kumparan
25 Mar 2019 6:01 WIB

MRT Akan Buat Rambu Peringatan Dilarang Makan di Stasiun

Warga menunggu keberangkatan kereta MRT di Stasiun MRT Bundaran HI, Jakarta, Minggu (24/3). Foto: ANTARA FOTO/Aprillio Akbar
Sejak diuji coba untuk publik pada 12 Maret 2019, masih banyak perilaku pengguna Moda Raya Terpadu (MRT) yang dianggap melanggar aturan. Mulai dari makan dan minum, buang sampah sembarangan, hingga bergelantungan di dalam gerbong kereta.
ADVERTISEMENT
PT Mass Rapid Transit (MRT) menyadari sikap masyarakat masih menjadi tantangan yang mereka hadapi. Karena itu, beberapa rencana sudah disiapkan untuk mengedukasi masyarakat agar bisa menjaga kenyamanan sesama pengguna dan punya rasa memiliki untuk moda transportasi massal ini.
Sekretaris Perusahaan PT MRT Jakarta, Muhamad Kamaluddin mengatakan, tindakan yang paling cepat dilakukan agar sikap pengguna MRT jadi lebih baik adalah menambah marka aturan.
"Tambahan marka, jadi setiap mata memandang akan ada markanya. Jadi tidak ada alasan tidak tahu (aturan)," kata Kamaluddin, Minggu (24/3).
Setelah adanya penambahan marka aturan secara masif berlangsung, Kamaluddin menyatakan, petugas MRT juga akan bertindak lebih tegas. Pengguna yang masih melanggar aturan bisa saja diminta keluar dari rangkaian kereta dan keluar dari stasiun.
ADVERTISEMENT
Kereta MRT memasuki Stasiun Bundaran HI, Jakarta, Selasa (12/3). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
Selain tindakan tegas, upaya edukasi secara persuasif juga bakal terus berjalan. PT MRT bakal berinteraksi dengan warga untuk mengajarkan perubahan sikap agar sarana transportasi ini bisa terjaga dengan baik.
"Terutama di Stasiun Dukuh Atas, kita jalan terus programnya baik talkshow atau aktivitas dengan warga untuk contohkan perilaku yang baik," ujar Kamaluddin.
Pemberian penghargaan untuk pengguna yang dianggap bisa menjadi contoh untuk pengguna MRT lain ikut pula dilakukan. Bahkan, kata Kamaluddin, saat ini sedang berlangsung sayembara berhadiah soal upaya menjaga MRT.
Terakhir, Kamaluddin menyatakan, PT MRT akan melibatkan akademisi untuk mempelajari perilaku masyarakat agar upaya menjaga moda transportasi bisa berjalan maksimal.
"Kami akan evaluasi dengan pakar sosiologi," ucap Kamaluddin.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan