Pencarian populer

Menjenguk Meta, Gadis Periang yang Kini Berbalut Kulit di Mojokerto

Pordan Hariono, ayah Meta. Foto: Yuana Fatwalloh/kumparan

Suara mesin jahit terdengar nyaring dari sebuah rumah di ujung jalan di Desa Kupang, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur pada Senin (11/2) pagi. Dari rumah itu, tampak seorang laki-laki paruh baya sedang menjahit beberapa tas di teras rumahnya.

Pria itu adalah Pordan Hariono, ayah Meta, gadis periang yang kini hanya berbalut kulit. Kisah Meta sedang dibicarakan khalayak. Pordan menyesali anaknya itu menjadi konsumsi publik.

"Jangan difoto ya, Mbak," kata Pordan meminta kumparan untuk tidak memfoto anaknya, saat mengunjungi Meta, Senin (11/2).

Tubuh Meta kurus tak wajar, matanya cekung dan tatapannya kosong. Pordan mengatakan penyebab anaknya memiliki badan kurus berbalut kulit adalah depresi. Dia mengisahkan Meta depresi sejak 10 tahun yang lalu.

Saat itu, kata Pordan, Meta masih duduk di kelas 1 sekolah menengah pertama (SMP). Pordan tidak mengetahui detail penyebab depresi anaknya.

"Awalnya depresi udah lama kan 10 tahun, sudah kontrol tiap bulan, tambah lama emosinya terkendali bagus. Cuman (berat) badannya merosot terus, kondisinya (badan) tambah turun-tambah turun," ujar Pordan.

Pordan mengungkapkan telah membawa anaknya itu ke pusat kesehatan masyarakat, rumah sakit umum, hingga rumah sakit jiwa. Semua dokter di tiga fasilitas kesehatan itu, kata Pordan, tidak tahu penyebab tubuh Meta begitu kurus dan ceking.

"Dokter ngecek enggak ada masalah, ngecek ke sini (rumah), kotorannya, air kencing juga enggak ada masalah," kata dia.

Menurut Pordan, anaknya itu tak hanya memiliki masalah dengan berat badan. Belakangan ini, kata dia, Meta mengalami sakit di tulang belakang. Akibatnya, Meta sukar berbicara.

Kondisi Meta. Foto: Dok pribadi/Titis Mega Ningtias

"Tulang belakangnya enggak bisa nahan (buat duduk). Tulang belakang ini bermasalah enggak tahu lah. Anaknya, enggak pernah teriak-teriak (emosi). Nonton tivi diem aja. Kadang nangis minta makan. Sekarang agak pelat (cadel), akhir-akhir ini," kata dia.

Pordan mengatakan anaknya pada saat itu ingin ditempatkan di salah satu rumah sakit jiwa. Namun dia mengurungkan niatnya. Salah satu yang menjadi pertimbangan adaalah pada saat itu pihak rumah sakit menyarankannya membeli alat bantu.

"Dulu pernah saya bawa ke rehab. Disarankan suruh beli alatnya. Alat bantunya Rp 4 juta. Tapi enggak punya uang. Cuma diobati aja gitu," ujar dia. Alat bantu yang dimaksud adalah kursi roda dan pijakan untuk berjalan.

Pordan mengaku tak menyanggupi membeli alat bantu itu. Profesinya hanya penjahit baju pesanan. Sedangkan istrinya hanya seorang buruh pabrik. Penghasilan Pordan dan istrinya hanya cukup untuk makan sehari-hari.

Lebih lanjut Pordan tampak emosi ketika dia mengetahui anaknya menjadi perbicangan di sosial media. Dari kabar yang viral itu, Pordan mengaku didatangi oleh pegawai Pemerintah Kabupaten Mojokerto dan kepolisian pada Minggu (10/2) kemarin.

Kondisi Meta. Foto: Dok pribadi/Titis Mega Ningtias

Dari kunjungan pemkab itu, Pordan awalnya dicurigai melakukan kekerasan terhadap Meta. Kecurigaan bertambah lantaran di wajah Meta tampak mengalami luka-luka.

"Dia (Meta) luka di jidat. Itu karena kadang-kadang tidur di bawah. Jadi kepentok pintu almari. Diatur-atur susah juga. Tidur di bawah pindahin ke atas nanti turun lagi," kata Pordan.

Pordan bahkan awalnya sempat kesal dengan teman sekolah Meta, Ratih (bukan nama sebenarnya), datang dan memfoto kondisi tragis anaknya itu. "Mungkin niatnya baik, tapi enggak izin saya. Viral di mana-mana," ujar dia.

Pascaviralnya kisah Meta, Pordan jadi lebih protektif. Setiap ada yang datang dan ingin melihat kondisi anaknya itu selalu ditanyakan secara detail. Termasuk saat kumparan ingin berbincang dengan Meta.

Protektifnya Pordan terhadap anaknya itu juga diakui oleh tetangga. Mari'ah (bukan nama sebenarnya), salah seorang tetangga, mengatakan Pordan kini melarang tetangganya datang untuk membesuk Meta.

"Dulu anaknya cantik, kulitnya kuning, agak gemukan sekarang kasihan," ujar Mari'ah. "Apalagi sejak ramai-ramai itu. Tetangga enggak boleh besuk, saya juga enggak enak sama orang tuanya." Rumah Mari'ah dan Pordan jaraknya hanya sepelemparan batu.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: web: