Pencarian populer

Kelompok Sayap Kanan Girang Setelah Trump Retweet Video Anti-Islam

Jayda Fransen. (Foto: Daniel Leal-Olivas/AFP)

Para tokoh kelompok sayap kanan ekstrem kegirangan setelah Donald Trump meretweet video propaganda anti-Islam di akun resminya. Mereka menganggap, Trump berada di kubu mereka, sama-sama membenci imigran Muslim.

Yang paling kegirangan tentu saja Jayda Fransen, wakil ketua partai supremasi kulit putih di Inggris, Britain First. Tiga video Fransen di Twitternya di-retweet oleh Trump. Ketiga video itu menggambarkan kekerasan yang disebut dilakukan oleh orang Islam.

"Saya senang sekali," kata Fransen kepada Reuters, Kamis (30/11).

Dia mengucapkan terima kasih kepada Trump dan mengatakan, "pesan pentingnya di sini adalah Trump mengetahui soal persekusi dan peradilan terhadap pemimpin politik di Inggris karena menyampaikan pidato yang menurut polisi anti-Islam."

Setelah itu, Fransen meminta pertolongan dari Trump karena dia mengaku terancam penjara. Fransen mengatakan, Inggris sudah semakin toleran terhadap Syariah Islam, dan protes terhadap Islam membuat dia akan dipenjara.

"Saya terancam di penjara karena mengkritik Islam, Inggris sekarang luluh terhadap Syariah Islam...Saya meminta tolong kepadamu, untuk intervensimu, sebelum kami dilempar ke penjara," kata Fransen.

Ada tiga video yang diretweet Trump dari Fransen. Video itu menggambarkan para pemuda Muslim memukuli seorang remaja di atas atap gedung hingga tewas, seorang remaja Muslim memukuli pria bertongkat, dan penghancuran patung Bunda Maria.

Fransen mengaku hanya mengambil video tersebut secara acak dari internet, yang penting menggambarkan kekejaman umat Islam. Isi Twitter Fransen tidak lain adalah video-video soal propaganda anti-Islam dan kegiatan Britain First.

Akibat retweet tersebut, Trump menuai kecaman termasuk dari Perdana Menteri Inggris Theresa May. Trump membalas komentar itu dengan dingin, kembali disambut gembira oleh Fransen.

Selain Fransen, yang turut girang tidak lain adalah David Duke, mantan pemimpin Ku Klux Klan (KKK) di Inggris. Dia mengatakan, tindakan tersebut yang membuat mereka, kelompok supremasi kulit putih, fasis dan rasialis, mencintai Trump.

"Ini kenapa kami mencintai Trump dan mengapa media berita palsu membenci Trump. Dia membawa pencerahan atas apa yang tidak bisa disampaikan oleh media berita palsu dan pembohong," kata Duke.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: web: