Anda. Dialog kita dan perundingan hari ini akan sangat jujur. Kita akhirnya bisa melakukan dialog yang tidak bisa kita lakukan dalam satu dekade terakhir," kata Moon lagi.

Pertemuan Kim Jong-un dan Moon Jae-in. (Foto: Reuters Tv)

Kedatangan Kim Jong-un ke Panmunjom diawali dengan senyuman hangat dan tindakan bersahabat lainnya, padahal kedua negara masih dalam status berperang setelah Perang Korea 1953 berakhir dengan gencatan senjata. Kim menggandeng tangan Moon, bahkan dia mengajak Moon sejenak menginjakkan kaki di wilayah Korut.

Menurut pengamat Korea dari Korea Institute for Defense Analyses, Kim Chang-su, tindakan kedua pemimpin itu sangat mengejutkan.

"Sangat mengejutkan, tapi itu tanda keharmonisan, tidak seperti satu pihak yang memaksakan perundingan ini ke pihak lainnya. Ini adalah langkah berani dari Kim Jong-un," kata Chang-su, dikutip dari The Guardian.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: web: