Pencarian populer

Keluh Kesah Masyarakat Perbatasan di Sebatik pada HUT ke-73 RI

Suasana di Desa Aji Kuning, Pulau Sebatik, Nunukan, Kalimantan Utara. (Foto: Fadjar Hadi/kumparan)

17 Agustus 2018, Indonesia memasuki hari jadinya yang ke-73 tahun. Selama 73 tahun, pemerintah pusat sudah banyak melakukan pembangunan di berbagai pelosok, mulai dari Sabang sampai Merauke.

Namun, pemandangan berbeda terlihat di masyarakat yang tinggal di Pulau Sebatik, Kalimantan Utara, daerah yang berbatasan langsung dengan Malaysia. Hingga kini, mereka masih belum bisa menikmati dampak pembangunan yang dilakukan pemerintah.

kumparan berkesempatan melihat secara langsung salah satu desa yang berbatasan dengan Malaysia, yakni Desa Aji Kuning, Kecamatan Sebatik Tengah, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Di desa ini, masih banyak jalanan yang rusak dan memerlukan perbaikan. Sarana infrastruktur di sekitar Desa Aji Kuning masih kalah jauh dibandingkan daerah lainnya di Kalimantan Utara.

Suasana di Desa Aji Kuning, Pulau Sebatik, Nunukan, Kalimantan Utara. (Foto: Fadjar Hadi/kumparan)

Alamsyah (35), salah satu warga yang tinggal di Desa Aji Kuning mengungkapkan masih banyak hal perlu dilakukan oleh pemerintah di Sebatik ini, terutama dari sisi infrastruktur.

"Paling utama infrastruktur yaitu rumah sakit. Sering kami (warga) kesulitan jika ada kejadian seperti kecelakaan ataupun warga yang ingin melahirkan," kata Alamsyah kepada kumparan, Jumat (17/8).

Karena fasilitas rumah sakit yang tidak lengkap, masyarakat lebih memilih membawa keluarga atau kerabatnya ke Rumah Sakit Malaysia yang berada di daerah Tawau.

"Disini hanya ada Puskesmas, itu pun tidak lengkap (fasilitas) sehingga ujung-ujungnya dirujuk ke RSUD yang berada di Nunukan. Tapi itu jadi masalah karena jarak yang jauh dan harus menyeberang dulu ke laut, keburu kenapa-napa di jalan. Sehingga warga di sini lebih sering membawa ke rumah sakit di Tawau karena jaraknya yang dekat begitu pula fasilitas yang memadai," jelasnya.

Suasana di Desa Aji Kuning, Pulau Sebatik, Nunukan, Kalimantan Utara. (Foto: Fadjar Hadi/kumparan)

Senada dengan Alamsyah, salah seorang warga lainnya bernama Sabri menuturkan, kehidupan di Desa Aji Kuning ini serba pas-pasan. Sebagian sembako yang dijual justru berasal dari Malaysia.

"Di Aji Kuning ini kita barang kebanyakan dari seberang (Malaysia) karena susah untuk dapat barang dari Indonesia. Tetapi untuk daerah Sebatik Barat dan Timur itu memang sudah lumayan banyak barang yang asli Indonesia," ujar Sabri.

Suasana di Desa Aji Kuning, Pulau Sebatik, Nunukan, Kalimantan Utara. (Foto: Fadjar Hadi/kumparan)

"Kemudian masalah air juga kita sulit. Kita pernah coba untuk cari mata air sampai bor sana sini tetapi tidak dapat. Makanya kita ini manfaatkan air hujan untuk mencuci dan sebagainya," lanjutnya.

Kendati demikian, baik Alamsyah dan Sabri tak memiliki niatan untuk berpindah kewarganegaraan menjadi WN Malaysia. Mereka secara tegas tetap mencintai Republik Indonesia.

"Kita tetap cinta Indonesia, karena disini juga kan kebanyakan masyarakat pendatang dan masyarakat Bugis. Kebetulan saya juga keturunan dari Bugis jadi tidak ada keinginan sedikit pun dari saya maupun masyarakat di sini untuk pindah kewarganegaraan," tegasnya.

Suasana di Desa Aji Kuning, Pulau Sebatik, Nunukan, Kalimantan Utara. (Foto: Fadjar Hadi/kumparan)

Pada HUT ke-73 RI ini Alamsyah dan Sabri berharap agar pemerintah ke depannya lebih memperhatikan kehidupan masyarakat di perbatasan ini.

"Dirgahayu yang ke-73 untuk Indonesia, kita tentunya berharap pemerintah lebih memperhatikan kita yang ada disini, selama ini infrastruktur dan pasokan sembako cukup sulit disini. Kita pinginnya sama seperti daerah yang lain, ramai disini," harap mereka.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.35