Pencarian populer
Imam Nahrawi, Tsamara, dan Yusril Paling Populer di Dapil DKI Jakarta
Rilis survei Charta Politika untuk pileg dapil DKI 1,2 dan 3 di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (11/2). Foto: Lutfan Darmawan/kumparan
Lembaga survei Charta Politika merilis hasil survei tingkat pengenalan dan kesukaan calon anggota DPR dari dapil DKI Jakarta 1, 2, dan 3. Dari hasil survei tersebut, Imam Nahrawi meraih elektabilitas tertinggi dengan perolehan 51 persen.
Direktur Riset Charta Politika Muslimin menjelaskan, tingginya elektabilitas Imam Nahrawi dikarenakan faktor popularitas. Demikian pula dengan Tsamara Amany yang elektabilitasnya cukup tinggi karena faktor popularitas.
"Pertama, memang kita lihat elektabilitas tetap faktor popularitas cukup dominan. Seperti Imam Nahrawi itu di 51 persen, yang lainnya di bawah 40 (persen). Jadi ada faktor popularitas kenapa suara Imam Nahrawi tinggi. Kemudian Mbak Tsamara (elektabilitasnya) tinggi karena faktor popularitas tinggi," kata Muslimin di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (11/2).
Dari hasil survei tersebut, Imam Nahrawi yang maju sebagai caleg dari PKB memperoleh elektabilitas sebesar 51,8 persen di dapil 1 DKI Jakarta. Angka tersebut disusul oleh caleg dari Partai Gerindra Habiburokhman dengan 31,7 persen, dan caleg dari PDIP Putra Nababan dengan 26,7 persen.
Imam Nahrawi. Foto: Instagram/@nahrawi_imam
Sementara di dapil 2 DKI Jakarta, caleg dari PSI memperoleh elektabilitas sebesar 26,4 persen. Disusul oleh caleg dari PKS Hidayat Nur Wahid dengan 25,3 persen, dan caleg dari Partai Gerindra Biem Triani Benjamin dengan 23, 6 persen.
Di dapil 3 DKI Jakarta, caleg dari PBB Yusril Ihza Mahendra memperoleh elektabilitas sebesar 58,8 persen. Disusul oleh caleg dari PDIP Charles Honoris dengan 53 persen, dan caleg dari PAN Abraham Lunggana (Haji Lulung) dengan 52 persen.
Meski demikian, Muslimin menjelaskan perolehan elektabilitas yang tinggi dari beberapa nama tersebut tidak menjamin akan dipilih oleh masyarakat di Pileg 2019. Agar bisa dipilih, para caleg harus turun langsung ke dapil untuk memperkenalkan dirinya.
"Artinya populer itu penting, tapi ternyata popularitas tak jamin jadi (terpilih). Kemudian kedua, kalau kita lihat rata-rata caleg yang bekerja itu tidak banyak (kampanye) di bawah sehingga kecenderungan orang tadi lebih banyak memilih parpol," jelasnya.
Tsamara Amany Foto: Instagram/@tsamaradki
Hal tersebut terlihat dari survei lanjutan yang menunjukkan di dapil 2 DKI Jakarta, nama Tsamara tidak berada di posisi teratas dalam faktor keterpilihan. Di dapil tersebut, Hidayat Nur Wahid justru memiliki elektabilitas yang tinggi dengan perolehan 7,1 persen berdasarkan faktor keterpilihan. Angka tersebut diikuti oleh caleg dari PDIP Eriko Sotarduga dengan 7,0 persen, caleg dari Partai Gerindra Biem Triani Benjamin dengan 6,6 persen, sementara Tsamara hanya memperoleh elektabilitas sebesar 3,3 persen.
Begitu juga di dapil 3 DKI Jakarta di mana caleg dari PDIP Charles Honoris memiliki elektabilitas dengan perolehan 8,6 persen berdasarkan faktor keterpilihan. Angka itu diikuti caleg dari PAN Haji Lulung dengan 8,0 persen, lalu disusul caleg dari PKB Yusril Ihza Mahendra di posisi ketiga. Hanya Imam Nahrawi saja yang konsisten elektabilitasnya di angka 15,1 persen berdasarkan faktor keterpilihan.
"Caleg harus kampanye efektif di bawah. Jadi mengarahkan publik coblos namanya, jangan partainya agar tak percuma. Caleg ke depan (harus) turun ke bawah, harus bawa kertas suara," tuturnya.
Hal ini juga berpengaruh pada perolehan kursi di DPR dari dapil DKI 1, 2 dan 3. Di dapil 1 DKI, hanya ada 5 partai yang diprediksi mendapatkan kursi yakni PKB (1 kursi), Gerindra (2 kursi), PDIP (1 kursi), Golkar (1 kursi) dan PAN (1 kursi).
Abraham Lunggana alias Haji Lulung Foto: Nabilla Fatiara/kumparan
Sedangkan di dapil 2 DKI Jakarta hanya 4 partai yang diprediksi mendapatkan kursi, yakni PKB (1 kursi), Gerindra (3 kursi), PDIP (2 kursi), dan PKS (1 kursi). Terakhir di dapil 3 DKI Jakarta, hanya 5 partai yang diprediksi mendapatkan kursi yakni Gerindra (2 kursi), PDIP (3 kursi), Golkar (1 kursi), PKS (1 kursi), dan PAN (1 kursi).
"Elektabilitas calon anggota legislatif masih didominasi nama-nama incumbent di masing-masing dapil," pungkas Muslimin.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: web: