Pencarian populer

Kemenkes: Caleg Harus Punya Daya Tahan dari Stres

Konten Spesial: Depresi Usai Kalah Pemilu. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan dan Putri Sarah Arifira/kumparan

Pesta demokrasi yang dilakukan rakyat Indonesia setiap lima tahun sekali selalu menyisakan cerita. Di tengah kegembiraan mereka yang terpilih, ada kecewa yang dirasa bagi mereka yang tersisih.

Meski tak semua mengalami, nyatanya ada sejumlah caleg yang depresi karena tak terpilih. Ongkos nyaleg yang mahal disebut-sebut sebagai salah satu pemicunya.

Sejumlah unit pelayanan kesehatan seperti rumah sakit dan penyedia jasa kesehatan jiwa sudah mengantisipasi maraknya caleg stres pascapemilu ini.

Seperti yang diungkapkan oleh dr. Fidiansjah, Direktur P2P Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza Kemenkes. Dia menuturkan sejumlah fakta menarik soal fenomena stres pascapemilu. Berikut petikan wawancaranya:

Bagaimana persiapan penanganan caleg gagal yang berpotensi mengalami depresi?

Direktur P2P Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza, dr. Fidiansjah Foto: Farida Yulistiana/kumparan

Tidak ada hal yang kita katakan khusus, ini kan hampir sama seperti orang ikut proses masuk perguruan tinggi. Antara yang melamar dengan yang diterima kan sedikit. Kasusnya sama, hanya nuansanya kan nuansa ke arah yang sifatnya nilai-nilai politis, sosial masyarakat juga ikut berpengaruh. Hanya karena dampak politik yang kemudian berimbas pada semua orang, semua komponen masyarakat terlibat, sehingga ini akan agak istimewa. Pada konteks pilpres atau pileg, hal yang paling mendasar adalah sebuah harapan dengan kenyataan yang tidak sama, itu pasti akan menimbulkan konflik kegalauan.

Dampak dari harapan yang tidak tercapai dalam konteks pemilihan calon legislatif?

Kalau tadi kita istilahkan antara harapan dengan kenyataan tidak terjadi suatu kesamaan, yang paling banyak depresi. Ada dua penyakit besar di bidang kesehatan jiwa, yaitu orang sedih atau depresi dan orang cemas. Kalau depresi, dia tidak pernah bisa melupakan sesuatu yang sudah terjadi. Misalnya keputusannya caleg ini tidak terpilih, kan sudah terjadi. Tapi orang-orang yang jatuh ke dalam kondisi depresi ini tidak pernah bisa move on terhadap kondisi yang sudah takdir. Kedua cemas, kalau cemas terbalik, dia sudah mencoba melakukan antisipasi yang terlalu berlebihan tentang sesuatu yang belum terjadi. Misalnya proses daripada pileg kan belum terjadi, tapi karena dia tahu situasi yang terjadi seperti ini, dia sudah membayangkan yang belum terjadi sehingga menimbulkan konflik yang namanya cemas.

Ilustrasi penderita sakit jiwa. Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan

Apakah dampak paling ekstrem yang bisa terjadi ?

Kalau pada gangguan jiwa itu bunuh diri, itu paling ekstrem. Hampir sama, orang putus cinta, jabatan tidak tercapai atau cita-cita tidak tercapai sehingga ketidaktercapaian itu menimbulkan rasa harga dirinya turun, sehingga semangat hidup tidak ada, melanjutkan hidup tidak semangat lagi. Akhirnya buat apa hidup? Semakin dia tidak bisa memaknai ada hikmah di balik suatu keputusan yang mungkin direncanakan manusia lalu tidak sama, maka itu yang akan menimbulkan gap dan akhirnya dia tidak bisa terima dan yang paling ekstrem adalah bunuh diri.

Bagaimana penanganan yang paling tepat untuk depresi dan gangguan kecemasan?

Depresi dengan cemas pada konteks yang kita sebut hal yang mendasar adalah mencurahkan isi hati. Artinya berbagi terhadap sesuatu yang menjadi kegalauannya untuk bisa dia sampaikan, itu hal yang paling pokok. Ketika orang berbagi, apa yang mungkin dia tidak pikirkan bisa muncul dari gagasan orang lain. Syukur-syukur berbagi kepada yang semakin profesional. Bisa ke konselor, bisa seorang psikolog, bisa seorang dokter, seorang psikiater, seorang rohaniwan. Kalau dengan berbagi masih juga belum (pulih), kita coba berikan proses farmakoterapi (penanganan penyakit melalui penggunaan obat-obatan).

Kalau sampai dirawat di rumah sakit penanganannya akan seperti apa?

Rumah Sakit Jiwa Dr. Soeharto Heerdjan. Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan

Sebuah rumah sakit, khususnya rumah sakit jiwa itu pasti sudah ada tenaga paling mendasar itu disebut perawat jiwa. Berikutnya pasti dokter, dokter umum yang memang bisa menanggulangi hal-hal yang sifatnya emergensi. Namun kalau sudah membutuhkan penanganan yang lebih khusus lagi, ya dokter jiwa. Kalau sudah dokter jiwa pasti nanti juga ada klasifikasi lagi. Ada dokter jiwa yang memang khusus untuk masalah yang berhubungan dengan anak, perempuan, kasus hukum, tergantung pada kasus-kasusnya masuk pada level mana. Tidak menutup kemungkinan akan berhubungan dengan fisik. Artinya kondisi jiwanya memang akan memberikan dampak kerentanan dari kondisi fisik yang sudah kurang baik, misalnya maagnya jadi kambuh, darah tingginya kemudian tidak terkontrol, diabet gulanya juga naik turun. Pada konteks seperti itu, kita membutuhkan juga teman-teman spesialis. Dokter-dokter spesialis yang terlibat pun sangat tergantung pada aspek mana yang perlu coba kita libatkan.

Apakah mungkin melakukan upaya preventif untuk mengantisipasi fenomena caleg stres dengan pemeriksaan kesehatan?

Sebetulnya sudah, masalahnya dipakai atau tidak. Ketika dia (caleg) ingin mengajukan itu ada surat keterangan sehat fisik dan sehat jiwa. Komponen sehat jiwa itu sudah disampaikan, apa nih potensi dari yang bersangkutan. Misalnya daya tahan stresnya, kemudian potensi kalau dia menghadapi situasi reaksinya bagaimana. Banyak sekali komponen-komponen yang bisa menjadi semacam sebuah penilaian bagi setiap partai. Wah kader ini dari hasil yang diberikan ini, kurang optimal misalnya, oh kalau ini oke banget, bisa. Nah sayangnya, kita enggak punya kewenangan untuk mengatakan boleh atau tidak boleh, kita hanya memberikan inilah hasilnya, silahkan para pimpinan partai memakai untuk dijadikan kebijakan. Di situlah kemudian faktor daripada internal partai mau memakai apa tidak. Kita memang hanya lebih kepada memberikan semacam sebuah rekomendasi namun keputusan akhir di partai. Secara sistem, untuk mengantisipasi hal-hal yang berkaitan dengan masalah gangguan jiwa, sudah ada. Namun apakah itu kemudian dipakai sebagai sebuah bagian untuk melakukan proses penapisan, itu sangat bergantung pada partai.

Penanganan ideal dari lingkungan sekitar?

Kalau kita membagi secara umum pendekatannya. Itu ada 4 hal, yang pertama setiap aspek apa pun dalam masalah kesehatan jiwa, itu harus memperhatikan aspek biologisnya, fisiknya. Aspek kedua adalah aspek psikologis. Yang tadi ditanyakan adalah faktor ketiga, faktor sosial. Ini juga hal yang besar karena dari situlah dia mendapatkan semacam sebuah dukungan, baik dengan keluarga, kalau dalam konteks pekerjaan, teman kerja dalam konteks tadi pemilihan umum dengan partainya. Mulai dari pimpinannya sampai dengan mitra-mitra atau bahkan bawahannya. Dukungan ini sesuatu yang tidak bisa disepelekan untuk bisa membangun sebuah kondisi primanya, kondisi kesehatan jiwa. Faktor keempat, spiritual religi. Pendekatan seperti ini setiap agama juga perlu. Doa itu sebenarnya bagian proses isi hati yang dia dialogkan kepada Tuhan.

Konten Spesial: Depresi Usai Kalah Pemilu. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan dan Putri Sarah Arifira/kumparan

Apa saja kiat-kiat atau tips khusus bagi para caleg agar tidak sampai mengalami gangguan jiwa pascapemilu?

Kiat umum dari sebuah proses yang kita sebut antara cita-cita dengan kenyataan, yang pertama tentu setiap orang harus mengukur diri. Maka itu ciri jiwa sehat, salah satunya dia harus tahu dengan kemampuan dirinya, dia tidak melakukan sesuatu di luar yang bukan kapasitas dia. Bukan hanya semangat, apalagi sekarang ada oknum yang menggunakan money politics, jadi dia sebenarnya tidak kompeten tapi punya modal saja. Setiap orang memang betul-betul harus mengetahui apakah kemampuan terjun di dunia politik itu sudah memang cukup bekal. Setelah on the track, maka melangkahlah dengan cara-cara yang baik dan benar. Begitu dimulai dengan cara-cara yang tidak patut, apalagi menggunakan cara-cara yang melanggar hukum, itu sudah langkah kedua yang tentu akan menghambat. Betapa memang nilai-nilai integritas, nilai-nilai kejujuran seseorang melangkah untuk mencapai tujuan yang akan diraih itu harus sesuai dengan prosedur. Nah yang ketiga, punya daya tahan stres, siap kalah dan siap menang. Namanya sebuah persaingan tidak mungkin semuanya menang. Kalau tiga hal ini sudah dia penuhi, maka langkah berikutnya jalani kehidupan. Jadi, menang kalah itu tetap maju ke depan. Menang jadi legislator yang baik, kalau pun kalah majulah untuk mengambil peran-peran fungsi sosial yang lain. Kalau itu dilakukan kami yakin ini akan menjadi suatu fenomena yang kondusif demi kemajuan bangsa kita.

Simak ulasan lengkap konten spesial Depresi Usai Kalah Pemilu di kumparan dengan topik Caleg Stres

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.23