kumparan
31 Jul 2018 17:59 WIB

Korban Tewas Gempa Lombok Bertambah, Total Jadi 17 Orang

Kepala Humas BNPB Sutopo Purwo di konpers evakuasi pendaki Gunung Rinjani (Foto: Maulana Ramadhan/kumparan)
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus memantau proses penanganan gempa Lombok. BNPB mencatat, korban tewas bertambah jadi 17 orang.
ADVERTISEMENT
"Korban meninggal 17 orang, ada tambahan 1 orang hari ini, atas nama Ina Indra, usia 70 tahun. Korban meninggal hari ini sehingga korban meninggal 17 orang, ini sudah termasuk korban pendaki yang meninggal di Gunung Rinjani," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho, di kantornya, Selasa (31/7).
Pendaki Gunung Rinjani yang terjebak longsor akibat gempa bumi, Suharti dan Erlyn Halimatusyadiah (tengah), melakukan sujud syukur setelah berhasil dievakuasi, Selasa (31/7). (Foto: ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay)
Sutopo menambahkan, data terbaru menyebutkan 401 orang mengalami luka-luka, serta total pengungsi mencapai 10.062 orang yang tersebar di 13 titik pengungsian.
"Kemudian juga kerusakan sebanyak 5.448 rumah, 15 unit fasilitas pendidikan, 5 unit fasilitas kesehatan, 37 unit kios serta satu jembatan," jelas dia.
Sutopo memastikan proses evakuasi pendaki di Gunung Rinjani telah selesai. Termasuk korban meninggal, yakni seorang laki-laki berusia 28 tahun atas nama Muhammad Ainul asal Makassar.
Sejumlah wisatawan Thailand yang terjebak di Gunung Rinjani tiba di pintu pendakian Bawak Nao, Kecamatan Sembalun, Lombok Timur, NTB, Senin (30/7). (Foto: ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi)
Terkait kerusakan rumah, BNPB akan menyalurkan bantuan stimulus sebesar Rp 50 juta untuk kerusakan berat. Sedangkan untuk kerusakan ringan dan sedang bantuan yang diberikan sebesar Rp 10 juta.
ADVERTISEMENT
"(Bantuan) berdasarkan data by name by address yang kemudian daftar kerusakan harus di-SK-kan oleh kepala daerah setempat, dari sanalah BNPB akan memberikan bantuan pada korban," papar Sutopo.
Namun, hingga saat ini, SK tanggap darurat masih belum dikeluarkan hingga BNPB belum bisa memberikan bantuan stimulus tersebut. Menurut Sutopo, pengumpulan data kerusakan by name by address masih terus dilakukan dari tingkat kecamatan hingga kabupaten.
"Oleh karena itu BNPB melakukan pendampingan agar SK tanggap daruratnya dikeluarkan. Prinsipnya kita tidak menunggu semua data lengkap sempurna dulu baru di-SK-kan, mana yang lebih dahulu siap, salurkan," tandasnya.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan