kumparan
7 Nov 2018 14:19 WIB

Ilhan Omar dan Rashida Tlaib, Dua Wanita Muslim Pertama di Kongres AS

Ilhan Omar dan Rashida Tlaib. (Foto: REUTERS/Brian Snyder , REUTERS/Rebecca Cook)
Ilhan Omar dan Rashida Tlaib menjadi dua wanita Muslim pertama yang terpilih menjadi anggota Kongres Amerika Serikat. Dua wanita dari Partai Demokrat ini unggul suara dalam pemilu paruh waktu AS, Selasa (6/11).
ADVERTISEMENT
Dikutip dari media Huffington Post, Tlaib menang pada pemilihan anggota Dewan Perwakilan di Michigan sementara Omar di Minnesota. Keduanya berhasil mengalahkan para calon legislatif dari Partai Republik.
Ilhan Omar, calon legislatif AS. (Foto: REUTERS/Brian Snyder)
Omar adalah pengungsi asal Somalia yang datang ke AS di usia 14 tahun. Dalam pidato kemenangannya, Omar mengaku gembira terpilih sebagai anggota Kongres AS dengan berderet titel "pertama" yang menyertai namanya.
"Wanita kulit berwarna pertama yang mewakili negara bagian kita di Kongres, wanita berhijab pertama, pengungsi pertama yang terpilih di Kongres, dan salah satu wanita Muslim pertama di Kongres," kata Omar.
"Di Minnesota, kita tidak hanya menyambut imigran. Kita mengirim mereka ke Washington," lanjut dia lagi, disambut riuh pendukungnya.
Di akun Twitternya, Omar juga menyampaikan ucapan selamat kepada koleganya, Tlaib. "Saya tidak sabar untuk melayani bersama Anda," kata wanita berusia 36 tahun ini.
ADVERTISEMENT
Tlaib, 42, lahir di Detroit dari pasangan suami-istri imigran asal Palestina. Pada 2008 dia menjadi wanita Muslim pertama yang terpilih menjadi Senat.
Rashida Tlaib. (Foto: REUTERS/Rebecca Cook)
Baik Tlaib dan Omar memiliki kesamaan program kerja jika terpilih nanti. Keduanya berjanji akan memastikan upah minimum USD 15, mencegah pemangkasan jaminan kesejahteraan, dan memastikan tidak ada pemotongan pajak untuk perusahaan besar.
Pemilu paruh waktu di AS untuk memilih seluruh 435 anggota Dewan Perwakilan dan 35 dari 100 anggota Senat. Partai Demokrat diperkirakan mendongkel Republik sebagai pemilik kursi mayoritas di Kongres. Jika ini terjadi, maka laju pemerintahan Presiden Donald Trump untuk dua tahun ke depan diperkirakan akan sulit.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan