kumparan
25 Mei 2018 13:49 WIB

LDK soal Penceramah di UGM: Tak Niat Jadikan Kampus Arena Politik

Kabag Humas dan Protokoler UGM, Iva Aryani. (Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan)
Nama Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah dan eks Jubir HTI Ismail Yusanto dicoret dari daftar penceramah di Masjid UGM. Ketua Lembaga Dakwah Kampus Jamaah Shalahuddin (LDK JS) UGM Kiki Dwi Setiabudi mengatakan, pihaknya tak berniat untuk membuat gaduh karena daftar nama penceramah tersebut.
ADVERTISEMENT
"Tidak ada sama sekali niatan untuk menjadikan Masjid Kampus sebagai arena percaturan politik nasional. Karena sekali lagi, ini adalah kampus yang bebas dari intervensi politik," ucap Kiki dalam keterangan tertulisnya yang dikutip pada Jumat (25/5). LDK JS adalah UKM yang mengundang para penceramah tersebut untuk berbicara di Masjid Kampus UGM selama Ramadhan.
Kiki berpendapat, kampus adalah tempat pertukaran gagasan. "Tempat di mana seharusnya ilmu pengetahuan datang dari segala arah tanpa sekat pemisah, tidak boleh ada yang takut dan menganggapnya berbahaya, karena sejatinya itulah yang disebut sebagai esensi dari kebebasan mimbar akademik," ungkapnya.
Kiki menjelaskan, nama-nama yang diusulkan pihaknya ke pihak rektorat bukan karena motif politik, tetapi hanya ingin agar penceramah yang diusulkan berasal dari berbagai latar belakang. Beberapa di antaranya berasal dai NU, Muhammadiyah, kelompok tarbiyah, kalangan salaf, akademisi, profesor, hingga budayawan.
ADVERTISEMENT
"Kesemuanya tersebut panitia hadirkan untuk memberikan gambaran bahwa ada banyak mazhab pemikiran dan ekspresi keagamaan dari masing-masing pembicara," lanjutnya.
Universitas Gadjah Mada (Foto: ugm.ac.id)
Sayangnya, pihak rektorat menolak beberapa nama tersebut. Sehingga, mau tak mau, Jamaah Shalahuddin harus mengikuti hal itu.
"Tapi apa daya, beliau (Yusanto) sudah dicoret atas kehendak beberapa pihak rektorat dan pemerintah yang menganggap beliau berbahaya dan berpotensi menyebarkan ideologi yang dilarang," ucap Kiki.
Sebelumnya, Kabag Humas UGM Iva Ariani mengatakan, nama-nama penceramah yang dicoret itu didasarkan pada banyak pertimbangan, salah satunya reaksi dari masyarakat.
"Alasan pencoretan memang karena ada pro kontra di masyarakat. Yang perlu kami tegaskan tidak ada tekanan (terkait pencoretan Fahri) dari pihak mana pun, baik dari kementerian mana pun maupun Istana mana pun. Seperti yang disampaikan di beberapa media itu sama sekali nggak (tidak benar)," jelas Iva.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan