kumparan
25 Jun 2018 11:32 WIB

Kemenhub Akan Periksa Kapten KMP Sumut yang 'Abaikan' Tragedi di Toba

KM Sinar Bangun. (Foto: Dok. istimewa)
Aksi kapten kapal KMP I dan KMP II yang tak menolong ratusan korban Kapal KM Sinar Bangun yang tenggelam di Danau Toba, Sumatera Utara, pada Senin (18/6) kini menuai polemik. Kepala Bagian Organisasi dan Humas Ditjen Perhubungan Laut (Hubla) Gus Rional menyebut Kementerian Perhubungan (Kemenhub) saat ini tengah mempelajari kabar tersebut.
ADVERTISEMENT
"Pemerintah masih mengumpulkan data-data terkait hal tersebut dan akan memprosesnya sesuai aturan," ujar Gus Rional saat dihubungi kumparan, Senin (25/6).
Loading Instagram...
Menurut Gus Rional, adanya fakta baru mengenai dua kapal feri besar yang tak menolong seluruh korban itu memang problematis. Sebab, keputusan kapten kapal tersebut, kata dia, diambil dengan mempertimbangkan keselamatan penumpang kapal yang dibawanya.
"Dari berita di kumparan, pihak nakhoda kapal feri sudah memberikan bantuan dan alasan tindakannya saat itu. Mungkin juga pihak terkait hal tersebut akan kami panggil untuk klarifikasi bagaimana kejadian sebenarnya pada saat itu," jelas dia.
Korban KM Sinar Bangun minta pertolongan. (Foto: YouTube DEDE Joe)
Sebelumnya, mencuat satu fakta baru mengenai dua kapal lain, yaitu KMP Sumut I dan KMP Sumut II yang sedang melintas persis di jalur KM Sinar Bangun tenggelam. Namun, kedua kapten kapal itu diduga abai dan membiarkan ratusan orang yang berada di kapal KM Sinar Bangun tersebut untuk tenggelam.
ADVERTISEMENT
Pernyataan yang memojokkan kapten kapal itu pun datang dari pengacara kondang Hotman Paris Sitompul. Dalam sebuah video yang diunggah di akun Instagramnya pada Sabtu (23/6), dia menyebut aksi kapten kaptel tersebut tak bisa dibenarkan.
"Itu kapten kapalnya harus diadili, biadab, biadab. Apakah diperintah oleh ownernya, saya enggak tahu," tegas Hotman.
Loading Instagram...
Belakangan, Kapten KMP Sumut II pun angkat bicara. Kapten yang diketahui bernama Dodi Max Silalahi itu menepis anggapan banyak orang yang menilainya secara negatif. Sebab, kata dia, dirinya hanya menjalankan tugas dengan menjamin keselamatan bagi seluruh penumpang kapal yang dibawanya.
"Kalau kita turunkan sekoci mengingat kita sudah melawan angin tidak sanggup kalau menurunkan itu. Life Raft pun (kalau) kita turunkan kita buka itu percuma, karena kita sudah disorong angin terus," ujar Dodi seperti dikutip dari The Jakarta Observer, Minggu (24/6)
Kerabat penumpang kapal KM Sinar Bangun (Foto: Reuters/Albert Damanik)
Dodi menjelaskan, kebijakan yang diambilnya itu atas inisiatifnya sendiri. Namun itu bukan berarti dia sama sekali abai. Sebab, dirinya sudah berusaha maksimal dengan melemparkan puluhan lifejacket kepada para korban KM Sinar Bangun yang tenggelam.
ADVERTISEMENT
"Kami sudah melemparkan 52 lifejacket," kata Dodi.
Dari 52 lifejacket yang dilempar itu, tercatat hanya ada tiga orang yang berhasil diselamatkan di kapal tersebut. Sementara di KM Sumut I hanya dapat menyelamatkan dua orang. Total jumlah korban yang tenggelam dan saat ini dinyatakan hilang mencapai 178 orang.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·