kumparan
22 Feb 2018 19:07 WIB

Kala Ahmadinejad Nasihati Khamenei soal Pemilu yang Bersih

Ahmadinejad (Foto: REUTERS/Fatih Saribas)
Salah satu yang paling diingat dunia soal Mahmoud Ahmadinejad adalah pada 2009, ketika dia dituduh melakukan kecurangan pemilu dan mengerahkan pasukan keamanan untuk menghadapi demonstran. Puluhan orang tewas ketika itu. Kini, Ahmadinejad berbicara soal pemilu yang bersih dan adil, dalam nasihatnya kepada Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Khamenei.
ADVERTISEMENT
Ahmadinejad menulis surat terbuka kepada Khameini di situs pribadinya, seperti diberitakan Reuters, Kamis (22/2). Dalam suratnya, dia menyerukan agar pemerintah Khamenei menggelar pemilu yang bebas dan adil pada Mei mendatang, tanpa ada campur tangan Dewan Pelindung Iran.
"Kebutuhan yang mendesak dan esensial adalah menyelenggarakan pemilu yang cepat dan bersih untuk presiden dan parlemen, tentu tanpa rekayasa Dewan Pelindung dan intervensi militer dan institusi keamanan, agar rakyat punya hak untuk memilih," tulis Ahmadinejad.
Dewan Pelindung Iran yang beranggotakan 12 orang adalah institusi tertinggi yang ditunjuk oleh Khamenei untuk menentukan kandidat calon presiden negara itu. Tahun lalu, Dewan ini mendiskualifikasi Ahmadinejad yang ingin kembali maju jadi presiden Iran.
Padahal pada 2005 dan 2009, Dewan ini yang disebut berada di balik kemenangan Ahmadinejad. Ketika itu, Dewan memutuskan bahwa Ahmadinejad menang pemilu kendati mendapatkan penentangan dan protes dari para oposisi. Kemenangan Ahmadinejad kala itu disebut penuh kecurangan.
ADVERTISEMENT
Ribuan orang turun ke jalan, digempur oleh pasukan Iran. Data pemerintah menunjukkan 36 orang tewas, sementara data oposisi 72 tewas. Sebanyak 4.000 orang ditahan.
Mahmoud Ahmadinejad. (Foto: Reuters)
Ahmadinejad ketika itu berada di atas angin karena dapat dukungan dari Khamenei dan Dewan Pelindung. Namun dia kemudian dianggap membangkang pada titah sang pemimpin Syiah Iran ketika memecat menteri intelijen yang disenangi Khamenei.
Kisruh ini berujung pada Khamenei yang menganulir keputusan Ahmadinejad dan menempatkan menteri itu kembali pada posisinya. Bagaimanapun di Iran, Ayatullah adalah pemimpin tertinggi di atas presiden.
Ketika Ahmadinejad hendak maju dalam pemilu 2018, lajunya tidak mulus. Dalam suratnya pekan ini, Ahmadinejad seakan menyindir sistem di Iran yang dulu pernah membuatnya berada di awan.
ADVERTISEMENT
Pria 61 tahun ini menyerukan "reformasi fundamental" di tiga cabang pemerintah Iran - eksekutif, parlemen, dan pengadilan. Dia juga menyinggung reformasi di kantor Pemimpin Tertinggi, Khamenei.
Ahmadinejad enggan menjabarkan lebih lanjut reformasi yang dia maksud, namun perkataannya yang menyinggung kantor Pemimpin Tertinggi dianggap cukup berani -jika tidak dibilang lancang.
Khamenei dan pimpinan IRGC (Foto: US Institute for Peace)
Pasalnya menurut Reuters, bahkan Presiden Iran Hassan Rouhani tidak cukup bernyali menyentuh ranah itu. Rouhani memang berbicara soal liberalisasi ekonomi dan masyarakat, dan seruan agar Garda Revolusi tidak ikut campur dalam pemilu, tapi sampai di situ saja, tidak menyenggol soal kekuasaan Khamenei yang tidak terbatas.
Pasalnya, menyinggung Khamenei bisa diartikan penghinaan yang hukumannya berat di Negeri Para Mullah itu.
Ahmadinejad dalam suratnya juga menyerukan pembebasan tahanan politik dan dilengserkannya hakim garis keras Ayatullah Sadeq Amoli Larijani, yang disebutnya kerap memberangus oposisi.
ADVERTISEMENT
Seruan ini agak ironis, Ahmadinejad di masa kepemimpinannya dianggap melakukan banyak pelanggaran HAM, termasuk menangkapi dan menyiksa para tahanan politik dari kubu oposisi. Para penghina Ahmadinejad ditangkapi dan disiksa di penjara, termasuk para aktivis 2009, berdasarkan laporan situs Center for human Right in Iran.
Kendati mendapatkan penentangan di dalam dan luar negeri, tidak bisa dipungkiri pendukung Ahmadinejad masih banyak terdapat di kalangan rakyat pinggiran dan miskin. Kemunculan kembali Ahmadinejad oleh para pengamat tidak lain untuk kembali merintis jalan ke tampuk pimpinan.
"Ahmadinejad dan kelompoknya semakin aktif mengkritik sistem pengadilan dan pemerintah. Dia melanjutkan berjalan di jalur yang populis," kata Roozbeh Mirebrahimi, bekas jurnalis Iran yang kini tinggal di New York, kepada Reuters.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan