kumparan
4 Feb 2019 13:30 WIB

Ma'ruf: Dulu Orang NU Sering Kehilangan Sandal, Kini Kehilangan Masjid

Cawapres 01 KH Ma'ruf Amin di Pondok pesantren Al Itqon Bugen, Semarang. Foto: Afiati Tsalitsati/kumparan
Cawapres nomor urut 01 Ma'ruf Amin bersilaturahmi dengan kalangan ulama NU dan Pengasuh Pondok Pesantren Bugen Al-Itqon Semarang, Jawa Tengah, Senin (4/2). Dalam kesempatan itu, Ma'ruf mengingatkan kembali pentingnya peran ulama dalam kehidupan sehari-hari.
ADVERTISEMENT
Ma'ruf menilai, munculnya paham keagamaan yang ada akhir-akhir bukan lagi soal bagaimana cara mengantisipasi melainkan tengah berada dalam posisi menghadapinya. Maka itu, dibutuhkan kembali ajaran ahlusunnah wal jamaah kembali ke tempat-tempat ibadah seperti masjid.
"Dulu kita orang NU sering kehilangan sandal di masjid, belakangan kehilangan masjid, tinggal sandalnya (yang tidak hilang). Ini problem-problem yang kita hadapi, maka harus ada langkah-langkah antisipasi," kata Ma'ruf di lokasi, Senin (4/2).
Ma'ruf Amin (ketiga kiri) berkunjung ke Pesantren Bugen Al-Itqon, Semarang, Jawa Tengah, Senin (4/2). Foto: Dok. Tim Jokowi-Ma'ruf
Ma'ruf menilai, pesantren dan organisasi NU mempunyai peran dan tanggung jawab tak hanya soal keagamaan, tapi tanggung jawab kebangsaan dan kenegaraan.
Saat ini muncul paham-paham keagamaan yang berkembang di Indonesia yang tidak sejalan dengan nilai-nilai keagamaan yang selama ini dianut di Indonesia seperti ahlusunnah wal jamaah. Peran inilah yang harus dimaksimalkan oleh para ulama NU.
Cawapres 01 KH Ma'ruf Amin dan Pengasuh Ponpes Al Itqon Bugen, Semarang KH Harits Shodaqoh (kedua dari kiri). Foto: Afiati Tsalitsati/kumparan
ADVERTISEMENT
"Maka itu para ulama di dalam mengembangkan kenegaraan karena NU sebagai jamiyah dinniyah islamiyah sesuai dengan bidang keagamaan Islam bagaimana membangun Islam yang damai," tambah dia.
Untuk itu, Ma'ruf menganggap perlu ada peningkatan peran para ulama dan kalangan pesantren untuk meluruskan segala paham yang tidak sejalan dengan nilai-nilai keagamaan yang selama ini dianut di Indonesia.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan