Pencarian populer

Kisah Tiurma yang Jadi Inspirasi ODHA untuk Berani Menikah

Pendamping ODHA, Tiurma Banjarnahor Foto: Dok, Istimewa

Pengidap HIV/AIDS atau yang dikenal Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) kerap dianggap tertular karena narkoba atau seks bebas.

Stigma negatif yang bercampur ketidaktahuan tentang penularan ODHA itu membuat masyarakat salah kaprah.

Akibatnya, ODHA kerap dijauhi dan dikucilkan karena dianggap berbahaya. Padahal, ODHA juga manusia, punya cita, cinta, dan keinginan hidup normal.

Kisah pahit itulah yang sempat dirasakan Tiurma Banjarnahor, seorang pendamping ODHA dari Kementrian Sosial. Karena ODHA, Tiurma kehilangan suami dan anak, bahkan sempat dikucilkan keluarganya.

Namun kini pengalaman itu pula yang mampu membangkitkan gairah ODHA lainnya untuk tidak berputus asa. Tiurma jadi inspirasi para ODHA untuk berani punya mimpi.

Pengalaman pahit Tiurma menjadi ODHA bermula pascaoperasi caesar saat melahirkan anak pertamanya tahun 2009.

Kala itu, dia merasa menjadi istri yang sempurna. Terlebih setelah dia melihat bayi pertamanya begitu sehat. Nalurinya sebagai seorang ibu muncul. Dengan lembut dia menyusui anak pertamanya.

Nahas baginya, ASI pertama yang ia berikan merupakan awal mula sang anak menjadi ODHA.

"Sebelumya saya sudah melakukan pemeriksaan HIV selama dua kali, sebab suami saya adalah ODHA tetapi belum terdeteksi. Namun pada saat tes ketiga pascaoperasi caesar menunjukan kalau saya ODHA," kenang Tiurma saat bercerita kepada kumparan, Rabu (15/5).

Usai meminum ASI dari Tiurma, bayi perempuannya itu kerap demam dan sakit diare. Hingga enam bulan kemudian ia harus menerima kenyataan anaknya meninggal dunia.

Duka kian menyelimuti taktala tiga tahun berikutnya, sang suami dipanggil Sang Khalik. Di titik itu Tiurma merasa stres. Sebab selain ditinggal orang yang begitu ia cintai, Triuma juga dijauhi keluarga.

"Saya dicap sebagai perempuan enggak benar. Padahal saya hanya korban, suami saya yang menularkan. Dia tertular dari jarum suntik," ujar wanita kelahiran 1982 itu.

HIV AIDS (Ilustrasi) Foto: Shutter Stock

Sejak saat itu, Tiurma bertekad untuk menghapus penderitaan para ODHA seperti dirinya. Dia yang tadinya menetap di Dolok Sanggul Taput, nekat merantau ke Medan pada tahun 2012.

Di Medan, Tiurma menjadi relawan Yayasan Caritas PSE, sebuah lembaga yang menangani masalah HIV/AIDS, narkoba, dan korban bencana alam.

Selama menjadi relawan, saban hari Tiurma menghabiskan waktunya mendampingi ODHA. Dari mulai perawatan, hingga mengurusi BPJS. Saking semangatnya, Tiurma bahkan membuka diri sebagai tempat berkonsultasi untuk mengobati batin ODHA yang selama ini tertekan karena stigma negatif di masyarakat.

"Stigma negatif tentang penularan ODHA di masyarakat terjadi kerena ketidaktahuan informasi tentang ODHA. Setelah mengetahui masyarakat tak perlu khawatir," ujar Tiurma.

"Misalnya ketika saya selesai mengisi penyuluhan masyarakat berebut bersalaman dengan saya karena mereka tahu HIV/AIDS tidak menular,"

Tak hanya untuk para penderita ODHA, bimbingan konseling juga ia berikan kepada pihak keluarga. Hal itu ia lakukan karena selama ini banyak penderita ODHA yang menderita karena tidak adanya perhatian dari keluarga.

Pada tahun 2017, Tiurma memberanikan diri untuk menjadi pendamping ODHA di Balai Rehabilitasi Sosial ODH Bahagia Medan di bawah Kementerian Sosial. Meski hanya tamat SD, namun Tiurma memiliki kemampuan public speaking yang baik.

Menikah mengurangi resiko demensia. Foto: Pixabay

Di Balai Rehabilitasi, tugas Tiurma kian besar. Lewat salah satu program untuk ODHA di sana, Tiurma menyatukan cinta para ODHA dengan pasangan negatif HIV/AIDS lewat program layanan Pencegahan Penularan HIV dan dari Ibu ke Anak (PPIA).

Tiurma menjelaskan kalau pasangan itu bisa memiliki keturunan tanpa harus takut menderita HIV/ AIDS.

"Sudah banyak yang sudah menikah dampingan saya, sekitar 20 pasangan ODHA. Mereka tidak tertular bahkan ada yang sudah memilki anak tetapi negatif ODHA," kata Tiurma.

Tak sampai disitu, Tiurma juga memotivasi pasangan suami istri penderita ODHA lainnya untuk tidak takut mempunyai anak, apalagi tertular ODHA.

Seperti yang dirasakan Ika, meski dirinya dan sang suami sama-sama ODHA, namun anak semata wayangnya tak mengidap HIV/AIDS.

"Alhamdulillah negatif, kak Tiur selalu mengedukasi dan memberikan pemahaman agar anak saya tidak menderita ODHA. Misalnya kalau ada luka terbuka jangan sampai terkena lukanya, jangan sampai kena juga," ujar Ika.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.23