Pencarian populer

KPU Pertanyakan Data Ahli 02: Pindahkan Suara 01 ke 02

Ketua KPU, Arief Budiman (kedua kanan) pada sidang lanjutan Perselisihan Hasil Pemilihan Umum 2019 di Gedung Mahkamah Konstitusi, Jakarta, Selasa (18/6). Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan

KPU selaku pihak termohon dalam sengketa gugatan Pilpres 2019 di Mahkamah Konstitusi (MK) mempertanyakan data yang disampaikan oleh ahli Prabowo-Sandi, Jaswar Koto. Dalam persidangan lanjutan, Jaswar memaparkan adanya 27 juta ghost voters atau pemilih siluman.

"Apa yang dijadikan bahan analisis tadi itu, cara menghitungnya juga menurut saya bukan hanya unik, tapi juga aneh, jadi istilahnya ada ghost voters ya, atau apalah istilahnya gonta-ganti, ada ghost voters, pemilih siluman," kata Komisioner KPU Hasyim Asy'ari di Gedung MK, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Kamis (20/6).

KPU melihat, data mengenai 27 juta ghost itu tidak jelas. Sebab dalam pemaparannya, mereka mengurangi jumlah suara dari palson 01 Jokowi-Ma'ruf kemudian menambahkannya ke paslon 02 Prabowo-Sandi.

"Jadi, dalam pandangan kami ya begitu ada ghost voters yang enggak jelas ini. Ini kemudian dikurangkan begitu saja dari suara 01 dan ditambahkan ke 02 gitu, ini kan jadi aneh, kok jadi begitu," ucap Hasyim.

Akan tetapi, telepas dari itu, KPU tetap meyakini kapabilitas Jaswar Koto sebagai seorang pakar IT. Namun, KPU menilai Jaswar hanyalah seorang ahli IT yang tidak paham soal pemilu.

"Ini yang kemudian dari kami termohon juga mempertanyakan hasil kajian itu. Jadi kami berkesimpulan gini, boleh-lah yang dihadirkan ahli IT, tapi ahli IT yang enggak paham pemilu, sehingga perubahan-perubahan misal C1 yang di situng yang digunakan sebagai dasar, sangat mungkin berubah," jelas Hasyim.

"Karena ketika ada koreksi dilakukan koreksi rekapitulasi di tingkat kecamatan misal, dia tidak memperhatikan itu (hasil rekap manual), yang diperhatikan hanya hasil itu aja. Itu yang kami ajukan catatan dalam persidangan," tutup Hasyim.

Saksi ahli pertama, Jaswar Koto, menyoroti soal ghost voters atau pemilih siluman yang mencapai 27 juta orang. Jaswar mengaku memiliki teknologi khusus berdasarkan audit forensik yang bisa mengidentifikasi ghost voters sebesar 27 juta pemilih.

Jaswar kemudian menjelaskan, awalnya, dia mendapatkan data sebanyak 22 juta ghost voters dari 89 juta populasi. Namun data ini kemudian berubah menjadi 27 juta, seiring dengan perkembangan penelitian yang dilakukannya yaitu 110 juta populasi.

Jaswar menjelaskan, ghost voters didapatkan dengan membandingkan data yang dimilikinya dengan data milik KPU. Selain itu, Jaswar juga mengaku menemukan banyak C1 yang ternyata tidak asli dan telah banyak diedit.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.57