Pencarian populer

Mengenal Gurkha, Tentara Nepal yang Tidak Punya Urat Takut

Pasukan Tentara Gurkha di Inggris (Foto: Niklas Halle'n/AFP)

Pertemuan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, dan Pemimpin Tertinggi Korea Utara, Kim Jong-un, akan segera dihelat di Singapura pada Selasa (12/6) mendatang. Pengamanan ketat pun disiapkan, dan tak ada yang lebih tepat selain mengutus Tentara Gurkha untuk melakukan itu.

Jauh sebelum bergabung dengan aparat keamanan Singapura, Gurkha atau Gorkhali adalah pasukan tentara Nepal yang berperang melawan Kongsi Dagang Hindia Timur Britania (East India Company) pada 1814. Perang tersebut lalu berakhir dengan Perjanjian Sugauli pada 1816.

Walau perang telah usai, namun pihak Inggris masih terkagum-kagum akan keberanian dan kehebatan Gurkha. Lantas, mereka memutuskan untuk menyewa Gurkha sebagai pasukan lepas.

Tak tanggung-tanggung, sekitar 5.000 prajurit masuk pasukan militer Inggris. Tak hanya laki-laki Gurkha, tapi ada juga yang berasal dari Kumaonis, Garhwalis dan penduduk pegunungan Himalaya lainnya. Mereka disatukan di bawah nama Gurkha, dan menjadi tulang punggung pasukan Inggris di India.

Pasukan Tentara Gurkha dengan Pangeran Charles (Foto: Alastair Grant/AFP)

Pemerintah Inggris memakai jasa Tentara Gurkha dalam Perang Pindaree pada 1817, Bharatpur pada 1826, dan Perang Anglo-Sikh I dan II pada 1846 dan 1848. Gurkha juga dikerahkan dan bergabung dengan militer Inggris dalam pemberontakan India di 1857.

Rupanya, keterlibatan Tentara Gurkha tak berhenti sampai di situ. Dalam Perang Dunia I (1914-1918), lebih dari 200 ribu Tentara Gurkha turun ke medan perang untuk membantu militer Inggris.

Begitu pula dalam Perang Dunia II (1939-1945). Jumlah Tentara Gurkha berlipat hingga 250.280 prajurit yang terdiri dari 40 batalion. Mereka juga bertempur di Suriah, Afrika Utara, Italia, Yunani, Jepang, hingga Indonesia.

Di Indonesia, Gurkha yang tergabung dalam militer Inggris terlibat dalam Konfrontasi Indonesia-Malaysia pada 1963. Kala itu, Federasi Malaya ingin menggabungkan Brunei, Sabah, dan Sarawak. Rencana ini ditentang oleh Sukarno.

Sementara Tentara Nasional Kalimantan Utara (TNKU) memberontak dan mencoba menangkap Sultan Brunei. Sultan yang lolos meminta pertolongan Inggris yang kemudian mengutus Gurkha.

Tak Punya Urat Takut

Gurkha disebut-sebut sebagai salah satu tentara paling berbahaya di dunia. Berbahaya, lantaran Gurkha tidak memiliki rasa takut. Moto mereka: "Lebih baik mati ketimbang jadi pengecut."

Mantan panglima militer India, Sam Manekshaw, dalam sebuah kutipannya yang terkenal pada 1970-an, mengatakan: "Jika seorang pria mengatakan dia tidak takut mati, berarti dia berbohong atau dia seorang Gurkha."

Salah satu peristiwa yang menggambarkan betapa Gurkha tak kenal takut terjadi pada 1945. Ketika itu seorang Gurkha Lachhiman Gurung, terjebak dalam parit bersama dua tentara yang terluka ketika mereka ditembaki oleh sekitar 200 orang tentara Jepang.

Gurkha pengaman Kim Jong-un dan Donald Trump. (Foto: REUTERS/Edgar Su)

Tentara Jepang melempari parit itu dengan tiga granat. Dengan cepat Gurung melempar kembali granat-granat tersebut. Namun granat terakhir meledak di tangannya, hancur. Tidak patah arang, Gurung masih menyerang, menembak dengan satu tangan, menewaskan 31 tentara Jepang.

Sebanyak 43 ribu tentara Gurkha tewas dalam Perang Dunia I dan II. Akibat keberanian mereka, 26 Victoria Crosses, medali keberanian tertinggi, telah diberikan oleh Inggris.

Kukri

Selain tinggi besar, salah satu ciri khas tentara Gurkha adalah senjatanya, kukri. Bentuknya mirip parang dan memiliki ujung yang melengkung, cocok digunakan membabat musuh.

Sebenarnya kukri tak hanya digunakan oleh prajurit Gurkha, karena di negeri asalnya, Nepal, senjata tajam ini digunakan sebagai pisau serbaguna bagi penduduk setempat. Kukri juga digunakan dalam berbagai kegiatan tradisi ritual seperti upacara pernikahan.

Prajurit Gurkha Memegang Kukri (Foto: STR/AFP)

Tiap prajurit Gurkha memiliki dua Kukri, yang satu untuk berperang sedangkan satunya lagi untuk upacara. Sekali kukri dihunuskan maka pisau itu harus merasakan darah. Jika tidak, maka pemegangnya harus menorehkan darahnya sendiri sebelum kukri disarungkan.

Terdengar seperti mitos memang, tapi ini dibuktikan dalam keterlibatan Gurkha dalam perang di Afghanistan melawan Taliban pada 2011. Untuk membuktikan telah membunuh musuh, Gurkha memotong bagian tubuh orang itu dengan kukrinya untuk dibawa ke markas untuk dilakukan tes DNA...biasanya yang dipotong bagian kepala.

Gurkha di Singapura

Seiring banyaknya pengakuan atas kehebatan Tentara Gurkha, salah satu negara di Asia Tenggara yakni Singapura turut meliriknya. Pada 9 April 1949 Kepolisian Singapura membentuk Kontingen Gurkha --semacam Brimob di Indonesia-- yang terdiri dari bekas prajurit Inggris.

Namun, ada juga yang direkrut sejak usia 18 atau 19 tahun. Sedangkan rata-rata usia pensiun bagi prajurit Gurkha yakni 45 tahun.

"Mereka tangguh, waspada, dan kuat. Dapat beroperasi di seluruh spektrum operasi paramiliter untuk membantu menjaga Singapura," tulis Kepolisian Singapura dalam laman resminya.

Gurkha pengaman Kim Jong-un dan Donald Trump. (Foto: REUTERS/Edgar Su)

Meski disanjung sebagai pasukan istimewa, kehidupan prajurit Gurkha di Singapura dibatasi. Mereka hidup di Kamp Mount Vernon di luar pusat kota dan tak sembarang orang bisa masuk ke sana.

"Kami punya jam malam pukul 00.00, tapi bagi perempuan kami bisa tetap beraktivitas lewat jam malam bila punya alasan yang kuat. Bagi laki-laki tidak seperti itu," ujar seorang perempuan yang menikah dengan prajurit Gurkha.

Ia juga menceritakan salah satu aturan di sana yakni tidak diperbolehkan adanya kegiatan di atas pukul 22.30.

"Ini artinya tidak boleh ada musik atau apapun juga. Bahkan bila kita mengadakan pesta, kita harus menghentikannya. Bila tidak, akan ada semacam penegakan oleh petugas patroli," lanjutnya.

Tak hanya itu, prajurit Gurkha juga tak diperbolehkan untuk menikahi perempuan lokal. Namun mereka boleh menyekolahkan anaknya di sekolah negeri.

Tentara Gurkha dengan Lambang Kukri (Foto: Justin Tallis/AFP)

Suatu waktu, Mantan Perdana Menteri Singapura, Lee Kuan Yew, pernah mengungkapkan kekagumannya kepada prajurit Gurkha. "Gurkha netral, disiplin, dan setia," ucap dia dalam buku bertajuk The Singapore Story: Memoirs of Lee Kuan Yew (1998).

Meski dikenal tangguh dan tak kenal ampun, E.D Smith dalam Britain's Brigade of Gurkhas (1985) menyebut prajurit Gurkha adalah orang yang ramah.

"Gurkha memperoleh pujian tinggi karena ketenangan, efisiensi, dan pembawaan yang bersahabat," tulis dia.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.53