kumparan
16 Sep 2019 6:31 WIB

Melihat Kedekatan Xanana dengan BJ Habibie

Suasana pertemuan Xanana Gusmao dengan keluarga Bj Habibie di Patra Kuningan, Jakarta Sabtu (14/9/2019). Foto: Nugroho Sejati/kumparan
Bulan Agustus 2019, mantan Presiden Timor Leste José Alexandre 'Xanana' Gusmao langsung membatalkan sejumlah agenda begitu mendengar sahabatnya, Presiden ke-3 RI BJ Habibie jatuh sakit. Padahal, Xanana awalnya hendak mengundang Habibie untuk hadir di peringatan 20 tahun referendum Timor Leste.
ADVERTISEMENT
Tidak bisa dipungkiri, peran Habibie memang cukup besar bagi Timor Leste saat itu. Di tahun 1999, saat Habibie menjabat sebagai kepala negara, ia memberikan pilihan bagi Timor Leste --yang bergabung dengan Indonesia sejak 1975--, tetap berada dalam pemerintahan Indonesia namun dengan aturan khusus atau lepas.
Saat itu, 30 Agustus 1999, Timor Leste memilih untuk berpisah dari Indonesia. Timor Leste akhirnya merdeka setelah sebelumnya juga sempat dijajah Portugis selama ratusan tahun.
Dua tahun berselang, Xanana yang dulunya merupakan salah satu bekas tahanan politik Orde Baru yang dibebaskan Habibie maju di pemilihan presiden pertama negara itu. Ia pun menang dan menjadi menjabat selama enam tahun.
Tak heran, hubungan Habibie dengan Xanana maupun masyarakat Timor Leste begitu erat. Tanpa berpikir panjang, Xanana langsung lepas landas menjenguk Habibie yang terbaring sakit.
Penaburan Bunga di Makam BJ Habibie oleh Xanana Guasmo di TMP Kalibata. Foto: Ferry Fadhlurrahman/kumparan
“Saya percaya terkadang faktanya lebih banyak menjelaskan dibandingkan kata-kata. Saya yakin saya tidak perlu menjelaskan yang terjadi,” ujar Xanana di TMP Kalibata, Jakarta Selatan, Minggu (15/9).
ADVERTISEMENT
“Kalau kamu pikir (video) itu adalah hubungan yang kuat dan dalam antara saya dan Pak Habibie. Memang itu,” ujarnya.
Xanana juga mengenang peranan Habibie dalam kemerdekaan Timor Leste pada 1999. Habibie telah menjadi sosok yang berjasa dalam kemerdekaan negaranya.
"Karena sudah 24 tahun menderita dengan banyaknya negara western bicara HAM, Pak Habibie dalam waktu yang singkat dan sulit, ambil satu keputusan yang memberikan rakyat Timor Leste hak untuk self determination," tutur Xanana.
"Oleh karena itu kami tidak akan melupakan beliau," lanjutnya.
Namun sayang, rupanya pertemuan Xanana dengan Habibie pada Agustus lalu merupakan pertemuan terakhir. Pada 11 September, Habibie wafat setelah dirawat di RSPAD Gatot Subroto selama sepekan.
Xanana yang baru tahu kabar itu di malam hari terpaksa tidak bisa mengantarkan sahabatnya ke peristirahatan terakhir. Ia baru bisa berziarah setelah Habibie dimakamkan.
ADVERTISEMENT
Ia tak datang sendiri. Xanana tampak ditemani Duta Besar Timor Leste untuk Indonesia, Alberto XP Carlos, dan sekitar 70 mahasiswa Timor Leste yang berada di Indonesia. Kehadiran para mahasiswa ini juga menjadi bukti betapa besar peran Habibie dalam memerdekakan Timor Leste.

“Sekarang karena sudah merdeka, ada adik-adik yang sekarang ini belajar di Indonesia, harus juga menyampaikan rasa kehormatan kepada beliau (Habibie),” ujar Xanana.
“Karena dari situ, 20 tahun yang lalu, mereka bisa menikmati sekarang, kebebasan dan bisa juga ikuti langkah-langkah dari yang sudah tua,” tambahnya.
Xanana Gusmao (kiri) berbincang dengan anak BJ Habibie Thareq Kemal Habibie (kanan) di Patra Kuningan, Jakarta, Sabtu (14/9/2019). Foto: Nugroho Sejati/kumparan
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan