Pencarian populer

Imigran Indonesia Kalahkan Ancaman Deportasi Trump

Demonstrasi mendukung imigran WNI di AS. (Foto: REUTERS/Brian Snyder/File Photo)

Imigran Indonesia di Amerika Serikat berhasil keluar dari ancaman deportasi yang disebabkan oleh kebijakan imigrasi Presiden Donald Trump. Pengadilan Federal Amerika Serikat membatalkan keputusan deportasi imigran asal Indonesia yang tinggal di Massachusetts.

Keputusan ini dirayakan oleh para pejuang hak-hak imigran dan minoritas di AS. Lembaga advokasi imigran American Civil Liberties Union (ACLU) melalui akun Twitter-nya mengumumkan bahwa petisi imigran Indonesia dan advokat pendukung yang menuntut hak tinggal di AS dikabulkan oleh pengadilan setempat dan disebut sebagai sebuah kemenangan.

"Kami berhasil menang dalam bertarung melawan pembatasan imigrasi pemerintahan Trump yang hendak mendeportasi sekelompok warga negara Indonesia yang tengah menghadapi perseksusi, siksaan, dan kematian dari keyakinan mereka," tulis ACLU pada Senin (27/11).

Imigran Indonesia ini terancam dipulangkan ke Tanah Air sebagai dampak dari perintah eksekutif Presiden Trump pada bulan Januari 2017 yang memperketat imigrasi. Peraturan itu sempat ramai ditentang karena memberlakukan pelarangan masuk terhadap 10 negara Islam. Tidak hanya negara-negara tersebut, dampak kebijakan ini juga merugikan imigran lain. Mereka yang menetap tanpa izin tinggal permanen terancam dideportasi dari AS.

Pengadilan Federal Distrik Massachusetts mengeluarkan perintah sementara yang dapat menghalangi deportasi. Kepala Pengadilan Boston, Patti Saris, beranggapan bahwa keputusan ini dapat memberi kesempatan kepada para imigran untuk dapat mengurus izin tinggal. Saris berujar bahwa ketakutan yang dialami oleh para imigran asal Indonesia sangat beralasan dan dapat dipertimbangkan oleh otoritas imigrasi AS.

"Pemerintah harus melapor kepada pengadilan apakah para penggugat akan mendapat akses terhadap prosedur darurat yang memungkinkan keresahan mereka didengar," tulis Saris yang dikutip dari Reuters.

Deputi Direktur ACLU, Lee Gelernt, menyambut baik keputusan pengadilan. Memaksa mereka kembali ke negaranya adalah pilihan yang terlalu berisiko bagi para imigran. "Dengan terburu-buru mendeportasi sebanyak mungkin imigran, ICE menempatkan keluarga-keluarga yang tinggal di Amerika Serikat secara damai selama berpuluh-puluh tahun dalam bahaya besar karena dianiaya atau dibunuh. Pengadilan benar menghentikan ini terjadi," ujarnya.

Aksi menolak deportasi imigran WNI (Foto: REUTERS/Brian Snyder)

Imigran Indonesia di AS pindah karena ancaman kekerasan sektarian yang merebak pada saat kejadian reformasi tahun 1998. Kebanyakan dari mereka adalah WNI keturunan Tionghoa dan beragam Nasrani. Identitas mereka sangat renta menjadi korban kekerasan.

Awalnya, mereka datang ke AS dengan menggunakan visa turis lalu tinggal melebihi jangka waktu 1 tahun. Pemerintah AS akhirnya tidak mempermasalahkan status ilegal mereka. Para WNI kemudian hanya diwajibkan melapor secara rutin sambil membawa paspor mereka ke kantor Immigration and Customs Enforcement (ICE).

Hanya saja, kebijakan Trump untuk membatasi imigrasi meruntuhkan semuanya. Ketika mereka datang ke kantor ICE di bulan Agustus tahun ini, pejabat setempat mengaku tidak bisa lagi menerbitkan pembaruan izin tinggal sementara.

Para imigran Indonesia ini menolak jika nantinya mereka harus terpaksa dideportasi. Bayang-bayang ketakutan akan kekerasan di tanah kelahirannya menyisakan trauma yang belum sembuh. Padahal, terdapat 2.000 imigran Indonesia yang tinggal di wilayah Massachusetts yang tengah mengalami ancaman yang sama.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Jumat,24/05/2019
Imsak04:26
Subuh04:36
Magrib17:47
Isya19:00
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.22