kumparan
7 Apr 2018 17:02 WIB

Mencari Asal Usul Dolar di Tumpukan Sampah di Kampung Parung Dengdek

Banyaknya dolar yang tercecer di Kampung Parung Dengdek, Desa Wanaherang, Bogor, ternyata menjadi sumber penghasilan bagi warga sekitar. Dolar tersebut terselip di antara sampah yang dibuang pabrik Aspex Kumbong yang berada di dekat kawasan tersebut.
ADVERTISEMENT
Meski banyak uang diambil, warga di daerah tersebut tak mengetahui mengapa ada banyak uang di antara tumpukan sampah tersebut.
Arman Maulana (19), remaja Kampung Parung Dengdek sudah sejak usia SD memburu dolar di tumpukan sampah, tapi ia tak pernah tahu kenapa bisa sampai ada dolar di situ.
"Enggak tahu, dari atasnya juga enggak ketahuan kalau duit kayak gituannya," ungkap Arman kepada kumparan (kumparan.com), Kamis (6/4).
Pulang dari mencari limbah dan uang. (Foto: Retno Wulandhari H/kumparan)
Arman mengaku pernah menemukan uang 50 euro. Ketika ditukarkan, uang Arman tersebut dihargai sekitar Rp 500 ribuan.
Senada dengan Arman, Muslihat, pria paruh baya di kawasan tersebut juga tak mengetahui apa motif perusahaan. Yang Syafei tahu, setiap harinya ada sampah pabrik yang dibuang ke situ dan terselip lembaran-lembaran dolar yang bisa ia kais.
ADVERTISEMENT
Ia tak peduli dari mana uang itu berasal. Satu hal yang ia yakini, dolar itu adalah bagian rezekinya.
"Iya kalau ada ambil saja itu rezeki kita," ujar Muslihat.
Uang asing dari TPS Kampung Parung Dengdek. (Foto: Retno Wulandhari H/kumparan)
Tak hanya Arman dan Muslihat, beberapa warga yang ditemui kumparan lainnya juga mengatakan hal serupa. Mereka tak tahu pasti alasan pabrik membuang lembaran dolar bersama sampah.
Dolar yang mereka dapat kemudian dijual kepada para bandar yang banyak berada di sekitar tumpukan sampah. Setelah itu, para bandar menunggu orang dari luar kota untuk membeli uang yang mereka kumpulkan.
"Entar ada yang ngambil lagi, bosnya. Dari Cibubur ada, jauh-jauh, ada yang dari Priuk juga," sebut Syafei, salah satu bandar yang juga aktif berburu dolar.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan