kumparan
10 Nov 2018 10:24 WIB

Kisah Heroik Arek Suroboyo Melawan Sekutu di Pertempuran Surabaya

Cover Pertempuran Surabaya (Foto: Putri Sarah Arifira)
Pekik Siap! menggema pada Pertempuran Tiga Hari di Surabaya. Pekik legendaris itu dilantangkan Arek-arek Suroboyo. Mereka siap mewakafkan nyawa demi mempertahankan kemerdekaan yang baru berumur 72 hari.
ADVERTISEMENT
Pertempuran tiga hari merujuk pada perlawanan rakyat Surabaya terhadap kedatangan pasukan Inggris. Peristiwa bergelimang darah itu terjadi pada 28-30 Oktober 1945. Peristiwa ini yang nantinya memicu Pertempuran 10 November, yang selanjutnya diperingati sebagai Hari Pahlawan.
Satu hari sebelum peristiwa berdarah itu terjadi, 27 Oktober 1945, sikap pasukan Inggris memang sudah memantik emosi warga Surabaya. Kala itu, selebaran bernada provokatif disebar dari atas langit. Isinya menyebut bahwa Inggris akan menembak mati siapa pun orang Surabaya yang membawa senjata.
“Tapi selebaran itu tidak membuat orang Surabaya takut. Bahkan sebaliknya,” kata Mayjen Sungkono, Komandan Tentara Kemanan Rakyat (TKR) yang terlibat pertempuran dalam Rakyat Jawa Timur Mempertahankan Kemerdekaan.
Kolonel Sungkono. (Foto: Dok. gahetna.nl)
Kedatangan pasukan Inggris di Surabaya memang membawa agenda tak sedap. Selain bertugas melucuti senjata tentara Jepang, mereka bertugas untuk mengubah Indonesia kembali menjadi Hindia Belanda.
ADVERTISEMENT
Inggris berupaya untuk menjadikan Indonesia berada di bawah NICA (Netherlands Indies Civil Administration). Komandan Brigade Infanteri India Nomor 49, Brigadir Jenderal Mallaby, bahkan telah menyiapkan 3.000 pasukan untuk agenda tersebut.
Maka sejak pagi sekali, 28 Oktober 1945, Arek Suroboyo sudah mulai bergerak. Ada 120 ribu orang bersiap melancarkan serangan sejak pukul 04.00 pagi. Mereka marah dan menggeruduk pos-pos pertahanan Inggris.
Tekad Arek Suroboyo memang sudah bulat. Orasi Bung Tomo yang menggelegar di Radio Pemberontak melenyapkan rasa takut akan mati. Massa yang berjumlah besar tersihir dengan kata-kata mujarabnya.
Pertempuran Surabaya 10 November 1945. (Foto: Twitter/@IlmuSosialUmum)
Sejarawan Australia, Frank Palmos, dalam Surabaya 1945: Sakral Tanahku menuturkan bahwa pasukan Inggris kalah jumlah. Ia menggambarkan bahwa seorang prajurit Inggris bertempur melawan 100 pejuang pada hari itu. Amarah Arek Suroboyo benar-benar meledak pada peristiwa tersebut.
ADVERTISEMENT
Pasukan Inggris jelas kocar-kacir. Mereka tak menyangka akan dikalahkan oleh ‘segerombolan orang’ bersenjatakan bedil Jepang, lengkap dengan senjata bambu runcing seadanya. Sebanyak 428 nyawa pasukan Inggris pun melayang.
Dua hari kemudian, 30 Oktober 1945, terjadi gencatan senjata. Keputusan itu diambil Presiden Sukarno dan Wapres Hatta saat berdialog dengan seorang Jenderal yang merupakan dalang di balik selebaran bernada provokatif 27 Oktober, Mayor Jenderal Hawthorn.
Persoalannya, Mallaby justru tewas ditembak seorang pemuda di depan Gedung Internatio pada pukul 20.30 WIB. Waktu kematian Mallaby itu hanya terpaut beberapa jam usai kesepakatan itu rampung. Hubungan Indonesia dan Inggris pun justru semakin memburuk.
Jenderal Mallaby. (Foto: Wikimedia)
Pengganti Mallaby, Mayor Jenderal Mansergh, mengambil keputusan yang terbilang cepat. Ia mengultimatum agar warga Surabaya yang memiliki senjata harus menyerahkan diri. Ia menyebut batas penyerahan diri itu adalah pukul 06.00 WIB, 9 November 1945.
ADVERTISEMENT
Menanggapi itu, Arek Suroboyo tak gentar. Alih-alih menyerahkan senjata pada pasukan Inggris, mereka justru menghimpun kekuatan. Seperti apa yang dikatakan Sejarawan Frank Palmos, setiap hari yang terlewati usai 1 November, Arek Suroboyo mengungkapkannya sebagai Menjelang Datangnya Badai.
Sampai badai itu tiba, langit Surabaya disesaki oleh pesawat-pesawat pembunuh. Gemuruh suara tank-tank Inggris membuat bising warga yang tinggal di jalan-jalan utama. Pertempuran 10 November benar-benar terjadi.
Untuk kesekian kalinya, pekik Siap! kembali menggema. Arek-arek Suroboyo juga telah mempersiapkan diri dengan menyingkirkan papan nama jalan dan kampung. Semua itu dilakukan agar pasukan Inggris kebingungan saat membaca peta Kota Surabaya.
Pertempuran Surabaya 10 November 1945. (Foto: Facebook/Musiccity Jakarta II)
Bung Tomo dalam kesaksiannya di Pertempuran 10 November: Kesaksian dan Pengalaman Seorang Aktor Sejarah menuturkan, Arek Suroboyo yang dimaksud adalah para pemuda-pemudi. Mereka saling bekerja sama untuk menghadapi perang tersebut.
ADVERTISEMENT
Sederet nama pemudi seperti Mulyakusuma, Siti Aminah, Anie dan Sulistina mengawasi distribusi makanan hingga di garis pertempuran terdepan. Di garis pertempuran ada sosok Sugiarto. Ia yang biasa bermain untuk Persebaya, ikhlas menggantungkan sepatu bolanya dan menggantinya dengan senjata. Meski ia tewas dalam pertempuran itu.
Sejarah mencatat bahwa Pertempuran Surabaya itu terjadi selama 21 hari. Selama pertempuran itu, bunyi ledakan terdengar di mana-mana, menyisakan aroma kalium nitrat, bau mesiu. Langit Surabaya yang biasanya cerah itu pun berubah menjadi kelabu.
Berbeda dengan Pertempuran Tiga Hari, pertempuran ini menyebabkan Surabaya porak poranda. Sebanyak 30 ribu tentara Inggris lengkap dengan barisan tank dan pesawat terbang Thunderbolt dan Mosquito berhasil memukul mundur Arek Suroboyo.
Dalam pertempuran itu, Arek Suroboyo sebetulnya tak kalah jumlah. Tercatat ada 20 ribu personel TKR dan 100 ribu orang sipil yang turut dalam perang tersebut. Mereka terdiri dari relawan Madura, Bali, serta Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Maluku.
Pertempuran Surabaya 10 November 1945. (Foto: Wikimedia)
Persoalannya, warga tak memiliki perlengkapan tempur secanggih milik Inggris. Seorang pejabat humas militer Inggris, David Wehl, bahkan dengan sinis menyebut bahwa rakyat Surabaya hanya bermodalkan kenekatan.
ADVERTISEMENT
Dalam bukunya Birth of Indonesia, Wehl menulis: ‘Pengorbanan diri (Arek Suroboyo) secara fanatik, dengan orang-orang yang hanya bersenjatakan pisau-pisau belati menyerang tank-tank Sherman’.
Meski menderita kekalahan, kenekatan Arek Suroboyo itu tetap dikenang. Kenekatannya mampu membuat, paling tidak, pasukan Inggris gemetar. Utusan Inggris untuk Indoonesia, Lord Kilearn bahkan menumpahkan rasa gemetarnya di buku harian pada 15 November 1945
“Jalan bijak yang harus kita (Inggris) ambil adalah meninggalkan tempat itu secepat mungkin...Kita harus keluar secepatnya,” tulis Kilearn seperti dikutip oleh Palmos.
Simak story menarik lainnya mengenai Pertempuran Surabaya dalam topik 10 November 1945
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan