Pencarian populer

KPU: Jam Kerja Penyelenggara Pemilu Itu Panjang, Overtime

Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Arief Budiman saat memberikan keterangan pers di Gedung KPU RI, Jakarta. Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan

Komisi Pemilihan Umum (KPU) merespons kabar soal banyaknya penyelenggara pemilu yang meninggal dunia saat bertugas. Ketua KPU Arief Budiman menyebut jam kerja petugas KPPS, PPK, maupun operator situng dalam melaksanakan penghitungan suara memang panjang.

Jam kerja para petugas KPPS, PPK, maupun operator situng tak mungkin dibuat menjadi jam kerja seperti jam kerja kantor pada umumnya.

"Kalau dibikin kerjanya seperti kerja normal kantoran masuk jam 08.00 WIB pagi pulang jam 06.00 WIB, bisa enggak selesai pemilunya. Memang kerja penyelenggara pemilu itu kerjanya overtime," ujar Arief di Kantor KPU, Sabtu (20/4).

"Ketika kami memilih itu memang mencari orang-orang yang sehat fisiknya, sehat mentalnya. Karena sehat fisiknya saja juga berisiko kalau orang ditekan kanan kiri gampang down enggak bisa," sambungnya.

Kelelahan akibat jam kerja yang panjang tersebut bisa jadi salah satu faktor adanya beberapa kesalahan dalam aktivitas penghitungan suara. Namun Arief mengatakan KPU akan langsung melakukan koreksi jika ditemukan hal-hal yang salah.

"Kalau salah input kan kita lakukan koreksi. Jadi yang perlu diingat oleh teman-teman itu begini, dimulai dari TPS, KPPS itu bekerja, sebagian dari mereka bahkan lebih dari 24 jam, mulai jam 06.00 WIB pagi kan mereka sudah persiapkan. Jam 07.00 WIB pagi kemudian mulai pemungutan perhitungan suara, itu bahkan ada yang selesainya berikutnya sampai dengan selesai setelah matahari terbit. Jadi tentu kita ada kelelahan," terangnya.

"Kemudian PPK, PPK itu juga kemudian dipantau ketua Bawaslu kan mereka bekerja sampai jam 00.00 malam. Paginya masih lanjut lagi, ini akan terus berlanjut sampai dengan paling lama 17 hari ke depan," lanjutnya.

Arief meminta agar semua pihak memberikan informasi jika terjadi kesalahan. Hal tersebut tentu akan ditindaklanjuti oleh petugas secara segera.

Arief juga menegaskan tidak ada kecurangan apapun yang dilakukan oleh KPU dalam menghitung suara. Hal ini dibuktikan dengan transparansi yang dilakukan KPU yang menyertakan scan formulir C1 di situng. Hal tersebut dilakukan agar masyarakat bisa mencocokan data dan ikut mengawasi penghitungan suara.

"Rujukannya hasil C1 yang sudah diupload itu, kan ada dua hal yang ditampilkan ke publik, satu dalam bentuk scan image, itu berdasarkan berita acara yang di scan asli apa adanya. Kemudian entry data yang diinputnya itu berdasarkan hasil yang tertera dalam scanning itu," ujar Arief.

"Dan ini terbuka. kalau ada yang menduga bahwa kami lakukan kecurangan, masa kami publikasikan. Jadi saya tegaskan tidak ada niat untuk curang, kalau terjadi karena kesalahan input, itu saya menduga murni karena kesalahan human error," tutupnya.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Sabtu,25/05/2019
Imsak04:26
Subuh04:36
Magrib17:47
Isya19:00
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.23