Pencarian populer

Kisah Copet di Kota Tua: Perempuan Cakep sampai Tangan Jahil di Musala

View Kota Tua dari udara (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)

Lampu warna-warni, jajaran pedagang kerak telur, patung-patung manusia, serta lantunan musisi jalanan meramaikan kehidupan malam di kawasan Kota Tua, Jakarta Barat. Siapa sangka, keindahan itu kadang diganggu oleh tangan jahil para pencopet.

Dalam beberapa waktu terakhir, aksi kriminal yang terjadi di lokasi ini sudah banyak diwartakan. Salah satu korbannya adalah Dirjen Bina Konstruksi Kementerian PUPR Syarief Burhanudin.Syarif dijambret saat sedang bersepeda di kawasan tersebut.

Penasaran dengan sejumlah berita tentang dunia kriminal di kota Tua, pada Sabtu (1/9) malam, kumparan mencoba mencari copet di kawasan tersebut. Caranya dengan memancing para pencopet.

Keramaian di kota Tua (Foto: Rizki Mubarok/kumparan)

Kami datang ke lokasi pada pukul 19.00 WIB dengan menggunakan kereta dari Pasar Minggu langsung ke Jakarta Kota. Dari stasiun Jakarta Kota, letak pusat keramaian Kota Tua terlihat jelas.

Untuk membuktikan seberapa rawan di kawasan ini, kami menggunakan dompet panjang sebagai pancingan. Dompet berwarna cokelat tanpa uang tersebut disimpan di bagian saku belakang celana dengan sengaja agak ditarik keluar. Tujuannya agar dompet tersebut mendapat perhatian dari pelaku kejahatan.

Sesampainya di lokasi, lokasi yang kami tuju adalah kerumunan pengunjung di samping Cafe Batavia. Karena kondisinya cukup ramai, kami memutuskan untuk berdiam selama 10 menit, sembari menikmati alunan musik dari pengamen jalanan.

Suasana Malam di Kawasan Kota Tua, Jakarta Barat. (Foto: M Lutfan D/kumparan)

Menit demi menit berlalu, tidak ada yang terjadi.

Kami kembali mencari kerumunan yang lebih ramai lagi. Kami menuju ke depan Gedung Jasindo, di mana masyarakat tengah berselfie ria di depan meriam tua yang terpajang di depannya sambil mendegarkan penjelasan dari tour guide.

Strateginya masih sama, kami berdiam di lokasi ini selama 10 menit. Hasilnya masih sama, tidak ada tindakan kriminal yang terjadi terhadap kami.

Suasana Malam di Kawasan Kota Tua, Jakarta Barat. (Foto: M Lutfan D/kumparan)

Malam semakin larut, kami melanjutkan misi dengan berjalan-jalan mengitari Kota Tua. Kami mondar-mandir di depan Museum Fatahillah. Orang-orang berlalu lalang di sekitar kami. Akan tetapi, hingga pukul 20.00 WIB, dompet panjang yang jadi umpan pun belum berpindah tangan.

Akhirnya kami kembali lagi ke kawasan Batavia Cafe, lokasi yang malam itu kami nilai paling ramai dikerubuti pengunjung. Kami mengulang rencana yang sebelumnya, menikmati musik di tengah kerumunan.

Ada pemandangan yang berbeda dari percobaan kedua ini. Beberapa musisi jalanan yang lalu lalang berteriak “awas, pegang barang dan dompet Anda, jangan sampai berpindah tangan”.

Suasana Malam di Kawasan Kota Tua, Jakarta Barat. (Foto: M Lutfan D/kumparan)

Teriakan itu kami dengar beberapa kali. Namun, kami tidak menggubrisnya. Kami terus melanjutkan eksperimen dengan berjalan di ke lokasi lain, tepatnya di lapak para penjual jasa lukis, patung-patung orang, hingga pembaca garis tangan.

Sekitar pukul 20.40 WIB, karena belum juga ada tindakan kriminal, kami pindah arena dengan berkunjung ke kawasan pos penjaga yang berlokasi di sebelah Museum Fatahillah. Kami pun bertanya kepada petugas yang kebetulan malam itu sedang piket. Pembicaraan mulai dari kondisi wisatawan yang menyesaki lokasi.

“Malam Minggu memang ramai di Kota Tua, beda dengan hari biasa, sepi,” ujar salah satu petugas dari Satgas Keamanan Kota Tua, Iwan Setiawan, Sabtu (1/9).

Karena penasaran mengenai adanya teriakan-teriakan musisi jalanan soal pencopet, akhirnya kami tanyakan soal itu kepada Iwan.

Suasana Malam di Kawasan Kota Tua, Jakarta Barat. (Foto: M Lutfan D/kumparan)

“Jadi itu antisipasi saja, mereka kan komunitas, (dari) pengamen, patung-patung orang, pengontel, dan semuanya itu bersatu untuk jaga-jaga dari tangan jahil, pencopet, mabok, dan yang mesum-mesum,” kata Iwan yang terlihat rapi dengan seragam dinasnya serta topi.

Disinggung mengenai aksi pencopetan, Iwan mengatakan memang kerap ada beberapa yang tertangkap. Namun di malam itu, Iwan tidak menerima adanya aduan dari korban.

“Seminggu itu biasanya (pencopet) kedapatan 2 sampai 3 orang. Tangan jahil seperti copet itu di tempat yang desak-desak, kalau penodongan alhamdulillah tidak ada,” ujar Iwan.

Perayaan tahun baru di Kota Tua. (Foto: Kevin Kurnianto/kumparan)

Bila dalam kondisi ramai seperti malam Minggu, kata Iwan, biasanya satgas yang dikerahkan pun lebih banyak. Mereka disebar di setiap sudut rawan yang ada di kawasan Kota Tua.

“Sekarang memang ditempatkan ada penjaga di setiap sudut-sudut. Satu pos itu ada dua atau tiga orang, semuanya jumlahnya ada 22. Untuk patroli ada 4 orang. Mereka berkeliling, antisipasi, pada berkeliling di Museum Fatahillah dan tempat lain. Memantau juga yang minum minuman keras dan tangan-tangan jahil,” kata Iwan.

Menurut penuturan Iwan, aksi pencopetan juga biasanya dilakukan oleh orang yang tidak terduga.

Loading Instagram...

“Yang tidak terduga, kaya perempuan cakep, kemarin kita juga dapat. Kemarin kita dapat copetnya di musala, orang lagi salat dia malah copet. Yang hilang itu handphone dan dompet,” tutur Iwan.

“Kadang kan yang dandanannya kumal, kucel itu dia tidak lakukan jadi biasa aja. Tapi malah ada juga yang copet dia pakai baju rapi, eh malah dia yang copet. Kita tidak bisa lihat dari satu sisi aja kan,” tambah Iwan.

Walaupun demikian, Iwan mengatakan tidak perlu khawatir bila berkunjung ke kawasan Kota Tua. Akan ada petugas satgas yang selalu mengawasi dan menjaga keamanan di sana.

Hasil dari eksperimen malam itu, kami tidak menemukan adanya tangan jahil yang mencoba mengambil dompet yang kami jadikan umpan. Namun demikian, dengan banyaknya laporan terkait adanya tindakan kriminal, tidak ada salahnya para pengunjung untuk tetap berhati-hati terhadap barang bawaannya.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.53