Pencarian populer

Lika-liku Napas Ondel-ondel

Ondel-ondel dan aksinya di Jakarta. (Foto: Iqbal Firdaus/kumparan)

Terik matahari, debu trotoar jalan dan desah keringat membasahi pengarak boneka besar itu. Barongan namanya, kini lebih dikenal dengan sebutan Ondel-ondel.

Sebuah boneka besar yang sering kita jumpai di pinggiran ibu kota dengan alunan nada sopran yang mengiringi. Jika kita putar balik waktu menelisik lebih dalam lagi Ondel-ondel atau Barongan termasuk ke dalam jenis kesenian yang memiliki estetika religius.

Kesenian yang kita tahu memiliki makna lambang kekuatan yang mampu memelihara keamanan, ritualitas untuk menolak bala dan roh jahat. Kini jika diperhatikan dengan seksama fungsi Ondel-ondel tersebut mengalami perubahan peruntukannya menjadi sebuah ikon budaya sesuai dengan Pergub No 11 Tahun 2017.

Seiring perkembangan zaman dan peliknya perekonomian, tidak sedikit segelintir orang menurunkan boneka sang penolak bala tersebut ke jalanan (ngamen) dengan dalih tuntutan ekonomi. Selain itu banyak juga yang berpendapat sebagai bentuk pelestarian untuk sang boneka raksasa tersebut.

Namun dengan adanya Ondel-ondel ngamen maka semakin terlihat tergerusnya citra dan peruntukan sang boneka penolak bala tersebut dikarenakan bertentangan dengan Peraturan daerah (Perda) Nomor 8 Tahun 2007, yang dianggap mengganggu ketertiban umum.

Dinamika ondel-ondel yang mengamen tersebutlah yang akhirnya membuat ikon Jakarta tersebut menjadi santapan para anggota Dinas Sosial. Nahasnya, segelintir orang pada masalah di atas bukanlah orang yang paham akan kebudayaan Ondel-ondel sehingga membuat geram seniman-seniman asli Betawi.

Pasalnya ketika Ondel-ondel ngamen tersebut mereka tidak mengindahkan pakem kesenian Ondel-ondel, seperti boneka raksasa tersebut hanya diarak secara terpisah dan memainkan tanpa musik atau menggunakan pemutar lagu saja, tidak sesuai dengan fungsi dan peranan karena merendahkan harga diri kebudayaan Betawi

Masyarakat sadar akan getirnya perekonomian di negeri ini memaksa untuk tetap bertahan hidup. Namun masalahnya, fenomena Ondel-ondel ngamen ini bukanlah satu-satunya ikon budaya yang dijadikan segelintir orang untuk memenuhi tuntutan ekonomi.

Sampai kapan kita sebagai penerus terus-terusan meredupkan nilai-nilai estetis pada sebuah 'ikon budaya'?

Pembuatan ondel-ondel. (Foto: Iqbal Firdaus/kumparan)
Pembuatan ondel-ondel. (Foto: Iqbal Firdaus/kumparan)
Pengangkutan ondel-ondel sebelum atraksi. (Foto: Iqbal Firdaus/kumparan)
Orang dibalik figur ondel-ondel. (Foto: Iqbal Firdaus/kumparan)
Ondel-ondel dan aksinya di Jakarta. (Foto: Iqbal Firdaus/kumparan)
Ondel-ondel dan aksinya di Jakarta. (Foto: Iqbal Firdaus/kumparan)
Ondel-ondel dan aksinya di Jakarta. (Foto: Iqbal Firdaus/kumparan)
Ondel-ondel dan aksinya di Jakarta. (Foto: Iqbal Firdaus/kumparan)
Uang koin hasil mengamen dengan ondel-ondel. (Foto: Iqbal Firdaus/kumparan)
Ondel-ondel dan aksinya di Jakarta. (Foto: Iqbal Firdaus/kumparan)
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.23