Pencarian populer

Lamunan Pramoedya Ananta Toer Berbuah Puluhan Novel Legendaris

Bagaimana seorang Pramoedya Ananta Toer bisa jadi penulis andal dan tersohor di dunia? Tentu itu menjadi pertanyaan yang lazim dilontarkan orang-orang. Tetralogi Pulau Buru, telah menyihir entah berapa pasang mata sehingga diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa.

Sang ‘novelis’ pun beberapa kali masuk dalam nominasi peraih Nobel Sastra. Sayang, hingga dia tutup usia, penghargaan Nobel itu tak sempat dia dapatkan.

Meski begitu, mahirnya seorang Pram dalam merangkai kata tak ada yang meragukan. Lantas bagaimana cerita mulanya?

Saat itu usia Pram baru 15 tahun. Dia berniat untuk masuk MULO (SMP) di Madiun. Namun, keluarganya saat itu tengah bangkrut dan tidak bisa membiayai sekolahnya.

“Nah itu supaya anak ini enggak sekolah, bapaknya bilang “pulang kamu ke IBO (Instititut Boedi Oetomo, sekolah liar yang dikepalai ayahnya)”. Di situ dia nemui gurunya, “kamu itu sudah tamat, ngapain ke sini” kata gurunya,” cerita Soesilo Toer, adik Pram, saat berbincang dengan kumparan, Rabu (6/6).

Ilustrasi Pramoedya Ananta Toer (Foto: Muhammad Faisal Nu'man/kumparan)

Marah besarlah Pram menerima kenyataan itu. Dia merasa dikecewakan oleh orang yang dia hormati selama ini.

“Pram lari ke kuburan dan menabrakkan dirinya ke pohon kamboja. Bibir bawahnya bingget,” Soes berkisah sembari menunjukkan foto bibir Pram.

Di kuburan, Pram didekati oleh teman yang memelihara kambingnya, yaitu Marhaban. Kala itu, Pram terus menangis hingga akhirnya berhenti karena kelelahan. Marhaban lalu membawa Pram ke rumahnya dan diberikan minum dan rokok.

“Oh enaknya orang bodoh itu ngelamun ya. Ngelamun itu sambil ngerokok dan minum kopi. Melamun itu terus direnungkan sampai dia tulis. Jadi itu adalah masa pencerahan Pram,” sebut Soes.

Menurut Soes kisah tersebut bahkan dikisahkan dalam sebuah film berjudul “Redup Kejora Palagan Jiwa”.

Pram mulai giat menulis setelah kejadian itu. Dia adalah seorang penulis yang menggabungkan fakta dan fiksi. Kritikan sempat menghujam pada gayanya menulis itu.

Namun masa bodoh bagi Pram, dia terus menulis dengan gaya seperti itu. Bahkan kala dia menjadi tahanan politik (tapol) di Pulau Buru, justru di sanalah lahir 4 buku hebat yang terus dikenang sampai sekarang.

Siapa tak kenal novel Bumi Manusia? Karya Pram yang selalu diusulkan untuk meraih penghargaan Nobel.

Pram: Tetralogi Pulau Buru (Foto: abighifari.files.wordpress.com)

Sampai akhir hayatnya, kurang lebih 50 buku telah dikarang oleh Pram. Semuanya adalah penggabungan dari fakta dan fiksi.

Selain buku, Pram nyatanya juga mengarang puisi. Puisinya tak henti-henti dibaca masyarakat, seperti ‘Puisi untuk Ayah’.

Pram mungkin bisa tersenyum sekarang di alamnya sana. Sebab, kalimat yang pernah dia gembar-gemborkan telah terjadi padanya yakni “orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

Pram kini telah abadi berkat karya-karya tulisannya.

----------------------------------------------------------------

Ikuti kisah Pramoedya lebih lanjut di topik Jejak Pram.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Jumat,24/05/2019
Imsak04:26
Subuh04:36
Magrib17:47
Isya19:00
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.23