Livernya Kumat Usai Pemilu, Petugas KPPS di Semarang Meninggal Dunia

25 April 2019 0:44 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Suasana rumah duka Bambang Saptono di Semarang Foto: Afiati Tsalitsati/Kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Suasana rumah duka Bambang Saptono di Semarang Foto: Afiati Tsalitsati/Kumparan
ADVERTISEMENT
Setelah menjalani perawatan, Bambang Saptono (52) meninggal dunia di RSUP dr Kariadi Semarang, Rabu (24/4). Mangkatnya Bambang menambah daftar panjang kematian petugas Pemilu 2019.
ADVERTISEMENT
Dituturkan keponakannya, Bambang Naga Pratono, pamannya merupakan anggota Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) di TPS 12 Kelurahan Barusari, Kota Semarang. Menurut dia, kondisi pamannya mulai menurun sehari setelah Pemilu 2019, Rabu (17/4) lalu.
Menurutnya, sang paman kelelahan setelah proses penghitungan suara di tempatnya bertugas memakan waktu sampai pukul 04.30 WIB. Akibatnya, sakit livernya kambuh kembali.
Mendiang pamannya itu sempat dilarikan ke rumah sakit, Kamis (18/4) pagi oleh keluarga lantaran mengeluh sakit pada bagian perutnya dan kesehatannya turun drastis.
"Pagi setelah penghitungan suara ngeluh sakit perutnya, badannya pucat, lalu dibawa ke Rumah Sakit Tentara (RST) dirawat inap," jelas Bambang Naga Pratono, di rumah duka Jalan Kaligarang 21 Semarang.
Pratono menjelaskan, mendiang pamannya menjalani perawatan di RST Semarang hingga kesehatannya pulih dan diperbolehkan pulang.
ADVERTISEMENT
Namun, kondisi baiknya sang Paman tak bertahan lama. Tepatnya pada Selasa (23/4), kesehatan Bambang kembali menurun, keluarga membawanya ke IGD RSUP dr Kariadi Semarang.
"Dibawa ke IGD RS Kariadi, rawat inap juga karena sudah sangat ngedrop dirujuk ke ICU, tapi belum sampai dirawat di ICU meninggal dunia," terangnya.
Jenazah Bambang Saptono akan dimakamkan di TPU Bergota Semarang, Kamis (25/4) siang sekitar pukul 14.00 WIB. Hingga saat ini, para tetangga dan anggota KPPS TPS 12 masih memadati rumah duka.
Ditemui di rumah duka, Ketua KPPS 12 Basuki Suwandani mengenang sosok Bambang Saptono sebagai pekerja yang giat dan bertanggungjawab terhadap tugasnya.
"Seminggu sebelum pencoblosan dia sudah sakit, mukanya pucat dan bola matanya menguning, tapi tak dirasakan karena dia merasa bertanggungjawab pada tugasnya sebagai KPPS dan ikut bertugas dari pagi sampai pagi kembali," kata Basuki.
ADVERTISEMENT
Basuki bersama rekan KPPS lainnya, sebenarnya sudah bersiap menjenguk almarhum pada Rabu sore karena mendengar kondisi almarhum menurun saat rawat inap di RSUP dr Kariadi.
Suasana rumah duka Bambang Saptono di Semarang Foto: Afiati Tsalitsati/Kumparan
"Kita mau berangkat menjenguk tapi malah mendapat kabar beliau meninggal dunia, kami sangat kehilangan sosok yang rajin dan bertanggung jawab pada Pak Bambang," ujar Basuki.
Basuki lantas menerangkan proses pencoblosan sampai penghitungan suara yang diakuinya sangat rumit dan panjang sehingga mengakibatkan para petugas KPPS kelelahan.
"Sebenarnya tak ada kendala tapi karena proses administrasi yang panjang dan ribet kami lelah, yang paling bikin capek saat penghitungan dan laporan saksi juga administrasi karena manual," jelasnya.
Pihaknya berharap, penyelenggaraan Pemilu ke depan bisa dilakukan secara terpisah atau tak lagi serentak.
ADVERTISEMENT
"Untuk pemerintah, dalam hal ini KPU, pencoblosan jangan dijadikan satu, pemilihan Presiden, DPD, DPRD DPR RI (serentak) itu terlalu lama dan ribet. Pemilu ke depan dibuat se-simple mungkin karena (kondisi) kelelahan rentan dengan (terjadinya) kesalahan," katanya.
Terkait jaminan sosial dan kesehatan bagi KPPS pihaknya tidak bisa berharap banyak bahkan mengaku tidak berani meminta karena sebagai petugas KPPS adalah panggilan hati dan pengabdian.
"Tidak ada jaminan kesehatan atau sosial, hanya sifatnya honor, jadi sifatnya mereka pengabdian. Ada hanya honor sekitar Rp 500 - 550 ribu, kalau masalah santunan kita juga ndak berani ngomong, tapi kalau ada malah lebih bagus," pungkasnya.