kumparan
23 Jun 2019 13:20 WIB

Ketika Kim Jong-un dan Donald Trump jadi "Sahabat Pena"

Kim Jong-un membaca surat dari Donald Trump Foto: Reuters/KCNA
Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump kerap berkirim surat. Dalam suratnya, keduanya saling memuji satu sama lain. Mereka terlihat seperti sahabat pena dalam surat tersebut, tapi dalam dunia nyata keduanya berselisih paham.
ADVERTISEMENT
Seperti kali ini, Sabtu (22/6). media Korea Utara KCNA seperti dikutip Reuters mengatakan Kim Jong-Un menerima surat dari Trump dengan "isi yang luar biasa". Tidak dijabarkan isi surat itu, yang jelas Kim Jong-un semringah menerimanya.
Menurut KCNA, Kim "mengatakan dengan puas bahwa isi surat itu luar biasa". Halaman depan koran Rodong Sinmun di Korut bahkan menampilkan Kim sedang membaca surat dari Trump di kantornya.
Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un (kiri) dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump (kanan) di Hotel Metropole, Hanoi, Vietnam. Foto: REUTERS/Leah Millis
"Menghargai kemampuan penilaian politik dan keberanian yang luar biasa dari Presiden Trump, Kim Jong-un mengatakan dia akan dengan serius merenungkan isi surat yang menarik itu," tulis KCNA.
Surat ini diduga balasan dari surat sebelumya yang dikirim Kim ke Trump. Dalam sebuah wawancara, Trump mengatakan bahwa itu adalah "surat yang indah" dari Kim, tanpa menjelaskan isinya.
ADVERTISEMENT
Di atas kertas surat, hubungan kedua pemimpin itu terlihat baik-baik saja, bahkan mesra. Namun dalam keadaan sebenarnya, keduanya masih terlibat perselisihan.
Trump dan Kim bertemu dua kali di Singapura dan Vietnam. Pada pertemuan terakhir Februari tahun ini, keduanya tidak mencapai kesepakatan soal denuklirisasi Korut. AS menolak permintaan Korut untuk mencabut sanksi.
Baik Trump dan Kim saling menyalahkan atas kegagalan pertemuan tersebut. Sebelumnya, keduanya saling hina dan memaki secara terbuka.
Gedung Putih menolak mengatakan apakah Trump mengirim surat tersebut. Namun Kantor Kepresidenan Korea Selatan membenarkannya. Mereka mengatakan, ini adalah perkembangan yang positif dalam upaya perdamaian di Semenanjung Korea.
"Pemerintah memandangnya sangat positif bahwa momentum dialog antara Korea Utara dan AS tetap dijaga melalui pertukaran surat tingkat-tinggi," kata pernyataan istana Korsel, Blue House.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan