kumparan
14 Mei 2019 18:59 WIB

Komitmen Gubernur AAU Marsda Tatang: Pecat Taruna yang Aniaya Junior

Marsekal Muda (Marsda) TNI Tatang Harlyansah. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
Menuntut ilmu di sekolah kedinasan sebagian besar menjadi cita-cita banyak remaja. Apalagi menjadi menjadi taruna Akademi Angkatan Udara (AAU).
ADVERTISEMENT
Tantangan menjadi taruna sungguh tidak mudah. Tak hanya seleksi ketat, kerasnya pendidikan menjadi bayang-bayang termasuk bagi para orang tua.
Soal kerasnya pendidikan kedinasaan dalam hal ini senioritas antartaruna bukan isapan jempol belaka. Publik tentu masih ingat, seorang taruna Akademi Angkatan Udara tewas diduga dianiaya seniornya pada Juni 2016.
Hal ini tentu tak diingikan terjadi di AAU oleh Marsekal Muda (Marsda) TNI Tatang Harlyansah, Gubernur AAU saat ini.
Dilantik Oktober 2018 silam, Tatang berkomitmen akan memecat taruna yang melakukan pemukulan. Menurutnya, sejak zaman dahulu, pendidikan di tentara tidak dilakukan untuk mematikan nyawa seseorang. Meski diakuinya, disiplin merupakan yang utama.
Tak hanya soal ketegasan, dalam kepemimpinannya, Tatang juga terus berupaya untuk memperbarui teknologi dalam pendidikan kedirgantaraan. Pesatnya teknologi menurut Tatang juga berpengaruh dalam kerdirgantaraan. Kurikulum yang diajarkan saat ini jauh berbeda dengan masa-masa dia menempuh pendidikan dahulu.
ADVERTISEMENT
Kepada kumparan, Tatang bercerita tentang seluk beluk pendidikan di AAU, obsesi taruna, hingga pentingnya bekal komunikasi bagi taruna di Gedung Sabang Merauke AAU Jalan Laksda Adisutjipto, Sleman, DIY, Selasa (14/5).
Apa yang membedakan Taruna AU dengan sekolah kedinasan yang lain?
Ini kan vokasi, ini akademi tapi lulusannya sarjana. Yang menjadi perbedaan penilaian di sini bukan hanya akademis saja tetapi juga penilaian namanya kepribadian, integritas, ketiga adalah samapta jadi jasmil. Tanpa tiga ini dia tidak akan lulus. Tiga nilai ini harus sinkron sehingga mereka jadi prajurit berpangkat Letnan Dua dan punya wawasan sarjana.
Apa yang harus dipersiapkan calon taruna?
Iya, harus Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) (jurusan di SMA). Dan kami di sini di bawahnya Dikti. Terakreditasi dan semua program studi di sini akreditasi A.
ADVERTISEMENT
Beberapa tahun lalu di AAU ada senioritas yang menyebabkan kematian. Di era kepemimpinan Anda, apa ada reformasi soal hierarki dan senioritas?
Di sini ada pembinaan yang dilaksanakan korps taruna. Ini penting sekali memang, karena mereka sampai kapan pun akan ketemu. Taruna ini dari zaman dahulu sudah ditekankan jangan sampai ada tindakan sampai mematikan, kekerasan itu tidak ada.
Tetapi disiplin itu, dengan konsekuensi hukuman-hukuman. Tetapi kekerasan sampai meninggal itu tidak ada. Dari dulu sama aturannya. Cuma sekarang pengawasannya dan pelaksanaan hukuman itu harus tegas.
Di era kepemimpinan saya, itu kami dilengkapi dengan apa namanya peralatan yang canggih kami sudah bisa memantau mereka. Sehingga kalau terjadi pemukulan saya dengan tegas berhentikan.
ADVERTISEMENT
Ya ada CCTV juga ada personel-personel kita. Iya saat pesiar, kita banyak yang sudah kita galang kita bina. Sehingga jika ada sesuatu bisa ya kita secepatnya akan tahu lah, ya.
Sehingga tegas, saya akan memberhentikan dengan tidak hormat apabila terjadi itu. Dan itu sudah terbukti sudah ada yang diberhentikan.
Taruna Akademi Angkatan Udara (AAU). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
Lalu bagaimana menerapkan kedisiplinan taruna?
Sudah kita atur sehingga pendidikan ini menjurus ke kedisiplinan, tahan terhadap suatu tekanan atau permasalahan sehingga membantu mereka saat melaksanakan tugas. Dan mereka ini ingat mereka prajurit TNI yang tidak begitu saja apabila punya permasalahan mereka tidak menyerah atau pun kalau pun perang kalau mereka tertawan tidak begitu saja membuka rahasia dengan tekanan apapun.
Penting pendidikan itu di taruna. Dan itu sudah di atur lengkap Persustar (Peraturan Khusus Taruna). Jadi tidak melanggar HAM, tidak melanggar kepatutan atau norma dan itu sudah kita atur.
ADVERTISEMENT
Bagaimana tahapan-tahapan taruna agar nantinya bisa menjadi penerbang pesawat tempur?
Jadi mereka dinilai sebenarnya. Di prodi (program pendidikan) sudah ditentukan. Nanti di tingkat 3 mereka ada mata kuliah pilihan itu merupakan kecabangannya mereka. Nanti di tingkat 3 ada kecabangan, yaitu pasukan, kemudian sebagai penerbang, kemudian mata prodi (program studi) yang dilaksanakan sekarang.
Semua (taruna) dijuruskan penerbang, apabila nanti di penerbang tidak lulus, nanti mereka dijuruskan ke prodi masing-masing. Sehingga nanti ada lima kecabangan di sini. Mereka pasti ingin ke penerbang karena jiwa kerdirgantaraanya pasti di sana yang diincer pasti penerbang.
Jadi ada lima kecabangan yaitu penerbang, pasukan, aeronautical, kemudian elektronik. Kemudian teknik manajemen industri.
Taruna Akademi Angkatan Udara (AAU). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
Secara kurikulum apa ada perubahan mencolok saat Anda di pendidikan dan AAU sekarang?
ADVERTISEMENT
Ada sekali. Terutama ilmu-ilmu teknik, ilmu dasarnya sudah berubah. Sehingga kita sebagai lembaga di sini menyesuaikan terus dengan perkembangan zaman. Karena kami di sini menyangkut teknologi. Sehingga prodi-prodi yang ada di sini semua teknologi mulai dari elektronika kemudian aeronautical kemudian teknik manajemen industri. Ini kita menyesuaikan zaman.
Demikian juga dengan alutsista. Mungkin mereka nanti setelah lulus generasi 5.5. Ini kita tingkatkan terus tiap tahun berubah. Ini lah yang harus ditransferkan betapa pentingnya teknologi.
Termasuk teknologi dirgantara?
Dirgantara mengikuti perkembangan teknologi modern jadi alutsista ini sekarang sudah generasi 4,5 yang akan menuju generasi 5.
Bagaimana pentingnya komunikasi antar-taruna junior dan senior agar kasus penganiayaan senior terhadap junior tak terjadi lagi?
ADVERTISEMENT
Jadi gini, Akademi Angkatan Udara ini mendidik taruna selain dia menjadi sarjana dia menjadi Letnan Dua. Kemudian Letnan Dua ini mereka sudah mempunyai anak buah. Kemudian selanjutnya akan terus berkarir akan menjadi seorang pimpinan atau komandan di TNI.
Kemudian pada saat taruna komunikasi ini sangat penting karena mereka generasi milenial. Bagi pengasuh yang ada di sini rata-rata generasi X, saya Baby Boomer.
Sehingga kalau ilmu komunikasi ini tidak diberikan dari awal itu nanti transfer ilmu ada lagi. Sehingga untuk bisa sinkron agar transfer knowledge ini bisa baik berjalan ini perlu maka ada pengetahuan tentang komunikasi.
Sehingga dengan adanya komunikasi ini, transfer ilmu yang ada dari sini, dari dosen pejabat, pelatih, instruktur di sini (AAU) itu bisa lancar.
ADVERTISEMENT
Kedua, pada saat mereka sudah lulus mereka masih tetap generasi milenial. Kemudian mereka di satuannya. Nanti mereka akan berhubungan dengan anak buah mereka yang tamtama, bintara dan perwira juga yang tentunya generasi yang berbeda. Dengan pengetahuan ini bisa menerapkan ilmu yang dipakai untuk bisa melaksanakan kepemimpinannya sebagai manajer. Low level manager mengatur anak buahnya dengan komunikasi yang baik sehingga tugas pokok dia atau tujuan dari organisasi ini bisa tercapai.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan