Pencarian populer

Ide Sobat Air ADES untuk Konservasi Air di Bea Muring, NTT

Sobat Air ADES di PLTMH Bea Muring. (Foto: Amanaturrosyidah/kumparan)

Tak hanya belajar soal konservasi saja, para Sobat Air ADES juga membagikan idenya kepada warga Bea Muring. Setelah berkegiatan selama dua hari dan memahami masalah warga sekitar, para Sobat Air ADES mencoba mencarikan solusi yang bisa diterapkan bagi warga sekitar.

Apa saja ide para Sobat Air ADES bagi masalah kekeringan dan pertanian di Bea Muring? Yuk simak!

Taumy Alif Firman

Selama berada di Bea Muring, Taumy mengaku mendapatkan banyak hal baru, seperti teknologi PLTMH yang dikembangkan pastor paroki setempat, Romo Marsel. Ia juga mengaku mendapat pelajar berharga untuk tidak menyia-nyiakan air.

"Di tempat asal kita mungkin air melimpah. Tapi bukan berarti kita bisa memfoya-foyakan air. Bisa kita mulai dari mengecilkan aliran keran air," ucapnya.

Untuk masalah air, Taumy menilai Bea Muring yang berada di dataran tinggi memiliki peluang tinggi untuk memanfaatkan air dari kabut. Air kabut tersebut bisa ditangkap menggunakan semacam plastik untuk kemudian digunakan mengairi persawahan dan ladang.

"Pas kuliah saya pernah lihat program mahasiswa air ditangkap dari kabut untuk kebun. Cuma dibuat jaring plastik kemudian kabut akan menabrak plastik dan airnya mengalir ke kebun," lanjutnya.

Selain itu, Taumy juga mengajarkan warga setempat cara filtrasi air sederhana menggunakan arang, ijuk, dan pasir atau kerikil. Dengan demikian, air tanah yang kurang jernih bisa dikonsumsi sebagai air minum warga setempat.

Sobat Air ADES menanam pohon di PLTMH Bea Muring. (Foto: Amanaturrosyidah/kumparan)

I Made Kusuma Arya Putra

Setiap kali traveling, Made harus menyempatkan diri berinteraksi dengan masyarakat sekitar dan mempelajari budayanya. Di Bea Muring, salah satu adat yang menjadi favorit Made adalah kebiasaan minum kopi atau teh untuk menyambut tamu.

"Saya punya latar belakang pecinta kopi, dan Kopi Flores ini memang sudah punya nama," tuturnya.

Namun, ia menilai petani kopi, khususnya di Bea Muring masih mendapatkan harga yang sangat rendah. Belum lagi kebiasaan ijon, atau berutang yang dibayar dengan hasil panen.

"Solusinya saya punya teman yang punya komunitas kopi di Surabaya. Mungkin kalau ada kesempatan, saya ajak mereka untuk bantu. Selain itu, mungkin bisa mulai membuat instagram untuk memasarkan," jelasnya.

Made juga mencetuskan ide agar warga Bea Muring mengumpulkan sampah-sampah mereka yang selama ini dibiarkan di buang begitu saja sembarangan. Sampah organik bisa dijadikan pupuk dan sampah anorganik bisa dijadikan bahan pembuatan aspal.

Sobat Air ADES di PLTMH Bea Muring. (Foto: Amanaturrosyidah/kumparan)

Dody Sanjaya

Pria asal Jakarta ini sempat menangis terharu mengingat sambutan meriah dari Bea Muring. Ia juga mengaku terharu dengan keramahan warga sekitar yang menerimanya seperti saudara.

"Terus saya merasa perjuangan Romo Marsel di sini, benar-benar dengan tekad kuat bisa merangkul orang-orang di sini. Padahal Romo baru datang 2012 lalu," ungkap Dody.

Dody menilai, Bea Muring memiliki potensi besar sebagai desa wisata religi. Apalagi, baru-baru saja ada peletakan batu pertama di gereja Bea Muring.

"Untuk dikembangkan itu saya dengar tadi ada peletakan batu di gereja. Kalau bisa, desa ini jadi desa wisata religi. Harus dikembangkan," pungkasnya.

Perjalanan Sobat Air ADES menuju ke PLTMH. (Foto: Amanaturrosyidah/kumparan)

Evrina Budiastuti

Ia memuji para petani di Bea Muring sebagai orang-orang yang cerdas dan mudah menangkap materi pertanian yang ia sampaikan dengan cepat. Untuk masalah pertanian, ia mengusulkam agar petani mencoba menanam di dalam pot saat musim kemarau.

"Jadi, kalau tidak memungkinkan, bisa tanam di pot agar kalau kita siram, airnya masih sisa di bawah pot," jelas Evrina.

Selain itu, untuk mengurangi penguapan tanah, ia menyebut bisa menggunakan jerami. Ia juga mengusulkan agar jarak antartanaman direnggangkan sesuai musimnya.

"Jarak tanam antartanaman kalau musim hujan direnggangkan, musim kemarau direkatkan," pungkasnya.

Perjalanan Sobat Air ADES menuju ke PLTMH. (Foto: Amanaturrosyidah/kumparan)

I Dewa Agung GD Yogeswara Aditya N

Masalah kekurangan air di daerah NTT sebenarnya sudah lama ia dengar. Namun, Adit mengaku baru benar-benar peduli dengan isu ini setelah merasakan langsung sulitnya akses air bersih di Bea Muring.

"Ketika turun langsung tadi, kita jadi tahu kayak apa. Kita sebagai milenial punya tugas untuk membantu menyebarkan kondisi desa ini agar bisa dilihat oleh pemerintah, dan mungkin dunia," kata Adit.

Pengalaman Adit di conservacation juga akan ia bawa ke daerah asalnya di Bali. Apalagi, masalah kekurangan air menurutnya juga terjadi di daerah Nusa Penida, Bali.

"Kebetulan saya kenal Bupati Klungkung, saya bisa bicarakan langsung Pak Bupati untuk mulai bangun embung, seperti di sini, di Nusa Penida nanti," lanjutnya.

Sobat Air ADES di PLTMH Bea Muring. (Foto: Amanaturrosyidah/kumparan)

Haerul Pahmi Haris

Masalah kekurangan air di Bea Muring membuat Haris teringat masa-masa sulit air di Lombok setelah gempa. Saat gempa besar terjadi di Lombok, air menjadi keruh dan ia tidak bisa mandi selama dua pekan.

"Waktu itu saya ngeluh. Tapi saya lihat di sini, saya belajar bahwa di sini yang selalu kurang air saja bisa survive," ungkap Haris.

Meski aliran airnya kecil, Haris melihat air tersebut tidak langsung digunakan atau ditampung. Untuk itu, ia mengusulkan agar ada tandon untuk menampung air tersebut.

"Jadi air yang mengalir tidak terbuang sia-sia. Jadi orang sini enggak perlu lagi nunggu lama buat ngisi air," pungkasnya.

Muhammad Irfan Kholiudin

Keramahan warga Bea Muring menjadi salah satu momen yang berkesan bagi Irfan. Apalagi, saat mereka tidak keberatan jika ada tetangga yang menumpang mandi atau buang air karena kekurangan air di rumahnya.

"Pas pertama kali saya ke rumah, kebetulan airnya enggak banyak. Jadi mandinya numpang di rumah lain. Saya bersyukur, di sini mandi aja berjuang tapi di rumah keran hampir selalu nyala," tutur Irfan.

Untuk masalah listrik, selain menggunakan PLTMH (pembangkit listrik tenaga mikro hidrolik), Irfan menyarankan warga untuk.mencoba solar panel. Sehingga, saat aliran air di PLTMH belum lancar karena kemarau, warga memiliki alternatif lain.

"Selain itu, saya lihat di sini juga ada potensi kopinya. Kebetulan suka ngopi juga. Di sini potensinya udah ada, tinggal pemasaran dan promosinya aja," lanjut dia.

Kara Nisa

Sementara, Karan justru mengaku heran saat mencari tempat pembuangan sampah di Bea Muring. Sebab, rata-rata warga tidak memiliki tempat pembuangan sampah dan masih membuang sembarangan.

"Pas tanya beberapa kali, ada tempat sampah enggak? Katanya, oh buang aja di situ. Padahal kan tempat sampah itu hal mendasar untuk kehidupan," kata Karan.

Apalagi, sampah yang dibuang sembarangan bisa menyumbat aliran air dan menyebabkan pencemaran. Sehingga, akses air bersih bagi warga akan semakin sulit.

"Kalau lingkungan kotor juga bisa timbul berbagai penyakit dan lain-lainnya," pungkasnya.

Sobat Air ADES membawa pupuk untuk menanam pohon di PLTMH. (Foto: Amanaturrosyidah/kumparan)

Muhammad Asyraf

Menurut Asyraf, salah satu yang bisa dikembangkan di Bea Muring, yakni tanaman cocoa atau coklat. Sebab, selain harganya yang mahal, perawatan coklat sebenarnya tidak terlalu sulit.

"Di kampung saya itu, coklat harganya mahal sekali. Jadi mungkin coklat bisa diteliti lagi di sini," kata Asyraf.

Sedangkan untuk solusi lainnya, ia menyarankan warga Bea Muring mencoba menggunakan panel surya. Apalagi, sudah banyak lampu dengan panel surya yang dipasang di jalan-jalan.

"Selain itu budaya apa yang bisa dingkat di sini bisa jadi wisata budaya," kata dia.

Sobat Air ADES mencoba menampung air bersih dari sumber mata air di Bea Muring, NTT. (Foto: Amanaturrosyidah/kumparan)

Priscilla Nadia Putri

Salah satu hal yang menarik dari Bea Muring adalah tanaman organik yang mereka tanam. Meski mata air sekitar sangat kecil, mereka tetap tidak putus asa.

"Selain itu, karena tanam sendiri, produksi sendiri, dan menggunakannya sendiri, itu jadi oke karena tidak menggunakan kemasan," kata Nadia.

Selain itu, ia juga melihat sebenarnya banyak warga Bea Muring yang bisa menenun. Namun, karena berbagai alasan mereka lebih suka membeli dari desa lain.

"Padahal kalau bisa menenun, lebih baik dicoba kembangkan di sini. Itu lebih baik," pungkasnya.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: web: