Pencarian populer

Mendesak, Butuh 2.000 Tenda untuk Pengungsi di Sulteng

Warga melintasi jalan yang hancur di wilayah Balaroa akibat gempa bumi, Palu, Sulawesi Tengah. (Foto: Jamal Ramadhan/kumparan)

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) membutuhkan 2.000-an tenda berkapasitas 40 orang per tenda untuk memenuhi kebutuhan para pengungsi korban bencana gempa bumi Palu, Donggala, dan Sigi pada Jumat (28/9).

"Tenda adalah kebutuhan yang paling mendesak saat ini selain bahan makanan," kata Kepala BNPB Willem Rampangilei kepada wartawan di Posko Satgas Penanggulangan Gempa Bumi di Palu, Selasa (2/10), dikutip dari Antara.

Suasana Kota Palu saat malam hari. (Foto: Mirsan/kumparan)

Ia menjelaskan saat ini ada 60.000-an pengungsi yang tersebar di hampir 120 titik di dalam Kota Palu, Kabupaten Sigi, dan Donggala yang tidak memiliki tempat berteduh, padahal lembah Palu daerah yang suhu udaranya panas saat siang hari.

Menurut Willem, tidak mungkin mengadakan kebutuhan tenda dalam waktu dekat dengan mengandalkan sumber dalam negeri sehingga kemungkinan pengadaannya membutuhkan bantuan internasional.

"Karena kebutuhan tenda ini amat sangat mendesak, maka saya pikir ini adalah salah satu kebutuhan yang bisa dimintakan bantuan internasional," katanya.

Gerak Cepat Kementerian PUPR Bantu Gempa Sulawesi Tengah. (Foto: Dok. Kementerian PUPR)

Ia mengakui bahwa pelayanan kebutuhan tenda dan bahan makanan untuk pengungsi dalam skala terbatas baru dimulai pada Selasa ini karena sumber daya-sumber daya tersebut baru mulai berdatangan ke Kota Palu.

"Kita membutuhkan bahan makan terutama beras untuk para korban. Saya sudah lihat para korban di Kabupaten Donggala dan Kabupaten Sigi, mereka sangat membutuhkan beras," ujarnya.

Di Kabupaten Sigi, misalnya, ada empat kecamatan yang sampai saat ini masih terisolasi, yakni Pipikoro, Lindu, Kulawi, dan Kulawi Selatan sehingga belum tersentuh bantuan logistik apapun.

"Saya mengakui bahwa pelayanan kepada para korban gempa ini masih sangat minim karena kebutuhan sangat tidak berimbang dengan sumber daya yang tersedia," ujarnya.

Kondisi Perumnas Balaroa "Lenyap" Usai gempa Palu. (Foto: Jamal Ramadhan/kumparan)

Hal yang sama terjadi pada usaha pencarian korban di mana masih banyak titik bencana yang belum bisa disentuh untuk mencari para korban karena keterbatasan peralatan dan personel.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.57