kumparan
16 Mei 2018 14:12 WIB

Korut Tolak Didesak AS soal Perlucutan Senjata Nuklir

Kim Jong Un dan senjata nuklir Korea Utara (Foto: North Korea's Korean Central News Agency (KCNA)/Reuters)
Pemerintah Pyongyang menegaskan tidak akan surut pada desakan yang memojokkan dari Amerika Serikat agar Korea Utara melucuti senjata nuklir mereka. Sekali lagi, Korut menyampaikan ancaman membatalkan rencana pertemuan Kim Jong-un dan Presiden AS Donald Trump.
ADVERTISEMENT
Korut sebelumnya melalui media mereka, KCNA, telah mengancam akan meninjau ulang rencana pertemuan tersebut menyusul latihan militer gabungan antara AS dan Korea Selatan yang tetap berlangsung. Korut bahkan membatalkan pertemuan tingkat tinggi dengan Korsel hari ini.
Ancaman berikutnya disampaikan wakil Menteri Luar Negeri Korut Kim Kye-gwan dalam pernyataannya di KCNA, seperti dikutip Reuters pada Rabu (16/5). Dia mengatakan, Korut akan "mempertimbangkan" pertemuan di Singapura bulan depan untuk membahas denuklirisasi Korut.
"Jika AS mencoba memojokkan kami dengan memaksakan melucuti nuklir secara sepihak, kami tidak lagi tertarik pada dialog itu," kata Kye-gwan.
Kim Jong-un dan Donald Trump (Foto: Reuters)
Denuklirisasi Korut menjadi salah satu isu kunci dalam pertemuan Kim Jong-un dan Presiden Korsel Moon Jae-in bulan lalu. Uji coba nuklir Korut memang jadi ancaman terbesar bagi Korsel dan negara-negara di kawasan.
ADVERTISEMENT
Nuklir juga jadi satu-satunya senjata utama Korut untuk menghadapi ancaman invasi Korsel yang dibekingi AS sejak Perang Korea berakhir dengan gencatan senjata pada 1953.
Korut menjadi waswas untuk melucuti senjata nuklirnya setelah Penasihat Keamanan John Bolton mengatakan AS akan menerapkan "model Libya" untuk Korut. Model Libya yang dimaksud adalah pembunuhan Moammar Gaddafi usai Libya menghapuskan program nuklir mereka.
Kye-gwan juga mementahkan iming-iming Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo yang mengatakan negaranya akan menyalurkan dana investasi swasta jika Korut bebas nuklir.
"Kami tidak pernah berharap bantuan AS bagi pembangunan ekonomi kami dan kami tidak akan membuat kesepakatan seperti itu," kata Kye-gwan.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan