Pencarian populer

Kepala Sekolah Polisi Berkumpul di Porong, Bahas Masa Depan Bintara

31 Kepala Sekolah Polisi Negara (SPN) dan tiga kepala Pusat Pendidikan dan Latihan (Kapusdik) berkumpul di Pusdik Sabhara, Porong, Jawa Timur mulai ‪Rabu hingga Jumat‬ (‪22/23-3-2019‬). Foto: Dok. Lemdikpol

Ada suasana berbeda di Pusdik Sabhara Porong, Jawa Timur. Puluhan kepala sekolah polisi berkumpul dan membicarakan masa depan pendidikan Bintara polisi.

Para kepala sekolah ini adalah mereka yang mengepalai sekolah bintara kepolisian. Totalnya ada 31 orang Kepala Sekolah Polisi Negara (SPN).

"Saya sengaja mengumpulkan penyelenggara pendidikan bintara baik di SPN maupun di Pusdik dengan tujuan melakukan analisa dan evaluasi (anev) saat menggelar pendidikan bintara pada 2018-2019. Anev penting dalam proses manajerial,” kata Kalemdiklat Polri Komjen Arief Sulistyanto dalam keterangannya, Rabu (20/3).

Mereka akan rapat membahas masa depan bintara sejak ‪20 - 22 Maret.

Arief menjelaskan, bintara adalah tulang punggung Polri karena jumlahnya hampir 80 persen dari total personel anggota Polri yang saat ini mencapai 350 ribu personel. Sehingga, suka atau tidak suka wajah kepolisian sangat ditentukan oleh performance dari para bintara yang berada di garis depan melayani masyarakat itu.

31 Kepala Sekolah Polisi Negara (SPN) dan tiga kepala Pusat Pendidikan dan Latihan (Kapusdik) berkumpul di Pusdik Sabhara, Porong, Jawa Timur mulai ‪Rabu hingga Jumat‬ (‪22/23-3-2019‬). Foto: Dok. Lemdikpol

"Apalagi dalam setiap tahunnya Polri merekrut sekitar 10 ribu bintara se-Indonesia. Mereka ini yang lantas dididik di SPN dan Pusdik selama tujuh bulan," beber dia.

Arief mengungkapkan, ini adalah kali pertama para kepala SPN itu dikumpulkan di satu ruangan karena posisi mereka ini secara struktural sebenarnya ada di bawah Polda, namun secara fungsional berada di bawah Lemdiklat. Anev selama ini dilakukan dengan cara pejabat Lemdik yang turun mensupervisi ke SPN-SPN.

”Rencana awalnya pun kami yang akan supervisi ‪ke 16‬ SPN. Padahal pendidikan bintara itu ada di 31 SPN dan 3 Pusdik—yang tersebar di seluruh Indonesia—sehingga kalau hanya datang ‪ke 16‬ SPN tentu kurang pas. Mungkin kalau penelitian itu bisa memenuhi sampel. Tapi ini kan bukan penelitian. Kita ingin tahu semua keadaan  di SPN maka saya ubah, kita kumpulkan saja untuk mendengar dan mendapat masukan dari semua SPN,” lanjut Arief.

Tak hanya berkumpul saat rapat, para peserta—termasuk Arief, Wakalemdiklat Polri Irjen Boy Rafli Amar, dan para pejabat utama Lemdiklat Polri— juga bermalam di flat yang berada di lingkungan Pusdik Sabhara.

Arief ingin mengajak semua merasakan dan menjiwai bagaimana rasanya tinggal di fasilitas pendidikan dengan fasilitas seadanya. Yakni kamar ukuran 4x3 meter dengan kamar mandi di dalam. Kamar itu berisi ranjang besi, lemari baju, AC, tanpa TV, dan toilet jongkok.

31 Kepala Sekolah Polisi Negara (SPN) dan tiga kepala Pusat Pendidikan dan Latihan (Kapusdik) berkumpul di Pusdik Sabhara, Porong, Jawa Timur mulai ‪Rabu hingga Jumat‬ (‪22/23-3-2019‬). Foto: Dok. Lemdikpol

“Kalau menginap di hotel berbintang tidak cukup anggarannya. Tapi kalau di sini, cukup. Saya juga sudah laporan ke kapolri,  selain anev, kita juga ingin membangun solidaritas dan soliditas pada seluruh kepala sekolah pendidik ini,” sambung Arief yang selama ini juga belum pernah ketemu dengan semuanya kepala SPN itu.

Selain itu, Arief juga ingin menunjukkan fasilitas pendidikan yang dirawat dengan baik, maka seperti Pusdik Sabhara yang dibangun sejak tahun 1926, akan tetap terawat dengan baik dan rapi.

Dalam kesempatan itu, Arief juga kembali memompa semangat para pendidik untuk melakukan tugas yang diberikan negara dan institusi dengan sebaik-baiknya.

Arief sadar dan tahu kondisi di Lemdik sering dianggap sebagai tempat kering sehingga orang ogah untuk ditugaskan disana. Menurutnya itu adalah pikiran yang salah.

31 Kepala Sekolah Polisi Negara (SPN) dan tiga kepala Pusat Pendidikan dan Latihan (Kapusdik) berkumpul di Pusdik Sabhara, Porong, Jawa Timur mulai ‪Rabu hingga Jumat‬ (‪22/23-3-2019‬). Foto: Dok. Lemdikpol

”Polri akan tegak berdiri jika punya personel yang profesional, kitalah yang menanamkan ilmu kepada calon polisi supaya mereka profesional.  Inilah bagaimana pentingnya peran Lemdik dalam membangun Polri dalam semua aspek. Jika tidak dididik dan dibentuk dengan baik tentu SDM Polri akan ambruk. Kita juga tidak mungkin bisa duduk di sini bila tanpa melalui proses pendidikan dan latihan. Jangan merasa inferior dengan fungsi lain,” pesan Arief.

Sementara, Boy Rafli mengingatkan supaya tak ada praktik pungli di lembaga pendidikan. Tidak boleh ada bayar membayar tanpa tujuan yang jelas. Jika semuanya sudah diwarnai dengan praktik tidak baik maka itu tentu akan mengotori proses pendidikan bintara.

“Karena bintara itu soal pembentukan karakter yang bermoral dan profesional,” ingatnya.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.41