Pencarian populer

Kala Raja Singa Menyerang Batavia

Ilustrasi prostitusi zaman kolonial. (Foto: Basith Subastian/kumparan)

Dunia gelap prostitusi menjadi sorotan usai terbongkarnya jaringan yang melibatkan artis Ibu Kota. Namun, praktik prostitusi itu sendiri sudah berumur panjang, dari zaman kerajaan, era penjajahan Belanda dan Jepang, hingga pascamerdeka.

Semua bermula dari kedatangan Verenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) pada tahun 1602. Mereka hadir di Hindia Belanda dengan membawa segudang masalah, dari mulai ekonomi, politik, hingga penyakit.

Orang-orang VOC itu pun bukan hanya jadi masalah bagi warga pribumi. Namun, juga bagi banyak orang Belanda sendiri yang tertular penyakit sifilis (Raja Singa) karena kebiasaan dalam praktik prostitusi. Bahkan, banyak orang Belanda yang meninggal di tanah jajahan akibat sifilis..

Mengutip buku Uka Tjandrasasmita berjudul ‘Sejarah Perkembangan Kota Jakarta’, banyaknya orang Belanda yang meninggal di Batavia akibat penyakit menular, khususnya kelamin, memunculkan penamaan baru bagi kota itu. Batavia sempat dijuluki sebagai ‘Graf der Hollanders’ atau Kuburan Orang Belanda.

Selain itu, banyak pelacur dan tentara Hindia-Belanda yang juga terjangkit infeksi menular akibat bakteri spiroset Treponema pallidum. Hal itu diperparah, karena sifilis juga dapat ditularkan dari ibu ke janin selama kehamilan atau saat kelahiran, yang menyebabkan terjadinya sifilis kongenital atau sifilis akibat keturunan.

Menelisik Awal Mula Penyakit Kelamin di Batavia

Para Pekerja Seks Komersial zaman penjajahan tentara Jepang. (Foto: Dok. tutufoundationusa.org)

Di masa Hindia Belanda, pemerintah berkuasa membentuk sebuah badan yang bisa mengambil keputusan dan menetapkan garis kebijakan VOC. Dikutip dari buku ‘Seks dan Kekerasan Seksual pada Masa Kolonial’ karya Suyono tahun 1998, badan itu terdiri dari satu dewan direksi yang terdiri dari tujuh belas orang yang mewakili enam kamar dagang.

Salah satu peraturan yang dikeluarkan yakni mempekerjakan pegawai sipil dan militer. Pegawai sipil dan militer itu didatangkan dari Belanda atau negara-negara Eropa. Namun, pekerja perempuan tidak diperbolehkan.

Alhasil, mayoritas pegawai dan tentara Eropa yang ada di Hindia Belanda memilih berhubungan dengan perempuan-perempuan pribumi. Mereka yang kebanyakan masih berstatus bujang tersebut juga kerap membuat gaduh karena doyan mabuk-mabukan.

Kebiasaan buruk itu membuat VOC khawatir. Maka, Pemimpin VOC Johan Van Oldebanevelt kemudian mendatangkan para perempuan Belanda ke Nusantara dengan biaya mereka sendiri.

Perempuan-perempuan itulah yang kemudian dijadikan pemuas nafsu para pegawai dan tentara. Awalnya hanya dikirim 100 orang, kemudian berlanjut hingga mencapai 1.000 lebih.

“Awalnya mereka datang ya hanya melakukan hubungan seksual serampangan dengan orang-orang yang dikirim langsung dari Belanda itu tadi,” kata sejarawan Betawi Ridwan Saidi saat berbincang dengan kumparan, Selasa (15/1).

Namun, orang-orang Belanda itu tak merasa terpuaskan. Mereka mengaku bosan karena hanya bisa berhubungan seksual dengan kaum mereka sendiri.

Serdadu di zaman kolonial. (Foto: Dok. wikipedia)

Oleh karena itu, VOC kemudian menerbitkan kebijakan yang mendukung hubungan antara laki-laki Belanda dengan para perempuan Asia (China, Korea, dan Indonesia). VOC membeli para budak perempuan Asia untuk dijadikan istri oleh pria Belanda.

“Dengan syarat perempuan yang akan dinikahi harus beragama Nasrani, tentu saja hal ini menjadi halangan. Karena tidak dapat menikah secara resmi, maka banyak para laki-laki ini yang kemudian mempunyai nyai atau gundik,” demikian tulisan dari Budiarti yang berjudul “Lintas Sejarah Perdagangan Perempuan di Indonesia”.

Kondisi itulah yang menyebabkan munculnya benih-benih penyakit kelamin, khususnya sifilis, di Hindia-Belanda. Bagaimana tidak, para pegawai dan tentara itu kerap berhubungan seksual dengan banyak perempuan secara bergantian.

Seorang dokter di Batavia bernama Van der Burg mengatakan, sifilis banyak menyebar pada masyarakat yang sudah diinfiltrasi oleh orang Eropa. Sifilis sedikit berkembang di daerah-daerah yang tidak banyak ditinggali oleh orang Eropa dan di tempat yang tidak banyak praktik perempuan gundik.

“Lebih jauh Van der Burg mengatakan bahwa sifils merupakan kado pertama yang dibawa oleh peradaban Barat,” tulis Ghani Gaelani dalam bukunya ‘Penyakit Kelamin di Jawa’.

Semakin Mewabah di Abad ke-19 dan 20

Ilustrasi tentara Belanda. (Foto: Wikimedia Commons)

Lambat laun, prostitusi dan lokalisasi mulai menjamur di Batavia. Meski praktik pelacuran sempat dihentikan oleh Gubernur Jenderal Jan Pieterzoen Coen, di tahun 1623.

Coen adalah seorang moralis yang benci pelacuran dan perzinaan. Ia bahkan pernah menghukum putri angkatnya sendiri, Sarah Specx, karena diduga berzina dengan serdadu muda penjaga Balai Kota Batavia Pieter J. Cortenhoeff di Balai Kota Batavia, 1629 silam.

Pieter dihukum gantung di halaman Balai Kota Batavia (stadhuisplein). Sementara Sarah, dihukum cambuk disaksikan warga Batavia di gerbang Balai Kota Batavia.

Sayangnya, kebijakan Coen tidak mampu menumpas praktik prostitusi. Bahkan, malah berkembang dan semakin menjamur di sudut-sudut ibu kota. Menurut Ridwan Saidi, tempat prostitusi yang muncul di awal berlokasi di Glodok, Jakarta Barat.

Ridwan mengatakan, hal ini yang kemudian membuat orang pribumi, khususnya yang tergabung menjadi tentara Hindia-Belanda juga ‘menikmati’ kehadiran tempat remang-remang tersebut. Padahal, awalnya orang Batavia adalah orang yang bersih dari tindakan amoral dan asusila seperti itu.

Wabah penyakit pun muncul dan menjangkiti anggota militer pada abad 19 hingga awal abad 20. Kondisi itu merupakan salah satu efek dari dunia prostitusi yang semakin marak.

Dikutip dari Arsip Algemeene Serie Grote Bundel Secretarie, pada tahun 1889, mayoritas pekerja seks komersial di Batavia tidak sehat. Perbandingannya, dari jumlah 1.000 pelacur hanya 160 yang sehat.

Menurut sejarawan asal Universitas Padjadjaran Ghani Jaelani, anggota militer level rendah di akhir abad ke-19 mulai banyak mendatangi tempat-tempat prostitusi di pinggiran Batavia. Hal ini menjadi wajar karena saat itu, prostitusi dilegalkan dan pimpinan tentara Hindia Belanda saat itu juga tak melarang tentara level bawah ‘jajan’ di rumah bordil.

“Karena ada aturan di militer kalau tidak semua militer boleh membawa istri. Hanya pangkat tertentu yang membawa istri dan hanya pangkat tertentu yang boleh membawa gundik. Nah yang rendah inilah enggak boleh. Yang rendah kemudan diperbolehkan untuk ke rumah bordil,” kata Ghani saat dihubungi melalui sambungan telepon, Selasa (15/1).

Kebiasaan itulah yang membuat angka kematian orang Hindia-Belanda sangat tinggi pada saat itu. Selain tentara, pelacur pun banyak yang meninggal karena sifilis, tentara pun demikian.

Ghani menyebut laporan tersebut dirahasiakan dan tidak bisa diakses publik kala itu. Arsip ini baru dibuka ke publik 20 tahun kemudian.

Dia menambahkan, banyaknya tentara dan pelacur yang meninggal membuat pemerintah semakin gencar menggalakkan program-program kesehatan. Dari mulai pendataan hingga dokter yang menyambangi rumah bordil.

Para pelacur yang tadinya berkeliaran di jalanan diangkut ke rumah bordil untuk mencegah mewabahnya penyakit sifilis. "Jadi rumah bordil harus terdaftar oleh pemerintah. Kayak ronggeng itu kan dianggap pelacur, dia harus berafiliasi dengan rumah bordil itu," ungkap dia.

Ia menceritakan, rumah bordil itu juga harus mendata setap kunjungan dari dokter. Dokter itu, akan datang ke pelacur dan memberi kartu sehat dan tidak sehat.

"Kalau tidak sehat dia (pelacur) harus dikarantina. Jadi untuk memastikan kalau mereka yang datang terutama tentara masa itu aman dari ancaman penyakit sifilis," tutur Gani.

Dikutip dari tulisan Lucia Arter Lintang Gritantin yang berjudul ‘Penyakit Kelamin di Kalangan Korps Militer Hindia Belanda 1860 Sampai 1820', sepanjang akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, penyakit kelamin banyak ditularkan oleh anggota militer dan para pelacur yang sering berganti–ganti pasangan ketika berhubungan seks.

Tahanan Indonesia dikawal oleh "marinir" Belanda. (Foto: AFP)

Lucia menuturkan, kurangnya pengetahuan mengenai kesehatan juga menjadi salah satu faktor penularan penyakit kelamin. Epidemi penyakit kelamin yang menyerang korps militer Hindia Belanda tidak hanya sebuah masalah kesehatan yang serius bagi pemerintah Hindia Belanda. Melainkan juga masalah serius di dalam dunia militer Hindia Belanda sendiri.

“Hal ini dikarenakan dengan epidemi penyakit kelamin dapat menghambat produktivitas kerja para anggota militer,” tulis Lucia.

Saking parahnya penyebaran penyakit sifilis pada masa itu, muncul ungkapan 'belum jadi anggota militer yang baik kalau terkena penyakit sifilis'.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.61