Pencarian populer

Kisah Asmah Sjachruni, Pelopor Muslimat NU yang Menang Pemilu 1955

Peserta dari Muslimat NU mengikuti Harlah Ke-73 Muslimat NU, doa bersama untuk keselamatan bangsa, dan maulidrrasul, di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Minggu (27/1/2019). (Foto: ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/Pras)

Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) baru saja merayakan hari lahirnya yang ke-73. Dirayakan secara besar-besaran di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) Jakarta, Minggu (27/1).

Saat itu SUGBK disesaki puluhan ribu Muslimat NU yang kompak menggunakan pakaian berwarna hijau. Mereka datang dari seluruh penjuru Indonesia.

Presiden Jokowi pun turut hadir dalam perayaan yang dimeriahkan 999 penari sufi. Kehadiran Jokowi itu, menandakan bahwa Muslimat NU sebagai organisasi besar yang perannya sudah diakui sejak lama.

"Kita ingin Islam moderat, moderasi Islam terus digaungkan. Islam yang Aswaja (Ahlussunnah wal Jamaah) yang penuh toleransi, penuh moderasi, saling menghargai, saling menghormati. Itulah semangat yang disampaikan Muslimat NU," kata Jokowi dalam sambutannya.

Muslimat NU merupakan organisasi perempuan yang resmi menjadi badan otonom NU pada tahun 1946. Ia lahir di tengah zaman ketika organisasi yang fokus memperjuangkan hak-hak perempuan masih awam.

Ada tiga ulama besar NU di balik lahirnya gerakan dan kebangkitan perempuan-perempuan NU kala itu. Antara lain, KH Mohammad Dahlan, KH Abdul Wahab Chasbullah, dan KH Saifuddin Zuhri.

Ketiganya merupakan ulama yang berpendapat bahwa perempuan tak hanya boleh di dapur. Mereka sepakat, perempuan boleh berpolitik selama masih dalam jalur membela Islam. Asal, tidak menjadi hakim.

Presiden RI Joko Widodo Pada Acara Harlah Muslimat NU di GBK, Minggu (27/1). (Foto: Dok. Biro Pers Setpres)

Terbentuknya Muslimat NU pun terus memunculkan segudang tokoh-tokoh perempuan yang didaulat sebagai pemimpin. Mulai dari Nyai Chodijah Dahlan yang memimpin Muslimat NU (1946-1948), hingga Khofifah Indar Parawansa yang menjabat Ketua Umum PP Muslimat NU (2016-2021).

Di antara masa kepemimpinan keduanya, ada nama Ketua Muslimat NU (1980-1985) Asmah Sjachruni. Seorang perempuan yang berjuang lintas zaman di berbagai bidang. Pada masa kolonial dan pendudukan Jepang, ia menjadi guru untuk anak-anak bumiputera. Lalu, menjadi anggota DPR periode 1955-1965.

Di Muslimat NU, peran Asmah begitu menonjol. Sejak aktif di Kongres Muslimat NU di Surabaya tahun 1952, dia selalu menyuarakan agar perempuan leluasa di berbagai bidang. Termasuk di dunia politik dan juga menjadi seorang pemimpin.

"Muslimat NU sudah menyatu dengan jiwa saya. Sejak Kongres di Surabaya tahun 1952. Setiap kongresnya selalu saya ikuti kecuali saat di Medan. Sebab ada pemberontakan Permesta," sebut Asmah dalam autobiografinya berjudul Asmah Sjachruni: Muslimah Pejuang Lintas Zaman (2002).

Memulai dari Kalimantan Selatan

Perjalanan Asmah dimulai ketika ia diminta untuk memimpin Muslimat NU di Kalimantan Selatan (Kalsel) periode 1952-1956. Cabang Muslimat NU yang pertama kali ia bentuk adalah di Kandangan dan Amuntai.

Amuntai ini memang menjadi basis NU dengan tokohnya KH Idham Chalid. Di sana, umat Islamnya pun sudah terpelajar dan banyak yang menjadi santri.

Dari awal berjuang di Kalsel, Asmah sudah meyakini bahwa Amuntai bisa menjadi titik awal pergerakan Muslimat NU menuju tingkat nasional. Anggotanya kebanyakan guru di pondok pesantren.

"Misalnya, Ibu Aliyah dan Ibu Masdika yang menjadi guru di Ponpes Ar-Rakha," tulis Asmah.

Buku autobiografi Asmah Sjachruni. (Foto: Dok. kumparan)

Kehadiran Muslimat NU Amuntai mempunyai dampak dan gaung yang sangat positif bagi pembentukan cabang Muslimat NU di daerah lain. Bahkan, hingga ke kecamatan-kecamatan di luar Kalimantan.

"Sambutan luar biasa terhadap Muslimat NU di Kalsel dianggap mendukung aktivitas NU. Oleh karena itu, dalam Muktamar NU di Surabaya tahun 1954 diselenggarakan juga Kongres Muslimat NU untuk pertama kalinya," sebut Asmah.

Namun, kesibukan di Muslimat NU membuat Asmah harus meninggalkan perkerjaannya sebagai guru. Ketika ia ingin mengikuti Muktamar Muslimat NU pertama di Surabaya, ia sempat berdebat dengan kepala sekolah di tempat ia mengajar sejak 1939.

Sang kepala sekolah tak mengizinkan Asmah pergi. Itu karena, sebelumnya dia sudah sering izin demi mengikuti kegiatan Muslimat NU. Akhirnya, Asmah pun memilih Muslimat NU dan mengundurkan diri sebagai guru.

"Bukan berarti saya tak sedih meninggalkan profesi yang sudah saya geluti selama 14 tahun. Tapi, semua kembali lagi ke pilihan," sebut Asmah.

Mendobrak Tradisi: Perempuan Terjun ke Politik

Akhirnya Asmah pun terbang ke Surabaya untuk mengikuti Muktamar Muslimat NU. Kala itu, topik sentralnya adalah persiapan NU menghadapi Pemilu 1955. NU sebagai partai politik harus memperebutkan kursi di DPR dan Konstituante. Bersaing dengan partai besar lainnya seperti Masyumi, PKI, dan PNI.

Persiapan menghadapi Pemilu 1955 pun berbuntut pada pengadaan konferensi di daerah. Termasuk, Kalimantan Selatan yang menyelenggarakannya di Martapura..

Saat itu, dibahas seputar calon dari Kalsel yang bakal diajukan ke pengurus NU Pusat untuk berlaga di Pemilu 1955. Asmah yang juga ditunjuk sebagai Panitia Penyusunan Calon pun mengusulkan agar perwakilan Muslimat NU bisa jadi calon.

Asmah Sjachruni. (Foto: Facebook/@Konstituen)

Namun usulan Asmah ini tak serta merta diterima di internal NU. Itu karena, masih ada ulama yang berpendapat bahwa perempuan tak boleh tampil di panggung politik.

Persoalan ini pun dibawa dan didiskusikan dengan ulama kharismatik yang dianggap anggota NU Kalsel sebagai waliullah, KH Anang Zainal Ilmi. KH Anang menyetujui wanita menjadi anggota parlemen karena bukan jabatan hakim. Peserta konferensi wilayah pun menerima fatwa tersebut.

"Muslimat akhirnya menunjuk saya sebagai salah salah satu calon dari Kalsel. Saya mendapat urutan nomor tiga di bawah Ketua Wilayah NU KH Idham Chalid dan tokoh NU lainnya H Ridwan Syahrani," ungkapnya.

Karena KH Idham Chalid sudah dipastikan masuk anggota konstituante perwakilan NU, Asmah dinaikkan menjadi calon kedua. Di bawah nama Asmah, ada Menteri Pertanian kala itu, Hanafiah.

Ketika susunan calon dikirimkan ke Lajnah Pemilihan Umum NU Pusat di bawah komando KH Zainul Arifin, posisi Asmah digeser menjadi nomor tiga. Karena tak ada alasan khusus, Asmah sempat protes ke pengurus NU pusat, termasuk ke KH Zainul Arifin.

Kampanye Pemilu 1955. (Foto: Dok. Wikimedia Commons via Department of Information of the Republic of Indonesia - State Secretariat of the Republic of Indonesia (1975) 30 Tahun Indonesia Merdeka.)

Saat itu, KH Zainul hanya menjadwab, penentuan nomor urut sudah menjadi keputusan PBNU. Asmah pun menerima karena menyadari keputusan sudah diperimbangkan secara matang oleh para ulama.

Pemilu pun digelar dan hasilnya di luar ekspektasi NU. Partai itu berhasil menduduki posisi ketiga di bawah PNI dan Masyumi.

Asmah juga terpilih menjadi anggota DPR dari Kalsel periode 1956-1960. Yang lebih menggembirakan lagi bagi Asmah, NU menang menang mutlak di Kalsel. Dari enam calon di DPR, tiga kursi disapu NU, Masyumi memperoleh dua kursi, dan PNI satu kursi.

"Padahal sebelumnya diisyaratkan Kiai Zainul, perjuangan bakal sangat berat. Di Kalsel meraih satu kursi pun begitu sulit," ungkap Asmah.

Kemenangan ini menjadi langkah awal Muslimat NU untuk semakin menguatkan langkah perempuan Islam di kancah perpolitikan nasional.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.57