Pencarian populer

Marty Natalegawa Usai Tidak Jadi Menlu: Saya Sibuk Nonton Liverpool

Mantan Menlu RI Marty Natalegawa dalam peluncuran bukunya, Kamis (30/8). (Foto: Denny Armandhanu/kumparan)

Marty Natalegawa dikenal sebagai salah satu diplomat top negara ini, pernah menjabat sebagai menteri luar negeri dan berbagai posisi penting di Kementerian Luar Negeri. Usai tidak lagi menempati posisi di pemerintahan, apa kesibukan Marty saat ini?

"Saya sibuk nonton bola Liverpool," kata Marty berseloroh saat ditemui pada acara peluncuran bukunya "Does ASEAN Matter? A View from Within" di kantor CSIS, Jakarta, Kamis (30/8).

"Jadi jangan ganggu saya Sabtu dan Minggu, saya konsentrasi penuh nonton bola," lanjut dia lagi.

Menempuh pendidikan dari SMP hingga master di Inggris, ditambah pernah menjabat Duta Besar Inggris untuk Indonesia pada 2005, Marty terpincut dengan tim sepakbola asal negeri Ratu Elizabeth itu, Liverpool.

Setiap kali ada pemain Liverpool menyambangi Indonesia, Marty menyempatkan diri untuk hadir. Setiap pertandingannya juga sebisa mungkin tidak absen ditonton.

Namun kesibukan diplomat berusia 55 tahun setelah tidak lagi menjabat Menlu tidak hanya nonton bola. Beberapa posisi penting di organisasi internasional hingga lembaga pemikir diisi Menlu periode 2009 hingga 2014 ini.

Mantan Menlu RI Marty Natalegawa dalam peluncuran bukunya, Kamis (30/8). (Foto: Denny Armandhanu/kumparan)

Selepas posisi Menlu, Marty para 2015 ditunjuk menjadi anggota Panel Tingkat-Tinggi untuk Respons Global Krisis Kesehatan. Menurut situs PBB, saat ini Marty juga merupakan Anggota Dewan Kepercayaan di organisasi nirlaba International Crisis Group dan peneliti di lembaga thinktank Asia Policy Institute.

Di PBB, saat ini Marty menjabat sebagai Dewan Penasihat Tingkat Tinggi untuk Mediasi Sekretaris Jenderal. Dewan ini beranggotakan 18 orang, terdiri dari mantan pemimpin negara seperti Michelle Bachelet dari Chile atau Ramos Horta dari Timor Leste, hingga diplomat, dan para peraih Nobel Perdamaian.

Tugas Marty di dewan ini adalah menjadi penasihat bagi Sekretaris Jenderal PBB António Guterres dalam hal upaya mediasi perdamaian di seluruh dunia.

"Salah satu persyaratan dalam kegiatan itu semua sifatnya informal dan tertutup," kata Marty.

"Memberikan nasihat kepada Sekjen mengenai masalah mediasi, sekarang khusus perkembangan di kawasan, perkembangan yang positif," lanjut dia.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.60