kumparan
1 Feb 2018 15:36 WIB

JK Samakan Militan Abu Sayyaf dengan Robin Hood

Jusuf Kalla (Foto: Kevin Kurnianto/kumparan)
Wakil Presiden Jusuf Kalla menyamakan militan Abu Sayyaf dengan Robin Hood. Pernyataan ini disampaikan JK mengomentari aktivitas penyanderaan demi tebusan yang dilakukan oleh Abu Sayyaf di Filipina Selatan.
ADVERTISEMENT
Berbicara usai bertemu pemimpin Front Pembebasan Islam Moro (MILF), JK mengatakan persamaan antara Abu Sayyaf dan Robin Hood adalah sama-sama memberikan uang hasil kejahatan kepada orang miskin.
"Sandera ini di tangan Abu Sayyaf atau faksi yang lebih kecil lagi. Kayak di Marawi kemarin, kayak di selatan lagi," kata JK di Kantor Wakil Presiden, Jakarta Pusat, Kamis (1/2).
"Memang kerjanya sandera karena itu Robin Hood. Dia sandera, orang bayar, ransom. Terus dia bagi ke orang miskin. Itu tradisi lama itu," kata JK lagi.
Tentara bagikan foto buronan anggota Abu Sayyaf. (Foto: Reuters//Marconi B. Navales)
Robin Hood adalah dongeng kepahlawanan asal Inggris di Abad Pertengahan yang telah diadaptasi ke banyak karya sastra dan film. Dalam mitosnya, Robin Hood adalah seorang pemanah ulung yang kerjanya mencuri dari orang kaya dan memberikannya kepada fakir miskin.
ADVERTISEMENT
Berdasarkan mitologinya, Robin Hood adalah tokoh protagonis yang disegani dan dielukan.
Abu Sayyaf adalah kelompok militan yang merongrong keamanan di Filipina Selatan. Abu Sayyaf berbaiat kepada militan ISIS di Suriah sehingga dianggap kelompok teroris.
Saat ini masih ada 3 sandera warga negara Indonesia di tangan Abu Sayyaf.
Militan di Marawi, Filipina (Foto: Social Media Website via Reuters TV)
Kelompok ini tidak segan membunuh sanderanya jika tebusan tidak dibayarkan. Pada Februari 2017 lalu, Abu Sayyaf merilis video eksekusi mati warga Jerman setelah tebusan tidak dibayarkan hingga tenggat waktu.
Abu Sayyaf adalah salah satu pengganjal dalam perdamaian di Mindanao setelah Front Pembebasan Islam Moro (MILF) berdamai dengan pemerintah Filipina pada 2014. Pagi ini, pemimpin MILF Murad Ebrahim sowan ke JK untuk mendapatkan nasihat terkait perdamaian.
ADVERTISEMENT
Ebrahim mengatakan mereka menyadari masih adanya WNI yang disandera Abu Sayyaf, namun sulit melakukan kontak.
"Kami tahu bahwa ada beberapa orang Indonesia yang masih disandera di Filipina Selatan dan kami akan berusaha sekuat tenaga untuk membebaskan mereka," kata Murad.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan