kumparan
8 Feb 2019 23:39 WIB

Jokowi Puji Deklarasi Antihoaks Muslimat NU: Agar Tak Didera Konflik

Presiden Joko Widodo saat silaturahmi dengan Muslimat NU dan Para Ulama, Cianjur di Pondok Pesantren Al-Ittihad Cianjur, Jum'at (8/2/2019). Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden/Laily Rachev
Muslimat Nadhlatul Ulama (NU) menggelar deklarasi antihoaks, antifitnah, dan antigibah yang turut dihadiri oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi). Deklarasi dilakukan di sela-sela acara silaturahmi presiden dengan Muslimat NU dan para ulama di Pondok Pesantren Al-Ittihad Cianjur, Jawa Barat.
ADVERTISEMENT
Acara silatuhrami ini turut dihadiri oleh Iriana Jokowi, Ketua Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa, dan pejabat lainnya. "Saya sangat menghargai sekali, Bu Khofifah, deklarasi-deklarasi oleh Muslimat NU di mana-mana supaya kita tidak didera oleh perpecahan dan konflik. Kalau sudah perang, sudah konflik, menyembuhkannya dan mengembalikannya sangat sulit," ujar Jokowi, dalam keterangan dari Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden Bey Machmudin, Jumat (8/2).
Presiden Joko Widodo saat silaturahmi dengan Muslimat NU dan Para Ulama, Cianjur di Pondok Pesantren Al-Ittihad Cianjur, Jum'at (8/2/2019). Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden/Laily Rachev
Jokowi menekankan pentingnya merawat dan menjaga persatuan, kerukunan, dan persaudaraan. Sebab, Indonesia merupakan bangsa besar dengan masyarakatnya yang beragam suku, agama, adat, tradisi, dan bahasa daerah. Ia kemudian menceritakan pengalamannya bertemu dengan Presiden Afghanistan Ashraf Ghani dan istrinya Rula Ghani. Jokowi menggambarkan Afghanistan sebagai negara kaya namun hancur karena konflik dua suku yang berkepanjangan. "Ibu Rula Ghani menyampaikan yang paling rugi hanya dua, satu, wanita, yang kedua anak-anak. Tidak bisa ke mana-mana. Beliau menyampaikan sekarang saya bisa naik sepeda saja sudah saya syukuri alhamdulillah. Inilah pengalaman, pelajaran yang bisa kita ambil. Negara yang dulunya aman tenteram kemudian perang karena konflik dua suku," jelasnya. Maka dari itu, Jokowi menilai deklarasi ini penting untuk mengingatkan seluruh komponen bangsa bahwa kita saling bersaudara. Ia tak ingin hanya karena pesta politik membuat masyarakat saling tidak bersapa.
Presiden Joko Widodo saat silaturahmi dengan Muslimat NU dan Para Ulama, Cianjur di Pondok Pesantren Al-Ittihad Cianjur, Jum'at (8/2/2019). Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden/Laily Rachev
"Lupa kita ini saudara. Ukhuwah kita harus kita pererat terus, kita jaga, kita rawat. Kok urusan pilihan politik menjadi seperti itu. Karena apa? Di sini ngompori, di sini ngompori, kemudian muncul di tengah-tengah fitnah dan hoaks sehingga antarteman, antartetangga, antarkampung tidak saling bicara," ungkap Jokowi. Ia mengungkapkan memilih pemimpin dalam kontestasi politik itu mudah, yaitu dengan melihat pengalaman, prestasi, program kerja, dan ide serta gagasan yang ditawarkan. "Jangan dengerin yang namanya fitnah-fitnah, isu-isu yang berkembang. Kalau sudah menjelang, ini kan dua bulan lagi ini bulan politik ini, isinya pasti simpang siur ke mana-mana," tuturnya. Seusai acara, Jokowi kemudian sempat mengunjungi Alun-Alun Cianjur. Ia penasaran dengan alun-alun tersebut setelah diberikan gambarnya oleh Bupati Cianjur. "Saya sudah lama 'dikejar-kejar' Pak Bupati. Saya tanya, alun-alunnya kayak apa sih? Saya diberikan gambar, ini Pak gambarnya. Saya buka, wah wah bagus dan cantik betul," kata Jokowi. Ia berharap ke depannya semakin banyak ruang publik terbuka seperti Alun-Alun Cianjur. Jokowi juga menginstruksikan Menteri PUPR Basuki Hadimuljono untuk membangun ruang publik seperti alun-alun itu di wilayah lain mulai tahun depan. "Nyicil enggak usah banyak-banyak. Setahun 20 (ruang publik) tapi yang bagus. Jadi masyarakat diberi ruang untuk berinteraksi, bercengkerama, diberi ruang untuk budaya dan seni," tutupnya. Jokowi menyempatkan diri meninjau fasilitas-fasilitas di Alun-Alun Cianjur, hingga menonton atraksi silat dan bermain gasing bersama anak-anak.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan