kumparan
10 Sep 2019 19:25 WIB

Menteri LHK: Kabut Asap Juga dari Serawak dan Semenanjung Malaya

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya Bakar menyampaikan materi pada rapat kerja dengan Komisi IV DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (24/6). Foto: ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto
Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar menegaskan Indonesia tidak menjadi salah satu penyebab kabut asap di negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Siti menjelaskan, Malaysia juga berperan dalam meningkatnya produksi kabut asap karena kebakaran hutan dan lahan di wilayahnya.
ADVERTISEMENT
Siti mengacu pada data BMKG, yang menunjukkan tingkat produksi kabut asap di Indonesia tidak sebanding dengan kabut yang berasal dari negara tetangga.
"Ada datanya ketika Malaysia mengatakan 'urge' Indonesia untuk menangani karhutla. Ini harus kita lihat datanya sejak tanggal 2 September 2019. Kita lihat tanggal 2 jam 23.00 sampai 03.00 dini hari, Riau kosong, enggak ada apa-apa. Tapi lihat Malaysia sudah ada kan (asapnya)," kata Siti sambil menunjukkan data BMKG di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (10/9).
Menara kembar Petronas diselimuti oleh kabut asap di Kuala Lumpur, Malaysia, Senin (9/9). Foto: REUTERS / Lim Huey Teng
"Tanggal 4 jam 23.50 WIB, lihat Riau masih kosong kan. Lihat ini Singapura, ini Malaysia, lihat Malaysia sudah banyak (kabut asap) kan. Oke, Kalimantan Barat memang naik sedikit, terus terang memang Kalbar naik, fluktuasinya cukup lumayan pertanda masyarakat buka lahan. Kemudian dia berhenti dan enggak ada apa-apa lagi," lanjutnya.
ADVERTISEMENT
Siti menyebut daerah di Malaysia yang berperan menghasilkan kabut asap yakni di wilayah Serawak dan Semenanjung. Sehingga, jika Malaysia mengirimkan protes pada Indonesia, ia menganggap tindakan itu tak tepat.
Warga beraktivitas dengan mengenakan masker di dekat menara kembar Petronas, Kuala Lumpur, Malaysia, Selasa (10/9/2019). Foto: ANTARA FOTO/Rafiuddin Abdul Rahman
"Ada informasi yang dia tidak buka. Karena sebetulnya asap yang masuk ke Malaysia, ke KL, itu dari Serawak kemudian dari Semenanjung Malaya. Dan juga mungkin sebagian dari Kalbar," ujarnya.
Untuk itu, Siti mengatakan, pihaknya akan mengirimkan surat penjelasan terkait kondisi kabut asap di wilayah-wilayah perbatasan itu.
"Saya akan menulis surat kepada Dubes untuk diteruskan kepada menterinya. Jadi saya kira supaya yang betul datanya. Karena apa? Karena pemerintah Indonesia betul, secara sistematis mencoba menyelesaikan ini dengan sebaik-baiknya," ujarnya.
Siti juga meluruskan isu yang beredar selama ini bahwa ada asap yang masuk ke Singapura dari Riau. Menurutnya, hal itu tak benar karena penanganan kabut asap di Riau sudah dilakukan dengan baik.
ADVERTISEMENT
"Enggak benar, ada dari Riau nyeberang ke Singapura. Itu enggak benar. Kenapa? Di Riau sudah turun (hotspot). Kita punya 46 helikopter yang bekerja di lapangan," tutup Siti.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga sebelumnya menyatakan kebakaran hutan per 7 September 2019 terpantau di perbatasan antara Kalimantan Barat dan Serawak-Malaysia.
"Di wilayah Singapura dan Semenanjung Malaysia tidak terdeteksi asap lintas batas," ucap Plt Kapusdatinmas BNPB, Agus Wibowo, Minggu (8/9).
Badan Meteorologi Malaysia menyatakan asap kebakaran hutan di Indonesia menyebabkan kabut di beberapa wilayah di Sarawak, seperti Kuching, Sri Aman, dan Samarahan.
Malaysia pun tidak tinggal diam. Mereka menyatakan siap membantu Indonesia untuk memadamkan kebakaran hutan dan berencana membuat hujan buatan.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan