kumparan
20 Jun 2019 10:31 WIB

Malam Maut di Tol Cipali

KM 151 Tol Cikopo-Palimanan, Jawa Barat. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Selusin tewas di KM 150 Tol Cipali, dipicu seorang penumpang di Bus Safari yang merasa akan dibunuh. Ia merasa mendengar suara "Pateni, pateni…" dan merangsek ke kursi sopir.

ADVERTISEMENT
Yanto baru akan masuk ke rumah ketika dentuman keras mengejutkannya, Senin (17/6) dini hari lalu. Suara berasal dari arah KM 150 Tol Cikopo-Palimanan (Cipali), Majalengka, yang berjarak 50 meter dari tempatnya berdiri. Warga Dusun Cipakujaya, Majalengka, ini sontak berlari ke pagar kawat pembatas yang memisahkan jalan tol dan permukiman warga.
Yanto melihat empat kendaraan dalam posisi tak beraturan di KM 150 Tol Cipali. Sayup-sayup terdengar jerit tangis dan teriakan minta tolong. “Sopirnya itu aja keluar dari atas, sopirnya itu sopir truk ayam,” tutur Yanto kepada kumparan, Rabu (19/6).
Suasana sekitar pukul 01.00 pagi itu mendadak ramai. Warga lain yang terbangun mendengar suara keras ikut mencari tahu apa yang terjadi dari pinggir pagar kawat. Tapi tak ada yang berani mendekat. Di jalan tol, terjadi kepadatan, kendaraan-kendaraan memperlambat lajunya.
ADVERTISEMENT
Tak beberapa lama kemudian, cahaya sirine polisi dan ambulans berkilatan di sekitar tempat kecelakaan. Lokasi kejadian hanya sekitar 10 kilometer dari kantor pengelola Tol Cipali. Kecelakaan dipicu Bus Safari bernomor polisi H 1469 CB yang masuk ke jalur B, arah Cirebon-Jakarta, dari arah berlawanan.
Bus menerjang tiga kendaraan lain. Akibatnya 12 orang tewas dalam peristiwa itu. Semula polisi menduga kecelakaan disebabkan sopir Bus Safari yang berangkat dari Terminal Kampung Rambutan, Jakarta Timur, Minggu (16/6) malam ini, mengantuk. Belakangan, pemeriksaan sejumlah saksi mengindikasikan terjadi sebuah insiden di kokpit bus sebagai pangkal kecelakaan maut tersebut.
Bus yang mengalami kecelakaan di Tol Cipali. Foto: Dok. Istimewa
Berdasarkan keterangan saksi, menurut Kapolres Majalengka AKBP Mariyono, seorang penumpang tiba-tiba merangsek ke arah Roni Mar Tampubolon, yang sedang mengemudikan bus. Ia berusaha merampas ponsel dari tangan Roni. Dari penuturan sepasang suami-istri yang duduk tepat di belakang kursi kemudi, Winda dan Agus, Roni mengemudi sembari berbicara di telepon sejak di Subang, Jawa Barat.
ADVERTISEMENT
Kaget mendapat serangan mendadak, tangan Roni yang memegang setir bus goyah. Akibatnya, kendaraan berpenumpang 51 orang itu melaju tak terkendali. Bus Safari semula berada di jalur A, arah Jakarta menuju Cirebon.
"Kendaraan ini oleng ke kanan sehingga melintas di Jalur B (arah Cirebon ke Jakarta) dengan kecepatan tinggi," Mariyono menuturkan.
Hasil olah TKP, menurut Kasatlantas Lantas Polres Majalengka, AKP Atik Suswanti, kecepatan bus saat itu diperkirakan 100 km/jam. Bus sempat melibas parit pemisah antarlajur, lalu terlempar ke lajur arah berlawanan.
Di jalan itu terdapat Innova hitam yang melaju ke arah Jakarta. Tabrakan tak terhindarkan. Bus menghantam sisi kiri Innova. Sebuah truk pengangkut ayam di belakang Innova banting setir untuk menghindari tabrakan dengan bus yang masih melaju.
ADVERTISEMENT
Nahasnya, bus terus bergerak ke lajur lambat di jalur B lalu menabrak dan menindih mobil Xpander merah. Bus baru berhenti 100 meter dari titiknya keluar dari lajur A. "Kurang lebih di 150 +900 sampai ke 151," kata Atik.
Mobil Toyota Kijang Innova yang hancur akibat kecelakaan di Tol Cipali Km 150, Senin (17/6). Foto: Dok. Nurcholis Basyari
Seluruh penumpang Xpander yang berjumlah enam orang tewas. Sementara ada tiga orang yang menjadi korban meninggal di mobil Innova. Adapun tiga penumpang bus, termasuk sopir, juga tewas.
Insiden di kokpit bus diduga penyebab tunggal kecelakaan nahas itu. Dari segi teknis, tak ada kendala teknis bus yang bisa memicu kecelakaan.
"Olah TKP pemeriksaan kendaraan (bus) koordinasi dengan Dinas Perhubungan dan kendaraan semuanya masih layak pakai," ungkap Mariyono.
Kondisi mobil Mitsubishi Xpander yang ringsek ditimpa bus Safari saat kecelakaan di Tol Cipali Km 150, Senin (17/6) dinihari. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
Identitas si penyerang sopir terkuak setelah polisi menunjukkan foto seorang korban selamat kecelakaan kepada saksi yang menyaksikan percekcokan. Polisi mengidentifikasinya sebagai Amsor (29), warga Cirebon yang bekerja sebagai sekuriti di salah satu gedung di Jakarta Selatan.
ADVERTISEMENT
"Kedua saksi mengiyakan, benar bahwa yang bersangkutan adalah orang yang menerkam sopir dari arah belakang," kata Kabid Humas Polda Jawa Barat, Kombes Pol Trunoyudo Wisnu Andiko.
Kondisi di dalam bus yang mengalami kecelakaan beruntun di KM 150 Tol Cipali. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
Alasan Amsor merebut ponsel sopir Bus Safari masih simpang siur. Ia belum bisa diperiksa penyidik. Mariyono mengatakan, kondisi kesehatan Amsor masih mengkhawatirkan. Ia mengalami pendarahan paru-paru akibat benturan saat tabrakan.
"Kemarin kita coba untuk berdialog dia langsung muntah muntah," kata Mariyono. "Tapi memang kondisi tatapannya kosong," ia menambahkan.
Polisi belum bisa memastikan kondisi kejiwaan Amsor. Mariyono menegaskan, Amsor tak terpengaruh narkotika saat kejadian. Hasil tes urinenya negatif zat terlarang. Polisi akan menunggu kondisi kesehatan Amsor pulih sebelum melakukan pemeriksaan lanjutan.
Amsor masih terbaring di ruang High Care Unit di lantai 3 RS Mitra Plumbon. Saat ditemui kumparan, Selasa (18/6) lalu, ia belum bisa banyak bergerak. Selang penyuplai oksigen, masih terpasang di hidungnya.
Kapolda Jawa Barat Irjen Rudy Sufahriadi menjenguk Amsor, tersangka penyerangan sopir bus Safari, di RS Mitra Plumbon Cirebon, Senin (17/6/2019). Foto: (Dok Istimewa)
Amsor hanya sesekali berbicara lirih. Ia menjelaskan sedikit soal insiden di dalam bus Safari sebelum kecelakaan. Amsor mengatakan tak berniat mengambil alih kemudi bus. Ia sendiri tak bisa mengemudikan mobil. Ia hanya meminta turun dari bus kepada sopir. "Pengin keluar," katanya.
ADVERTISEMENT
Sopir tak mengizinkan Amsor turun. Saat itu, Amsor mengaku mendengar sopir bus berbicara dengan orang di ujung telepon, ingin membunuhnya. "Pateni...pateni (bunuh...bunuh)," ia menirukan suara yang didengarnya. Itulah alasannya merebut ponsel dari sopir.
Amsor merasa dibayangi orang yang ingin mencelakainya bahkan sebelum naik Bus Safari untuk pulang ke Cirebon. Menurutnya, semua bermula ketika beberapa pria menggedor pintu kosnya, Sabtu (15/6) malam. Mereka mengancam Amsor.
Setelah itu, menurut ibu Amsor, Maesaroh, anaknya ketakutan dan memutuskan pulang. “Orangnya (yang mengancam) enggak tahu siapa,” ia berujar. Sementara Amsor menduga ada rekan kerja yang tak suka dengan dirinya.
Amsor bekerja sebagai sekuriti di Jakarta Selatan. Di sana, Amsor baru bekerja tiga bulan. Sebelumnya, ia pernah menjadi petugas keamanan di RS Ciremai, Cirebon.
ADVERTISEMENT
kumparan mewawancarai sejumlah sekuriti di Tower 8 Gandaria, lokasi yang disebut-sebut tempat Amsor bekerja. Tak satu pun yang mengenal Amsor. Adapun Kepala Komando Sekuriti Gandaria Tower 8, Farolan, menolak berkomentar.
Maesaroh, ibu Amsor, mengatakan anaknya tak punya masalah pribadi. Amsor diakuinya baru bercerai di usia pernikahan yang baru satu tahun. Tetapi, ia meyakini hal itu tak berkaitan dengan insiden kecelakaan yang melibatkan putranya. Selebihnya, putranya dikenal punya pribadi yang baik.
Seperti dilansir ciremaitoday, ketua RT lingkungan Amsor tinggal, Rusbandi (36), juga memberikan testimoni serupa. Selama ini, menurutnya, Amsor tidak menunjukkan gelagat yang aneh. "Kepribadiannya biasa saja, tidak ada yang aneh-aneh," ungkapnya.
Polisi menetapkan Amsor sebagai tersangka kecelakaan di KM 150 Tol Cipali. Ia disangkakan pasal 359 KUHP tentang kelalaian yang menyebabkan kematian orang lain. Sopir Bus Safari, Roni Mar Tampubolon, juga menjadi tersangka karena mengemudikan kendaraan sambil menggunakan ponsel.
ADVERTISEMENT
"Tapi karena meninggal dunia kita SP3 (hentikan penyidikan), kan lalai mengemudi kendaraan karena indikasinya dia menggunakan HP," papar Mariyono.
Kondisi bus yang mengalami kecelakaan beruntun di KM 150 Tol Cipali. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
Buntut kecelakaan maut di Tol Cipali KM 150, Komite Nasional Keselamatan Transportasi merekomendasikan Kementerian Perhubungan meningkatkan sistem keamanan bus. Standarnya merujuk pada kereta dan pesawat.
"Dengan adanya kabin khusus sopir bus, bisa menghindari hal-hal yang kemungkinan bisa mengganggu keamanan sopir yang bisa berdampak fatal seperti yang terjadi dalam insiden kecelakaan maut beruntun di Cipali," kata investigator KNKT, Achmad Wildan, Selasa (18/6) seperti dikutip dari ciremaitoday.
Simak ulasan lainnya tentang kecelakaan tol Cipali dengan ikuti topik Kecelakaan Maut Tol Cipali
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·