Pencarian populer

Mahfud MD hingga Haedar Nasir Bahas Radikalisme

Gerakan Suluh Kebangsaan pimpinan Mahfud MD gelar FGD Scenario Planning hadapi Radikalisme. Foto: Muhammad Lutfan Darmawan/kumparan
Isu radikalisme akhir-akhir ini banyak dibahas. Mulai dari bahan pertimbangan seleksi lembaga sekelas KPK hingga penyuluhan yang kian masif di institusi pendidikan.
ADVERTISEMENT
Isu ini juga menarik perhatian dari sejumlah pakar dan tokoh yang tergabung dalam Gerakan Suluh Kebangsaan pimpinan Mahfud MD. Sampai-sampai, gerakan ini coba memproyeksikan skenario ancaman radikalisme di Indonesia di masa yang akan datang lewat focus group discussion (FGD).
"FGD diikuti tidak lebih dari 15 orang, pakar di bidang masing-masing untuk membuat skenario planning, dalam rangka menghadapi radikalisme," kata Mahfud di Hotel JS Luwansa, Kuningan, Jakarta, Jumat (16/8).
Mahfud menjelaskan radikalisme yang dimaksud adalah gerakan ingin mengganti sistem yang sudah matang dan disepakati secara demokratis. Penolakan adanya upaya penggantian sistem ini, kata Mahfud, bukan berarti anti terhadap perubahan.
"Kita sadar perubahan harus dilakukan tapi perubahan kita adalah perubahan gradual. Sistem sudah mantap diperbaiki, berdasar sistem negara kesatuan Republik Indonesia, berdasarkan Pancasila," kata dia.
ADVERTISEMENT
Mahfud menyebut antisipasi soal radikalisme penting dilakukan setelah berkaca dari pagelaran Pemilu 2019 yang memunculkan adanya perbedaan cara pandang tentang agama, pilihan politik, lantas kemudian dianggap sebagai musuh yang harus disingkirkan.
Contoh lainnya, kata Mahfud, munculnya pesantren yang tiba-tiba memiliki banyak pengikut. Bentuknya eksklusif, tidak boleh ada yang masuk, tidak boleh hormat bendera, dan menganggap patung Garuda sebagai apa yang diminta untuk dihancurkan pada era Nabi Muhammad.
"Biasanya banyak pengikut gerakan radikal orang yang belajar cepat bahasa Arab dan Al-Quran, 3 hari bisa baca Arab, tidak tahu tafsirnya, nahwu sharaf-nya, tiba-tiba membuat tafsir di berbagai medsos, padahal yang dihadapi orang yang sudah lebih dari 50 tahun belajar agama, yang disalah-salahkan, dikafir-kafirkan, nah kita melihat itu," ungkapnya.
ADVERTISEMENT
Mahfud dan tokoh lainnya melihat perlu ada pembahasan mengenai proyeksi radikalisme di masa yang akan datang sehingga bisa merumuskan langkah-langkah dan strategi untuk mengantisipasinya.
"Hari ini ada ahlinya tokoh Muhammadiyah Pak Haedar Nashir, dari NU ada Gus Sholah (Salahuddin Wahid), dari NU akan ada lagi pengurusnya resmi tapi masih di (gedung) MPR," kata dia.
"Namanya skenario, kita akan menganalisis, sesudah skenario ada strategi, ini skenario dulu bagaimana petanya, makanya ini ada BIN memaparkan skenario yang ada, lalu kita buat strateginya baru kita melangkah," pungkasnya.
Beberapa tokoh sudah hadir dalam diskusi tersebut. Mulai dari Ketum PP Muhammadiyh Haedar Nasir, Mahfud MD, mantan menlu Alwi Shihab, Amin Abdullah, Rektor UIII Komaruddin Hidayat, anggota Dewan Pengarah BPIP Sudhamek AWS, pakar terorisme Noor Huda Ismail, pakar pendidikan Najeela Shihab, Alissa Wahid, hingga rohaniawan Romo Benny Susetyo.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan dan Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.81