kumparan
6 Nov 2018 12:28 WIB

Memahami Pemilu Paruh Waktu AS, Penentu Nasib Donald Trump

Presiden Donald Trump kampanye di AS (Foto: REUTERS/Carlos Barria )
Presiden Donald Trump dalam beberapa bulan terakhir gencar kampanye mendukung calon Partai Republik dalam pemilu paruh waktu (midterm election). Betapa tidak, nasib Trump dalam sisa dua tahun kepemimpinannya akan ditentukan oleh pemilu Kongres ini.
ADVERTISEMENT
Diberitakan AFP, pada Senin (5/11) Trump maraton kampanye di tiga negara bagian, yaitu di kota Cleveland, Ohio; Fort Wayne, Indiana; dan Cape Girardeau, Missouri. Ini adalah upaya terakhir Trump menggaet suara untuk Republik dan mengalahkan Partai Demokrat sebelum pemilu paruh waktu digelar pada Selasa, 6 November 2018.
Membanggakan perkembangan ekonomi di pemerintahannya, Trump mengatakan kepada pendukungnya bahwa kemajuan ini akan terus terjadi jika Republik masih menguasai Kongres.
Namun pemerintahan Trump tidak melulu mengurusi ekonomi, dia ramai dikecam soal peraturan imigrasi, isu rasialisme, dan kebijakan luar negeri yang pro-Israel. Diperkirakan isu-isu ini yang akan mendongkel Republik dari kursi mayoritas Kongres.
Kampanye pemilu paruh waktu AS (Foto: REUTERS/Aaron Josefczyk)
Apa itu pemilu paruh waktu AS?
Pemilu paruh waktu adalah pemilihan anggota Kongres AS, terdiri dari Dewan Perwakilan dan Senat, yang dimulai pada Selasa (6/11). Kongres bertugas merancang undang-undang, mewakili kepentingan konstituen, hingga menyetujui anggaran pemerintah.
ADVERTISEMENT
Pada pemilu paruh waktu, rakyat AS memilih seluruh 435 anggota Dewan Perwakilan dan 35 dari 100 anggota Senat. Akan dipilih juga 36 gubernur negara bagian dalam pemilu kali ini.
Pemilihan anggota Dewan Perwakilan dilakukan setiap dua tahun sekali di AS. Saat ini Republik memiliki kursi mayoritas di Dewan Perwakilan dengan 235 anggota, sementara Demokrat 193. Untuk menjadi mayoritas, Demokrat harus menambah jumlah kursi mereka 23 lagi.
Dewan Perwakilan adalah politisi partai yang mewakili negara bagian mereka. Jumlah perwakilan tergantung dari besaran populasi negara bagian. California, misalnya, adalah negara bagian paling padat di AS sehingga mendapatkan 53 kursi di Kongres. Ada tujuh negara bagian yang hanya punya 1 wakil karena populasi sedikit.
ADVERTISEMENT
Sementara pemilihan Senat digelar enam tahun sekali. Saat ini Senat dikuasai 51 anggota Partai Republik dan 49 Demokrat. Partai Demokrat butuh tambahan dua kursi Senat lagi untuk menjadi mayoritas.
Papan kampanye di pemilu AS (Foto: REUTERS/Terray Sylvester)
Siapa yang akan menang?
Dalam catatan sejarah pemilu paruh waktu AS, partai Presiden selalu kalah. Hal ini terjadi akibat kebijakan presiden yang mendapatkan penentangan dari banyak pihak.
Dari 21 pemilu paruh waktu yang pernah digelar negara itu sejak 1934, partai Presiden hanya pernah menang di Dewan Perwakilan tiga kali dan Senat lima kali.
Popularitas Trump yang menurun diperkirakan akan membuat suara Republik anjlok. Menurut survei situs politik FiveThirtyEight, peluang Demokrat menguasai Kongres sangat besar.
FiveThirtyEight mencatat dalam survei, peluang Demokrat jadi mayoritas di Dewan Perwakilan adalah 7 dari 8. Sementara Republik hanya 1 dari 8.
ADVERTISEMENT
Sebaliknya Demokrat akan terpuruk untuk perebutan kursi Kongres. FiveThirtyEight mencatat peluang Demokrat hanya 1 dari 5, sementara Republik 4 dari 5.
Kampanye pemilu paruh waktu AS (Foto: REUTERS/Carlos Barria )
Apa artinya bagi Trump?
Jika Republik kembali menguasai Kongres, Trump boleh berlega hati. Berbagai kebijakan Trump akan melenggang mulus tanpa kendala dengan persetujuan suara mayoritas. Para hakim dan menteri yang Trump pilih juga akan menjabat tanpa penolakan.
Namun jika hasil survei terbukti dan Demokrat jadi mayoritas, Trump akan waswas selama dua tahun sisa kepemimpinannya.
Jika Demokrat jadi mayoritas, mereka bisa menjegal berbagai rancangan undang-undang yang diajukan Trump. Selain itu, Demokrat bisa mendorong Kongres untuk menggencarkan penyelidikan atas berbagai tuduhan maladministrasi pemerintahan Trump.
Di antara yang akan membuat Trump waswas adalah tuduhan kolusi dengan Rusia, kepentingan bisnis Trump di pemerintahan, penggelapan pajak, hingga tudingan kekerasan seksual.
ADVERTISEMENT
Media Huffington Post mencatat, ada 52 penyelidikan terhadap Trump yang akan dilakukan Demokrat jika mereka jadi mayoritas di Kongres. Selama ini seruan penyelidikan itu selalu terbentur pintu Republik.
Presiden AS Donald Trump (Foto: Reuters/Carlos Barria)
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan