kumparan
13 Mar 2019 18:26 WIB

Keluarga Minta Agum hingga SBY Ungkap Fakta Penculikan Aktivis 98

Sejumlah foto korban pelanggaran HAM di aksi kamisan di seberang Istana Presiden, Kamis, (21/2). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
Sejumlah keluarga korban penculikan aktivis tahun 98 meminta pihak-pihak yang tahu terkait keberadaan aktivis 98 yang masih hilang untuk buka suara. Hal itu disampaikankan seusai beredar pernyataan Agum Gumelar yang mengetahui keberadaan 13 aktivis yang hingga kini masih hilang.
ADVERTISEMENT
"Pada kesempatan ini juga kami ingin sampaikan bahwa kita ingin supaya mereka-mereka yang menjabat saat peristiwa terjadi itu juga turut bertanggung jawab dengan menjawab tuntutan harapan keluarga korban," kata dewan penasehat Ikatan Keluarga Orang Hilang Indonesia (IKOHI), Mugiyanto di Hotel Grand Cemara, Jakarta Pusat, Rabu (13/3).
Menurut Mugiyanto, apa yang disampaikan oleh Agum selalu anggota Dewan Kehormatan Perwira (DKP) pada saat itu, merupakan harapan baru bagi para korban. Ia pun meminta tokoh-tokoh lain seperti Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Kivlan Zein, Wiranto, buka suara terkait hal itu. Sebab ia meyakini tokoh-tokoh tersebut mengetahui keberadaan aktivis yang hingga kini masih hilang.
"Keluarga korban ingin tahu, ada pejabat yang mengatakan tahu. Karena itulah kami berharap supaya Pak Agum Gumelar yang mengatakan mengetahui, dan yang lain karena bukan hanya Pak Agum saja, ada Kivlan Zein, Fachrul Razi, SBY, Wiranto, menyatakan mengetahui, menurut kami mereka harus menjelaskan itu ke keluarga korban," katanya.
ADVERTISEMENT
Mugiyanto menyebut, sebenarnya ada empat poin yang menjadi rekomendasi DPR untuk menyelesaikan kasus pelanggaran HAM ini. Empat rekomendasi tersebut yakni, pertama, Presiden membentuk pengadilan HAM ad hoc. Kedua, merekomendasikan presiden serta institusi pemerintah dan pihak terkait untuk mencari 13 aktivis yang masih hilang.
Ketiga, merekomendasikan pemerintah merehabilitasi dan memberikan kompensasi kepada keluarga korban yang hilang, dan keempat merekomendasikan pemerintah meratifikasi konvensi antipenghilangan paksa.
Korban penculikan aktivis 98 yang selamat, Faizol Reza, di Hotel Grand Cemara, Jakarta, Rabu (13/3). Foto: Lutfan Darmawan/kumparan
Dari keempat rekomendasi itu, Mugiyanto mengatakan, yang paling penting bagi keluarga korban adalah mengetahui keberadaan dari para aktivis yang hilang.
"Saya waktu itu pernah ikut ketika ada pertemuan komunitas korban pelanggaran HAM yang melakukan Kamisan itu tanggal 30 Mei 2018 bertemu dengan Presiden Jokowi. Disampaikan supaya pemerintah mencari mereka ada di mana," kata Mugiyanto yang juga merupakan salah satu aktivis yang selamat dari penculikan.
ADVERTISEMENT
"Bukan berarti tiga rekomendasi lain tidak penting tapi keluarga korban mau menyampaikan rekomendasi paling penting dan mendesak yaitu mereka yang hilang ada di mana, statusnya bagaimana, hidup kalau hidup ada di mana, kalau meninggal dikuburkan di mana. Itu juga yang kami sampaikan ke pemerintah," sambungnya.
Ia pun meminta pemerintah tegas menginstruksikan kepada tokoh-tokoh yang dianggap tahu keberadaan aktivis untuk bersuara.
"Keluarga korban juga ingin bertemu secara personal dengan mereka. Tapi lebih dari itu kami ingin Komnas HAM memanggil, jadi kalau Komnas HAM mengatakan supaya Agum Gumelar menyampaikan mendatangi Jaksa Agung. Kalau kami inginkan ke Komnas HAM. Karena Komnas HAM yang pertama melakukan penyelidikan," ujarnya.
Sebelumnya, dalam sebuah video yang beredar, Agum Gumelar mengaku tahu betul bagaimana para akvitis 98 dibunuh dan dibuang ke mana.
Konferensi pers keluarga korban penculikan aktivis 98 tolak capres pelanggar HAM di Hotel Grand Cemara, Jakarta Pusat. Foto: Lutfan Darmawan/kumparan
"Ketika dari hati-hati dengan mereka (Tim Mawar), di sini saya tahu bagaimana mati orang-orang itu, di mana dibuang saya tahu betul," terang Agum dalam video itu.
ADVERTISEMENT
Saat dikonfirmasi kumparan, Agum membenarkan video tersebut. Pernyataan itu ia keluarkan dalam sebuah acara di Bandung. Meski, ia enggan menjelaskan secara rinci kapan video itu diambil.
“Ya seperti itu, seperti yang saya cerita itu. Enggak usah ada keterangan lain. Acara dialog di Bandung,” ucap Agum saat dikonfirmasi kumparan, Selasa (12/3).
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan